Perjalanan Inspiratif Anggi Wahyuda: Dari Keterbatasan Menjadi Inspirasi
Anggi Wahyuda adalah seorang penyandang disabilitas yang aktif dalam berbagai bidang seperti pendakian gunung, komika (stand-up comedy), dan kreator konten. Ia dikenal sebagai sosok yang menginspirasi banyak orang dengan semangat dan ketangguhannya dalam menghadapi tantangan hidup.
Awal Perjalanan dan Tantangan
Anggi tampil sebagai komika pada acara Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Dukbangga)/Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Jakarta Selatan. Acara ini dihadiri sekitar 200 orang termasuk Menteri Dukbangga/Kepala BKKBN Wihaji, sejumlah pengusaha nasional, kepala daerah, dan rektor perguruan tinggi.
Selama 11 menit, Anggi membagikan leluconnya yang berasal dari pengalamannya sebagai penyandang disabilitas. Ia menjelaskan bahwa bullying dan perlakuan tidak mengenakkan tidak membuatnya meratapi nasib. Justru, ia bangkit dan bersemangat untuk menginspirasi orang lain.

Bangkit dari Bullying dan Depresi
Anggi mengaku pernah mengalami depresi selama tiga tahun setelah kecelakaan yang menyebabkan amputasi kaki kanannya. Namun, ia tidak menyerah. Ia bergabung dengan komunitas Genre (Generasi Berencana), sebuah program Kementerian Dukbangga/BKKBN yang bertujuan untuk membantu remaja disabilitas.
Melalui komunitas ini, Anggi mendapatkan bekal berbicara di depan umum dan belajar menjadi komika. Ia bahkan berhasil mencatatkan lima rekor terbaik disabilitas di Indonesia, termasuk menjadi orang disabilitas pertama yang mampu naik dan turun Gunung Rinjani dalam waktu 14 jam.

Prestasi dan Rekor yang Membanggakan
Anggi juga aktif dalam gerakan sosial "Satu Langkah Lagi" untuk menginspirasi masyarakat. Ia percaya bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencapai mimpi. "Saya tidak kuat, saya benci kata menyerah," ujarnya.
Ia telah mendaki lebih dari 30 gunung di dalam dan luar negeri, termasuk Gunung Everest di Nepal. Pada 26 Mei 2025, ia berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di base camp Gunung Everest yang berada di ketinggian 5.364 meter di atas permukaan laut.
Pada Juni 2026, Anggi akan menjadwalkan pendakian Gunung Kilimanjaro setinggi 5.895 meter di Tanzania, Afrika Timur.
Hobi Mendaki Gunung dan Bukti Ketangguhan
Mendaki gunung bagi Anggi adalah wujud tekadnya untuk membuktikan bahwa ia bisa melakukan hal-hal besar meski memiliki keterbatasan fisik. Ia kerap membagikan aktivitasnya melalui akun media sosial Instagram @anggiwahyuda.
Setiap kali mendaki, ia ingin memberi contoh nyata kepada masyarakat bahwa keterbatasan bukanlah hambatan. Ia percaya bahwa dengan tekad dan semangat, semua orang bisa meraih mimpi.
Kisah Kecelakaan dan Awal Disabilitas
Anggi mengalami luka parah dalam kecelakaan lalu lintas di Kota Binjai, Sumatera Utara, pada tahun 2015. Saat itu, ia sedang mengendarai sepeda motor dan ditabrak truk tangki. Akibatnya, kaki kanannya diamputasi di atas lutut.
Kecelakaan ini mengubah hidup Anggi. Namun, ia tidak menyerah. Ia berjuang untuk bangkit dan mengubah keterbatasan menjadi kesempatan untuk berkarya dan menginspirasi orang lain.
Peran dalam Gerakan Pencegahan Stunting
Genting atau Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting merupakan program pemerintah Indonesia melalui Kemendukbangga/BKKBN. Tujuan utamanya adalah mencegah stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis.
Program ini melibatkan masyarakat, BUMN, swasta, dan LSM sebagai orang tua asuh untuk intervensi langsung ke keluarga berisiko stunting. Fokusnya adalah memberi nutrisi, sanitasi, dan edukasi untuk ibu hamil, menyusui, dan anak usia 0-23 bulan.
Proses Berdamai dengan Diri Sendiri
Mengalami situasi luka parah dan kehilangan kaki kanan tentu bukan hal mudah. Emosi dan kejiwaan Anggi sempat terguncang. Ia mengalami depresi selama tiga tahun karena ketinggalan pelajaran dan kehilangan teman-teman.
Namun, ia menemukan cara mengatasi depresi dengan bergabung dalam komunitas Genre. Latihan public speaking di komunitas ini membuatnya lebih berani tampil di depan umum dan belajar stand-up comedy.
Menghadapi Bullying dengan Mental Kuat
Bullying yang dialami Anggi kadang membuat mentalnya jatuh. Ia pernah mendapat komentar nyinyir di media sosial, seperti "itu foto editan ya?" Namun, ia mengatasi dengan kemampuan dan rasa percaya diri.
"Kalau seseorang tidak mempunyai kemampuan mental dan rasa percaya diri, tidak ada yang bisa dibanggakan, maka tidak mungkin bangkit dari bullying. Ketika aku memiliki satu kemampuan dan kebanggaan, maka bullying itu anggap angin lalu saja," ujar Anggi.
Profil Singkat
- Nama: Anggi Wahyuda
- Anak ke: 3 (bungsu) dari bersaudara
- Ayah: Muhammad Yamin
- Ibu: Sofia
- Pendidikan: Sarjana Ekonomi (Syariah) dari STAI Al-Ishlahiyah Binjai
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar