Perdana! Museum Nasional Korea Hadirkan Pameran Seni Islam

Pameran Seni Islam yang Menarik Perhatian

Museum Nasional Korea kini menyelenggarakan pameran seni Islam yang akan berlangsung hingga 11 Oktober 2026. Program jangka panjang ini bekerja sama dengan Museum of Islamic Art (MIA) Doha, Qatar dan bertajuk Islamic Art: A Journey of Splendor. Pameran ini menelusuri evolusi ekspresi artistik di berbagai wilayah, mulai dari Spanyol hingga Tiongkok, serta menyoroti jaringan budaya, pencapaian ilmiah, dan bahasa estetika yang membentuk produksi seni di seluruh dunia Islam.

Pameran ini memiliki tujuan untuk memperkenalkan seni Islam kepada masyarakat Korea Selatan. Berikut adalah informasi mengenai penampakan koleksi yang dipamerkan:

Pameran 80 Karya Seni


Lebih dari 80 karya seni dipamerkan dalam satu ruang, menghadirkan peta perjalanan 1.400 tahun kreativitas dunia Islam. Koleksi ini bukan hanya menekankan keindahan visual, tetapi juga menunjukkan bagaimana seni, ilmu pengetahuan, dan perdagangan saling berkaitan dalam membentuk warisan budaya yang kaya.

Salah satu sorotan pameran adalah manuskrip Al-Qur’an langka yang menampilkan evolusi gaya kaligrafi, mulai dari huruf Kufik awal di atas perkamen, hingga halaman-halaman belakangan yang dipenuhi ornamen vegetal dan motif geometris rumit. Perjalanan visual ini menawarkan gambaran bagaimana estetika religius berkembang seiring zaman, sekaligus mencerminkan inovasi teknis para penyalin naskah.

Tak kalah menarik, rangkaian karya keramik dan kaca menunjukkan kemajuan teknologi yang lahir dari bengkel-bengkel Suriah dan Mesir. Keramik bersinar dengan teknik lustreware dan dekorasi underglaze, sementara objek kaca menggambarkan kecanggihan teknik email dan gilding yang mencapai puncaknya pada periode dinasti klasik.

Bagian tekstil memotret dinamika budaya melalui fragmen bordir dan panel sutra, menandai pergerakan motif dan teknik di sepanjang jalur perdagangan Asia Tengah, Teluk, hingga Mediterania. Di sisi lain, instrumen ilmiah seperti astrolabe menegaskan peran penting pertukaran intelektual antara para ilmuwan di kota-kota besar. Koleksi ditutup dengan deretan objek istana, mulai dari logam berpermata hingga kuningan berinlay, yang menghadirkan kembali kemewahan patronase kerajaan dan standar estetika elite pada masanya.

Pameran ini bukan sekadar menampilkan benda-benda indah, namun merangkainya sebagai bukti bagaimana inovasi, spiritualitas, dan kosmopolitanisme telah menjadi landasan peradaban Islam selama lebih dari satu milenium.

Terbagi Menjadi Tiga Bagian Utama


Pameran ini disusun dalam tiga bagian utama yang mengajak pengunjung menelusuri dimensi spiritual, intelektual, hingga sosial dari seni Islam.

Bagian pertama menyoroti fondasi spiritual yang membentuk estetika dan fungsi objek seni. Koleksi ini melibatkan manuskrip sakral, elemen arsitektur, dan objek devosional. Dari kaligrafi hingga ornamen masjid, segmen ini menegaskan bagaimana seni menjadi medium untuk mengekspresikan iman sekaligus membangun ruang kontemplasi.

Bagian kedua memeriksa ekspansi budaya Islam melalui jalur perdagangan, kegiatan penerjemahan, dan sirkulasi gagasan artistik yang lintas wilayah. Objek-objek di sini mengilustrasikan bagaimana desain, motif, dan teknologi bergerak dari satu kota ke kota lain, memicu inovasi visual dan membentuk bahasa estetika global yang terus berevolusi.

Memasuki bagian ketiga, pameran berfokus pada tradisi istana, menampilkan manuskrip, objek mewah, dan lukisan naratif yang mencerminkan selera, kebiasaan, dan eksperimen artistik kalangan elite. Setiap karya menjadi jejak bagaimana patronase kerajaan mendorong lahirnya inovasi dan gaya baru.

Pengalaman ditutup dengan instalasi berupa rekonstruksi digital ruang resepsi Damaskus tahun 1817 yang dibuat oleh MIA. Pengunjung dapat melangkah masuk ke interior domestik bersejarah, lengkap dengan panel kayu berlukis dan motif geometris yang merepresentasikan keanggunan rumah bangsawan Levant pada awal abad ke-19.

Kolaborasi Qatar dan Korea Selatan


Islamic Art: A Journey of Splendor dikurasi oleh Dr. Mounia Chekhab Abudaya (MIA) bersama tiga kurator dari Museum Nasional Korea, yaitu Kangmi Kwon, Hyeeun Kwon, dan Youngwoo Kwon. Pameran ini tidak sekadar menyatukan objek seni, tetapi merayakan bahasa universal dari keterampilan, tulisan, dan ingatan kolektif.

Di balik presentasinya, ada agenda yang lebih besar dari pameran ini, yaitu membangun percakapan global melalui seni. Qatar Museums menempatkan pameran ini dalam payung Years of Culture, sebuah upaya diplomasi budaya yang menegaskan bahwa pertukaran kreativitas bisa menjadi cara paling halus untuk memahami dunia.

Hadir pula dalam rangkaian Evolution Nation, program 18 bulan dari Qatar Creates yang meninjau ulang perjalanan budaya Qatar. Alih-alih nostalgia, pameran ini memilih untuk berbicara tentang warisan sebagai ruang pertemuan, tempat nilai artistik dari berbagai peradaban dapat berdialog setara.

Jika kamu punya agenda liburan ke Korea Selatan, jangan lupa mampir dan berkunjung ke pameran ini, ya!

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan