Perjuangan Ibu Penjual Kue Broncong di Kutim: Dari Klinik hingga Bertahan di Tengah Pandemi

Perjuangan Ibu Penjual Kue Broncong di Kutim: Dari Klinik hingga Bertahan di Tengah Pandemi

Kehidupan Seorang Ibu Tunggal yang Berjuang dengan Kue Tradisional

Di sudut jalan kecil Sangatta, seorang wanita paruh baya tampak sibuk menyiapkan adonan kue di dalam cetakan panas. Aroma manis dan gurih dari kue tradisionalnya mengundang perhatian para pengunjung yang lewat. Wanita ini adalah Nur Laila, asli Danau Maninjau, Sumatera Barat, yang kini menjalani usaha kue tradisional bernama "Kue Panjang" atau lebih dikenal masyarakat setempat sebagai Kue Broncong.

Perjalanan hidup Nur Laila tidaklah mudah. Sebelum menjadi pedagang kaki lima, ia pernah memiliki posisi yang cukup baik sebagai Kepala Klinik. Namun, pandemi COVID-19 mengubah segalanya. Klinik tempatnya bekerja harus pindah ke Samarinda, sementara ia memilih tetap tinggal di Sangatta demi pendidikan anaknya, Aska, yang masih bersekolah di sana.

Keputusan untuk bertahan memaksa Nur Laila untuk mencari cara lain agar bisa menyambung hidup. Ia sempat menjalani berbagai pekerjaan sambilan, mulai dari menjadi guru pengganti (infal), asisten perias pengantin, hingga buruh potong ayam. Pekerjaan tersebut membuatnya mengalami alergi kulit parah hingga kuku kakinya terlepas.

"Kalau kita dagang itu ada tiga kemungkinan: pulang modal, untung, dan rugi. Jika hujan seperti kemarin, ya hanya pulang modal saja," ujarnya dengan nada tenang.

Penghasilannya bervariasi antara Rp300.000 hingga Rp500.000 per hari. Masa-masa tersulit dialaminya saat ia sama sekali tidak memiliki penghasilan. Ia mengingat betapa pedihnya menahan lapar hingga harus mengikat perut agar rasa lapar tersebut tidak terlalu menyiksa.

Bahkan, ia dan anaknya pernah terpaksa mengungsi dan tidur di sebuah musala yang sudah tidak digunakan lagi karena tidak mampu membayar biaya kos. Titik balik perjuangannya dimulai saat ia mendapatkan upah sebesar Rp400.000 hasil membantu seorang perias pengantin bernama Ibu Linda.

Meski uang tersebut belum cukup untuk membayar tunggakan kos, ia memberanikan diri menggunakan modal tersebut untuk membeli bahan-bahan kue seperti cokelat, gula, dan mentega, serta meminjam kompor untuk mulai berjualan.

"Waktu awal buka itu modalnya Rp600.000, itulah yang ibu bangun. Bismillah ngadon, terus masak, ternyata dalam waktu satu jam sudah habis, alhamdulillah," kenangnya dengan nada haru.

Kini, usaha kue broncongnya telah stabil. Meskipun ia sempat mencoba berbagai varian rasa seperti keju dan pandan, ia akhirnya kembali ke rasa original sesuai permintaan pelanggan yang menganggap rasa aslinya jauh lebih nikmat.

Ketekunannya membuahkan hasil, kini keempat anaknya telah tumbuh besar, bahkan ada yang sudah kuliah dan bekerja. Sebagai orang tua tunggal selama hampir 12 tahun, ia membuktikan bahwa kegigihan mampu mengalahkan keterpurukan.

Meski pernah menderita asam lambung akut akibat sering melewatkan makan di masa sulit, ia kini merasa lebih tenang dengan profesinya saat ini.

"Ibu kan asli Padang, Danau Maninjau, daerahnya Buya Hamka. Kalau kami orang Padang bilangnya Kue Panjang, tapi di sini orang lebih kenal Keroncong," pungkasnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan