Perbedaan Pernikahan Adat Jawa di Solo dan Yogyakarta
Pernikahan adat Jawa di Solo dan Yogyakarta sering dianggap sama, padahal memiliki perbedaan filosofi, karakter, dan detail prosesi yang berakar dari dua keraton berbeda. Perbedaan ini terlihat dalam prosesi siraman, midodareni, panggih, hingga tradisi khas seperti dodol dawet di Solo dan beksan edan-edanan di Jogja.
Busana, tata rias, aksesoris, dekorasi, dan musik juga berbeda: Solo berkesan lembut dan sederhana, sedangkan Jogja menonjolkan kemegahan dan nuansa sakral.
Dua Kiblat Pernikahan Adat Jawa
Adat pernikahan Jawa terbagi dalam dua kiblat besar, yaitu gaya Keraton Surakarta dan gaya Keraton Yogyakarta. Keduanya lahir dari tradisi keraton yang sarat nilai filosofis dan spiritual, sekaligus mencerminkan cara pandang masing-masing keraton terhadap kehidupan, kesakralan, dan keharmonisan rumah tangga.
Pernikahan adat Jawa Solo dikenal dengan nuansa keanggunan, kelembutan, serta tata krama yang halus. Sementara itu, pernikahan adat Jawa Yogyakarta menonjolkan kesan megah, sakral, dan kebesaran kerajaan.
Perbedaan dalam Prosesi Siraman
Perbedaan sudah tampak sejak prosesi siraman. Dalam adat Keraton Surakarta, siraman dilakukan oleh sembilan orang. Angka sembilan melambangkan Wali Songo sebagai simbol manunggalnya budaya Jawa dan Islam, sekaligus pengendalian sembilan hawa nafsu (babahan hawa sanga).

Sebaliknya, adat Keraton Yogyakarta menggunakan tujuh orang dalam prosesi siraman. Angka tujuh memiliki makna pitulungan atau pertolongan, sebagai doa agar calon pengantin selalu mendapat perlindungan dan kemudahan dalam kehidupan rumah tangga.
Tradisi Khas Setelah Siraman
Dalam adat Jawa Solo, prosesi siraman dilanjutkan dengan upacara dodol dawet. Tradisi ini menjadi simbol harapan agar tamu undangan datang berbondong-bondong saat resepsi. Warna merah gula jawa melambangkan keberanian, sementara putih santan melambangkan kesucian serta pertemuan laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan.
Sementara itu, pernikahan adat Yogyakarta memiliki ciri khas berupa tarian beksan edan-edanan. Tarian ini tampak seperti gerakan orang gila, namun memiliki makna mendalam sebagai ritual tolak bala, untuk mengusir energi negatif yang dapat mengganggu jalannya prosesi panggih.
Perbedaan Malam Midodareni
Perbedaan mencolok lainnya terlihat saat malam midodareni. Dalam adat Jawa Solo, terdapat tradisi jual beli kembang mayang sebagai simbol kesiapan dan restu menjelang pernikahan. Adapun dalam adat Jawa Yogyakarta, kembang mayang telah dipersiapkan sejak sore hari sebelum malam midodareni, tanpa prosesi jual beli.
Perbedaan Saat Prosesi Panggih
Pada prosesi panggih atau temu manten, terdapat perbedaan dalam ritual lempar sirih. Dalam adat Jawa Solo, lempar sirih dilakukan satu kali. Sementara dalam adat Jawa Yogyakarta, mempelai pria melempar empat linting daun sirih dan mempelai wanita melempar tiga linting, yang masing-masing memiliki makna simbolis tentang keseimbangan, peran, dan tanggung jawab dalam rumah tangga.
Busana dan Tata Rias Pengantin
Busana pengantin menjadi pembeda yang sangat jelas. Pengantin adat Solo biasanya mengenakan kebaya bernuansa cokelat muda atau krem, dipadukan dengan batik motif Sidomukti atau Sidoluhur. Aksesorinya sederhana namun penuh makna filosofis.
Sebaliknya, pengantin adat Yogyakarta tampil lebih mencolok dengan kebaya berwarna gelap seperti hitam, dipadukan batik Parang Kusumo. Tata rias Jogja menggunakan paes hitam pekat di dahi sebagai simbol kebangsawanan dan kewibawaan.
Aksesoris dan Makna Filosofis
Aksesoris pengantin Solo cenderung minimalis, seperti cunduk mentul dan kalung sungsun, yang melambangkan kesetiaan, kesucian, dan keharmonisan. Sementara pengantin Jogja mengenakan paes ageng lengkap dengan siger dan perhiasan emas, melambangkan derajat, kemakmuran, serta doa untuk keturunan yang mulia.
Dekorasi dan Musik Pengiring
Dekorasi pernikahan adat Solo didominasi warna pastel lembut, dengan ornamen janur, melati, dan nuansa sederhana yang anggun. Musik gamelan Solo mengalun pelan, menciptakan suasana syahdu dan khidmat.
Sebaliknya, dekorasi adat Jogja lebih megah dengan warna emas, merah marun, dan hitam. Musik gamelan Jogja terdengar lebih kuat dan berwibawa, menegaskan kesan kebesaran keraton.
Menentukan Pilihan Adat Pernikahan
Baik pernikahan adat Jawa Solo maupun Yogyakarta sama-sama sarat makna, doa, dan nilai luhur. Perbedaan keduanya bukan soal mana yang lebih baik, melainkan tentang selera, filosofi hidup, serta nilai budaya yang ingin ditonjolkan oleh calon pengantin. Dengan memahami perbedaan ini, calon pengantin dapat menentukan konsep pernikahan adat Jawa yang paling sesuai dengan karakter dan harapan mereka dalam membangun rumah tangga.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar