Perjalanan Seorang Ibu dalam 5 Tahun

Selasa, 02 Desember 2025. Hari ini adalah hari istimewa bagi seorang ibu. Lima tahun yang lalu, tepatnya pada 2 Desember 2020, ia resmi menjadi seorang ibu. Saat itu, wabah virus corona sedang melanda dengan intensitas tinggi. Banyak daerah melakukan lockdown, banyak orang kehilangan pekerjaan, bisnis bangkrut, dan tempat usaha sepi. Namun di tengah situasi sulit tersebut, ada seorang ibu muda berusia 27 tahun yang sedang hamil tua dan berjuang untuk melahirkan anaknya.
Pemeriksaan kesehatan saat itu belum sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Harga tes PCR mandiri mencapai 900 ribu rupiah. Karena suami memiliki gejala mirip virus corona, hasilnya akhirnya negatif. Saat itu, pertama kalinya ia masuk ruang operasi, bukan sebagai tenaga medis, tetapi sebagai pasien. Suasana dingin seperti biasanya, tapi yang berada di tengah adalah dirinya sendiri. Aturan di ruang operasi sangat ketat, tidak boleh ditemani siapa pun selain petugas medis dan perawat. Jadi, ia harus menjalani operasi secara sendirian, satu lawan satu. Ia pasrah, namun juga penuh harap dan cemas sambil berdoa agar persalinan melalui operasi caesar berjalan lancar.
Siang itu, tangisan bayi terdengar keras dan lantang. Dokter mengatakan, “Perempuan bu, lengkap!” Nafasnya terasa lega sambil bersyukur. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Anak pertamaku lahir sehat dan selamat. Beratnya 3600 gram, panjangnya 46 cm. Rambutnya lebat, matanya sipit, dan kulitnya putih. Saat melihat wajah anakku untuk pertama kalinya, aku merasa seperti menghadapi pasien bayi yang lucu. Namun otakku langsung menegur, “Hehh, ini anakmu sendiri!”
Dari situ, rasa sayang seorang ibu mulai muncul. Menatap wajah berseri dan mata berbinar dari bayi yang baru saja lahir. Kami mengenakan gelang pink yang sama, tanda bahwa kami masih dalam masa rawat inap di rumah sakit tersebut. Sejak saat itu, aku resmi menjadi ibu dari anak perempuan yang kami beri nama Adinda Namira Putri Shaqeena. Nama itu memiliki makna: “Adinda” berarti anak perempuan kesayangan, “Namira” berasal dari Mubin Rinta, dan “Shaqeena” artinya membawa ketenangan.
Perjalanan menjadi seorang ibu dimulai. Menyusui, begadang, dan menggendong menjadi rutinitas yang harus ku hadapi. Menjadi ibu baru memang tidak mudah. Ada risiko stres, tetapi dukungan dari orang tua dan suami membuatku bisa meredam semua rasa tersebut. Dengan dukungan mereka, aku bisa istirahat dan merasa didukung dalam mengurus bayi.
Kala Adinda sedang rewel atau mengalami growth spurt pada usia 3 bulan, setiap malam ia menangis dan tidak mau tidur. Kami bergantian mengayunnya hingga ia bisa terlelap. Waktu berlalu, dan kini Adinda sudah berusia 5 tahun. Ia memiliki dua adik kembar yang usianya 3 tahun dan sudah bersekolah TK A. MasyaAllah, senang sekali rasanya melihat tumbuh kembang anak pertamaku.
Meski dalam perjalanannya, aku merasa kurang penuh menyayangi anak pertamaku karena sebelum usianya genap 2 tahun, ia sudah memiliki dua adik. Bayangkan betapa repotnya aku. Memiliki anak pertama yang memasuki masa toddler, lalu memiliki dua bayi merah yang harus diatur grafik berat badannya sesuai rekomendasi dokter spesialis anak.
Hari ini, Adinda sudah berusia 5 tahun. Ia sudah bisa banyak hal. Mulai dari mengaji sampai iqro 2, membaca sholat walau masih belajar, beberapa doa, nyanyi lagu anak, dan memainkan gadget dengan cara sederhana. Tadi di sekolah, Adinda membawakan camilan sederhana untuk teman-temannya, seperti coklat, buah pisang, dan jeruk.
Di rumah, Adinda dibawakan kue ulang tahun oleh ayahnya. Bersama adik-adiknya, mereka berdoa sederhana, meniup lilin, dan foto bersama. Lalu, mereka membagikan beberapa makan malam ke tetangga sekitar rumah dan camilan.
Sambil jalan, aku bertanya pada Adinda, “Kakak senang tidak ulang tahun sudah berbagi?” Jawabnya, “Kakak Ceneng!” Ucapnya sambil tersenyum, mengatakan ia senang sudah berbagi.
Terakhir, aku mengucapkan perlahan pada Adinda karena ia sedang belajar kosakata yang tidak terlalu rumit. “Kakak Selamat Ulang Tahun ke 5 ya. Semoga makin pintar, panjang umur, jadi anak shalihah, sayang adik-adik, sayang Ayah, sayang Mama. Jadi anak yang berguna dan berbakti pada orangtua, Nusa, Bangsa dan Agama.” Sampai selesai, matanya tidak fokus lagi ke Mama, malah kemana-mana lagi.
Jawaban dari Adinda, “Aamiin. Terima Kasih, Mama.” Ia mengucapkan sambil memelukku, lalu aku sambut dengan mencium pipi kirinya dan kanannya.
Tulisan ini akan menjadi pengingat bahwa kami memperingati hari lahir anak kami dengan suka cita, karena anak pertama ini adalah anak yang kami nantikan sebagai pasangan baru kala itu. Kelak, Adinda akan membaca tulisan ini dengan senyum sumringah, “Iya kan Nak?”
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar