
Pengalaman Mudik 24 Jam yang Penuh Tantangan dan Kebersamaan
Mudik, atau pulang kampung, adalah tradisi tahunan yang selalu dinanti oleh banyak orang. Meski jarak dan perbedaan budaya mungkin terasa jauh, kampung halaman tetap menjadi tempat yang penuh makna. Ada suasana khas, kebersamaan dengan orang-orang tercinta, makanan lezat, dan tradisi yang membangkitkan rindu.
Kami, seorang pasangan suami istri yang menetap di Jawa Tengah, memiliki pengalaman unik dalam mudik kali ini. Kami menikahi seseorang dari Batak, sehingga setiap kali mudik, kami harus merencanakan perjalanan yang cukup panjang. Dulu, saat masih pacaran dan belum punya anak, biaya mudik terasa ringan. Kini, setelah memiliki satu anak, segalanya berubah. Anak sudah bayar tiket penuh, tidak ada lagi diskon "imut" seperti dulu.
Mudik terakhir kami terjadi pada 2023 ketika menghadiri pernikahan adik. Kali ini, kami hanya bisa mudik lagi pada 2025 setelah melalui pertimbangan matang. Perbaikan dapur yang menguras tabungan dan acara keluarga di Tangerang membuat rencana mudik ke Medan sangat mahal. Dibutuhkan minimal sepuluh juta rupiah untuk biaya perjalanan. Pertanyaannya, uangnya dari mana?
Strategi Menghemat Biaya dengan Transportasi Darat dan Udara
Pilihan bandara yang tersedia cukup banyak, seperti Semarang, Solo, atau Jogja, namun harga tiket pesawat dari sana cukup mahal, melebihi dua juta per orang. Berbekal pengalaman naik pesawat berkali-kali, istriku menemukan strategi yang lebih hemat: naik bus ke Jakarta terlebih dahulu. Ongkos bus sekitar 240 ribu rupiah, termasuk makan sekali. Dari Jakarta, tiket pesawat ke Medan bisa didapat di bawah 1,6 juta rupiah. Jauh lebih murah dibanding terbang langsung dari kota terdekat.
Namun, yang tidak kami perkirakan adalah perjalanan ini memakan waktu 24 jam penuh. Perjalanan Salatiga-Jakarta berlangsung selama sembilan jam, namun nyatanya hanya tujuh jam. Kami tiba di bandara pukul 02.30 WIB, sedangkan pesawat kami berangkat pukul 08.25 WIB. Artinya, ada enam jam waktu kosong yang harus kami isi.
Menunggu di Bandara, Mencari Tempat Tidur Darurat
Daripada terburu-buru dan risiko ketinggalan pesawat, kami memilih bertahan di bandara. Tempat ini berubah fungsi menjadi tempat "menginap darurat". Kami mencari bangku kosong untuk menyandarkan punggung, tidur ayam bersama penumpang lain yang juga terlambat. Barang bawaan kami cukup banyak: satu koper, tiga dus oleh-oleh, dan satu ransel. Ditambah dengan satu anak yang tidak kenal lelah, membuat semua jadi lebih rumit.
Setelah urusan bagasi selesai, kami menuju ruang tunggu. Di sinilah anak kami menunjukkan bakat tersembunyi: mata elang. Ia melihat kids corner yang luput dari perhatian kami. Bayangkan, jam tiga subuh, seorang anak bayi asyik bermain di bandara. Kocak!
Setelah puas bermain, barulah ia dibujuk untuk tidur. Padahal, yang paling butuh tidur justru kami. Dengan mata setengah terbuka, kami menyaksikan dinding kaca bandara yang tadinya gelap perlahan menjadi transparan oleh sinar matahari.
Perjalanan yang Panjang dan Penuh Keseruan
Pesawat kami delay satu jam—kejutan yang tidak mengagetkan. Menunggu pun diisi dengan ke toilet, gosok gigi, lalu sarapan. Penerbangan berlangsung sekitar satu setengah jam. Setelah itu, antri bagasi selama 40 menit. Lanjut naik Paradep, menunggu hampir satu jam. Perjalanan ke Siantar dua jam. Terakhir, naik angkot tua sampai rumah.
Kami tiba di rumah pukul enam sore. 24 jam sejak berangkat dari Salatiga.
Apakah Semua Ini Worth It?
Capek? Jelas. Ongkos banyak? Pasti. Namun, bisa berkumpul dengan keluarga, melihat mereka dalam keadaan sehat, berbagi cerita dan oleh-oleh, serta menghadiri pesta saudara—semua itu momen tak tergantikan.
Perjalanan mudik 24 jam ini memang melelahkan. Tapi, entah kenapa, tetap terasa menyenangkan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar