Perjalanan 28 Jam untuk Menembus Isolasi Wilayah Terdampak Bencana
SUMATERA UTARA, berita
Akses jalur darat dari kawasan ibu kota Sumatera Utara, Kota Medan, menuju titik bencana banjir bandang dan tanah longsor menjadi tantangan tersendiri bagi relawan, penyalur bantuan, hingga jurnalis yang ingin meliput langsung di lokasi.
Perjalanan darat dari Medan menuju Sibolga, Sumatera Utara, yang biasanya ditempuh dalam waktu 8 hingga 10 jam, berubah menjadi perjuangan panjang yang melelahkan.
Pasalnya, bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang kawasan Tapanuli Raya dan kawasan sekitarnya mengubah jalur lintas Sumatera menjadi medan yang sulit dilalui.
Tim beritamerasakan langsung betapa sulitnya menembus isolasi wilayah yang terdampak bencana saat meliput langsung di lokasi sejak Selasa (2/12/2025) lalu. Berangkat dari kawasan Bandara Kualanamu pada Selasa sekitar pukul 18.00 WIB, tim baru berhasil tiba di Kota Sibolga pada Rabu (3/12/2025) keesokan harinya pukul 22.00 WIB. Total waktu tempuh mencapai 28 jam, menyusuri jalanan yang gelap, terjal, dan diwarnai krisis bahan bakar di sepanjang perjalanan.
Krisis BBM yang Menghambat Perjalanan
Tantangan pertama langsung tersaji saat roda kendaraan yang ditumpangi tim beritamulai berputar meninggalkan kawasan Bandara Kualanamu, Deli Serdang. Pemandangan antrean kendaraan yang mengular mengisi BBM di SPBU menjadi sajian pembuka, padahal kawasan ini merupakan area strategis obyek vital nasional.
Tak jauh dari sana, terlihat banjir masih merendam permukiman dan perkebunan warga di sisi kiri-kanan jalan. Kondisi krisis bahan bakar ini semakin parah saat tim memasuki kota-kota utama di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), termasuk ibu kota Medan. Hampir seluruh SPBU yang dilewati tim beritadi sepanjang Kota Medan mengalami krisis pasokan yang menyebabkan antrean mengular.
Jejak bencana juga terlihat di kawasan jalan tol Medan-Siantar, di mana akses dari arah Pematangsiantar menuju Medan terputus mulai dari KM 41 karena jalanan yang rusak dan patah akibat longsor. Saat memasuki Kota Pematangsiantar dan wilayah Tapanuli Tengah, tim beritasempat mengalami kesulitan parah untuk mendapatkan stok BBM. Beberapa SPBU memasang plang "Bensin Habis", memaksa kami berputar-putar mencari stasiun pengisian yang masih beroperasi.
Ketika akhirnya menemukan SPBU yang memiliki stok, perjuangan pun belum usai. Kami harus ikut dalam antrean panjang yang nyaris tak bergerak. Lebih dari satu jam waktu habis hanya untuk menunggu giliran mengisi tangki bahan bakar. Antrean selama satu jam itu sebenarnya tergolong singkat, mengingat banyak kendaraan di SPBU lainnya bisa mengantre selama tiga hingga enam jam, karena harus menunggu kedatangan stok BBM.
Pemandangan serupa terlihat di sepanjang jalur mulai dari Tapanuli Utara hingga Tapanuli Tengah. Mobil-mobil pribadi hingga truk logistik tampak ditinggalkan begitu saja oleh pengemudinya di jalur antrean SPBU. Kekosongan stok membuat kendaraan-kendaraan itu seperti mati tak bertuan, menunggu pasokan yang entah kapan datang.
Jejak "Gunung Botak" dan Isolasi di Onan Ganjang
Memasuki Kecamatan Onan Ganjang, Kabupaten Humbang Hasundutan, suasana berubah drastis. Jalur yang biasanya menyuguhkan pemandangan hijau pegunungan Bukit Barisan kini terlihat penuh bekas luka. Jejak tanah longsor terlihat di titik-titik hampir setiap 500 meter. Jalur longsoran tanah berwarna coklat pekat membelah perbukitan, membuat pegunungan terlihat "membotak".
Pohon-pohon tumbang dan tiang listrik berdiri miringbeberapa bahkan nyaris roboh ke jalan. Di lahan-lahan sawit, tak ada lagi pelepah hijau daun yang melambai. Gelondongan kayu besar berserakan di atas lumpur, sebagai jejak dari banjir bandang yang menyapu segalanya yang diterjang.
Sejak titik ini, tim beritabenar-benar terisolasi. Tidak ada sinyal komunikasi, dan aliran listrik terputus total. Rumah-rumah warga gelap gulita, warung-warung tutup, dan gerai ritel modern pun tak bisa beroperasi. Ruas jalan yang sempit di tepi jurang pun hanya bisa digunakan satu kendaraan karena tertutup oleh gunungan bekas tanah longsor di sejumlah titik. Sementara, pohon tumbang juga menutup satu-satunya akses jalur darat yang masih terbuka saat itu.
Warga dan petugas pun menggergaji sisa batang yang menghalangi jalan agar bisa kembali dilintasi mobil. Namun, di tengah keadaan mencekam itu, semangat hidup masih terlihat. Pagi harinya anak-anak sekolah berseragam lengkap tetap berjalan kaki menembus jalanan berlumpur menuju sekolah mereka, meski tanpa listrik.
Petugas PLN Kelaparan di Tengah Hutan
Memasuki wilayah Tapanuli Tengah, medan menjadi semakin terjal dan berat. Akses jalan lintas yang menghubungkan Humbang Hasundutan menuju pesisir barat Sumatera menyempit drastis. Mobil hanya bisa melintas dari satu arah karena sisa tanah longsor dan pohon tumbang memakan separuh badan jalan. Di sisi kiri, gundukan tanah bekas longsoran yang baru saja disingkirkan alat berat menumpuk tinggi, menciptakan lorong sempit yang mencekam.
Kondisi ini terjadi sepanjang kurang lebih 3 kilometer, membuat kendaraan harus berjalan pelan dan mengantre bergantian. Kemacetan panjang pun mewarnai perjalanan selama berjam-jam akibat kondisi jalanan yang masih sulit dilalui ini. Di tengah perjalanan, tim beritasempat dihentikan oleh rombongan petugas PLN. Bukan untuk memeriksa, mereka justru meminta air dan makanan. Perbekalan mereka habis saat bertaruh nyawa memulihkan tiang-tiang listrik di tengah hutan, tanpa ada warung yang buka untuk membeli logistik.
Terjebak Longsor di Sijungkang
Hambatan terbesar terjadi di Desa Sijungkang, Kecamatan Andam Dewi, Tapanuli Tengah. Laju kendaraan kami terhenti total selama lebih dari satu jam. Hujan deras yang mengguyur malam sebelumnya memicu longsor susulan, menutup satu-satunya akses jalan yang terbuka menuju Sibolga via jalur pantai barat, Kota Barus.
Saat tim beritaterjebak di tengah mengularnya kemacetan, ternyata warga setempat sedang bergotong royong dengan peralatan seadanya, membersihkan material tanah dan memberlakukan sistem buka-tutup jalur agar kendaraan melintas, meski harus merayap pelan. Kondisi lebih memilukan terlihat saat tim tiba di Kota Barus. Kota bersejarah di pesisir pantai yang biasanya menyajikan pemandangan indah, kini luluh lantak tersapu banjir bandang. Puing-puing rumah yang tersapu banjir menjadi pemandangan dominan. Daratan pantai indah yang biasanya menjadi daya tarik wisatawan, kini mati dan tak terlihat adanya aktivitas sama sekali di sana.
Tim beritabahkan kesulitan menemukan tempat untuk menepi dan mencari warung makan karena kelangkaan gas elpiji dan ketiadaan listrik yang melumpuhkan ekonomi warga.
Sibolga yang Mencekam
Setelah berjuang melewati jalur pesisir dan menempuh perjalanan puluhan jam, tim beritaakhirnya tiba di Kota Sibolga pada Rabu malam sekitar pukul 21.00 WIB. Namun, rasa lega belum bisa dirasakan sepenuhnya. Kondisi kota yang gelap gulita menyambut kedatangan kami di kota yang kini berduka usai disapu banjir bandang dan longsor tersebut.
Material dan gunungan tanah terlihat berada di sisi jalan raya, berdampingan dengan perabotan milik warga seperti kursi, kasur, hingga lemari yang diletakkan di luar rumah. Rumah-rumah warga hanya diterangi nyala lilin, sementara anak-anak mandi di sisi jalan, menggunakan kucuran air dari sumber air di gunung yang kerap mereka sebut sebagai "Pancuran". Bahkan setelah tiba di dalam kota, tim masih kesulitan mencari akses jalanan yang terbuka untuk mencapai lokasi tujuan, yakni posko pengungsian.
Sejumlah infrastruktur vital seperti jalan raya dan jembatan penghubung antarkota masih mengalami kerusakan parah. Termasuk Jembatan Pandan, akses utama yang menghubungkan Sibolga dengan kawasan Tapanuli Tengah, lokasi awal tujuan tim beritayang ternyata masih terputus dan belum bisa dilintasi menggunakan kendaraan roda empat. Kondisi ini tak hanya terjadi di pusat Kota Sibolga. Kawasan lain, seperti Tapanuli Tengah dan sejumlah desa yang terdampak longsor, juga tak bisa diakses menggunakan kendaraan.
Untuk meliput langsung dari lokasi titik bencana, tim beritayang bergerak bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) harus menempuh perjalanan menggunakan kendaraan roda dua dan bahkan berjalan kaki, demi bisa menembus titik-titik yang masih terisolir selama proses peliputan. Perjalanan 28 jam ini pun menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya dampak bencana banjir bandang dan longsor yang mengepung warga Sumatera Utara, menciptakan kondisi mencekam yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar