Peringatan HAM Sedunia: Memperkuat Fondasi Hak Asasi dalam Keragaman Menuju Indonesia Emas

Peringatan HAM Sedunia: Memperkuat Fondasi Hak Asasi dalam Keragaman Menuju Indonesia Emas

Peringatan Hari HAM Tahun 2025 dengan Tema “Penguatan Fondasi Pembangunan HAM dalam Keberagaman Menuju Indonesia Emas 2045”

Peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) tahun ini mengusung tema penting yang menunjukkan komitmen bangsa Indonesia dalam memperkuat fondasi HAM di tengah keberagaman. Tema tersebut menjadi dasar dari berbagai upaya dan langkah strategis yang dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi, S.Si., M.M (Kang Akur), hadir dalam acara puncak peringatan Hari HAM Sedunia Tahun 2025 yang digelar di Tenis Indoor Senayan, Jakarta Selatan, pada Rabu, 10 Desember 2025. Acara ini menjadi momen penting bagi para tokoh, aktivis, dan lembaga yang peduli terhadap isu-isu HAM di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam sambutannya, Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Natalius Pigai, menyampaikan pesan kuat tentang nilai-nilai HAM sebagai aset terpenting yang dimiliki setiap manusia. Ia menekankan bahwa HAM bukan hanya sekadar prinsip hukum, tetapi juga menjadi landasan moral dan etika yang harus dipertahankan oleh seluruh bangsa.

“HAM itu adalah aset, intangible termahal di dunia yang hari ini kita miliki. Saya hadir bertepuk tangan pertama ketika di UN General Assembly di New York, Presiden Prabowo menyatakan dukungannya terhadap bangsa Palestina, semua itu karena human rights,” ujar Pigai.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan internasional terhadap perjuangan bangsa-bangsa yang sedang melawan pelanggaran HAM. Salah satu contohnya adalah dukungan terhadap bangsa Palestina, yang menunjukkan bahwa HAM tidak hanya menjadi isu domestik, tetapi juga menjadi prioritas global.

Langkah Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

Pigai menegaskan bahwa lima tahun ke depan merupakan periode krusial dalam memperkuat pondasi HAM di Indonesia. Ia menyarankan agar pemerintah dan masyarakat bersama-sama melakukan beberapa langkah strategis:

  • Mengembalikan hal-hal yang rusak: Melalui proses pemulihan dan perbaikan sistem HAM yang telah terganggu.
  • Mempertahankan hal-hal yang baik: Menjaga konsistensi dalam menjalankan prinsip-prinsip HAM yang sudah diterapkan.
  • Membangun hal-hal yang belum ada: Memastikan bahwa semua aspek HAM dapat diakses oleh seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali.

Selain itu, Pigai juga menyebutkan rencana akselerasi menuju 2034, yaitu tahap di mana Indonesia akan memperkuat pengaruhnya dalam wilayah regional. Setelah itu, lima tahun terakhir akan menjadi masa di mana Indonesia berada di posisi kepemimpinan dalam isu HAM di tingkat dunia.

Pentingnya Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat

Selain dari pihak pemerintah, partisipasi aktif masyarakat juga sangat penting dalam membangun kesadaran akan HAM. Pigai menekankan bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga hak asasi manusia, baik dalam lingkungan sekitar maupun di tingkat nasional.

Dengan tema yang diusung, acara peringatan Hari HAM tahun ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi, tetapi juga menjadi momentum untuk merancang langkah-langkah nyata dalam memperkuat fondasi HAM. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi internasional, harapan besar dapat tercapai untuk mewujudkan Indonesia yang lebih adil, aman, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan