
BMKG telah mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem dan potensi banjir pesisir (rob) di wilayah Kepulauan Riau (Kepri), yang berlaku mulai tanggal 1 hingga 9 Januari 2026. Peringatan ini disampaikan sebagai upaya untuk memastikan keselamatan masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah pesisir dan melakukan aktivitas di laut.
Cuaca buruk di perairan Kepri dapat menyebabkan kecelakaan laut serta gangguan dalam aktivitas pelayaran. Hal ini juga menjadi pelajaran dari insiden Speedboat Srikandi Express yang terjadi di perairan Karimun. Masyarakat, terutama yang beraktivitas di laut, diimbau untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan.
Menurut BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, potensi banjir rob dipengaruhi oleh dua fenomena astronomi, yaitu fase perigee pada 2 Januari 2026 dan fase bulan purnama pada 3 Januari 2026. Kedua fenomena ini dapat meningkatkan ketinggian permukaan air laut secara signifikan.
“Fase perigee dan bulan purnama memiliki potensi untuk meningkatkan ketinggian air laut maksimum. Oleh karena itu, masyarakat pesisir diimbau untuk waspada terhadap ancaman banjir rob selama periode 1 hingga 9 Januari 2026,” ujar Fitri Anisa, prakirawan BMKG Hang Nadim Batam, pada Rabu (31/12/2025).
Wilayah Pesisir Kepri yang Berpotensi Terdampak Banjir Rob
BMKG mencatat beberapa wilayah pesisir di Kepulauan Riau yang rentan terkena dampak banjir rob, antara lain:
- Kota Batam
- Kecamatan Batuaji
- Batu Ampar
- Sekupang
- Nongsa
-
dan sekitarnya
-
Kabupaten Lingga
- Kecamatan Singkep Barat
- Singkep Pesisir
- Senayang
-
dan sekitarnya
-
Kabupaten Karimun
- Kecamatan Kundur Barat
- Karimun
-
Meral
-
Kabupaten Bintan
- Kecamatan Bintan Utara
- Teluk Sebong
-
Bintan Timur
-
Kota Tanjungpinang
- Kecamatan Tanjungpinang Kota
- Tanjungpinang Barat
- Bukit Bestari
- dan sekitarnya
Dampak Banjir Rob dan Imbauan BMKG
Fitri Anisa menjelaskan bahwa banjir pesisir atau rob dapat mengganggu berbagai aktivitas masyarakat, khususnya di wilayah pesisir dan pelabuhan. Beberapa dampak yang mungkin terjadi meliputi:
- Terganggunya aktivitas bongkar muat di pelabuhan
- Gangguan terhadap aktivitas masyarakat di permukiman pesisir
- Gangguan terhadap kegiatan tambak garam dan perikanan darat
BMKG mengimbau masyarakat pesisir, nelayan, serta pengguna transportasi laut untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi terhadap dampak cuaca ekstrem dan banjir rob.
“Kami mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG agar memperoleh pembaruan terkait kondisi cuaca dan pasang surut air laut di wilayah Kepulauan Riau,” tutup Fitri.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar