Perjuangan Pedagang Air Bersih Muara Angke: Keringat dan Ketekunan di Usia Lanjut

Kehidupan Pedagang Air Bersih di Muara Angke

Di sebelah jembatan Muara Angke, Jakarta Utara, belasan pedagang air bersih berkumpul setiap harinya. Mereka bergantian untuk mengisi air bersih ke dalam puluhan jeriken yang ditempatkan di atas gerobak kayu mereka. Gerobak dengan ukuran 60 sentimeter dan panjang tujuh meter mampu menampung sekitar 20 jeriken berukuran 20 liter. Untuk mengisi air ke dalam 20 jeriken tersebut, para pedagang harus membayar sebesar Rp 15.000 kepada pemilik air.

Setelah terisi penuh, para pedagang silih berganti mengantarkan air bersih itu ke para pembeli. Suhendar (50), salah satu pedagang air bersih, menjelaskan bahwa beban dari gerobaknya mencapai empat kuintal. Beban yang berat ini membuat para pedagang harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendorong gerobaknya. Bahkan, beberapa dari mereka terpaksa melepas sandal agar bisa lebih kuat menapaki jalanan aspal.

Sepanjang perjalanan, keringat terus bercucuran di wajah dan tubuh para pedagang yang usianya tak lagi muda. Meskipun begitu, air bersih masih dibutuhkan oleh banyak orang. Suhendar mengaku bahwa dalam satu hari ia bisa mengantarkan air dengan gerobak kayunya sebanyak lima kali. Para pedagang gerobak lebih banyak menyuplai air ke para pedagang kaki lima karena banyak dari mereka belum bisa memasang PAM.

Alasan Terpaksa Berdagang Air Bersih

Edi (60), pedagang air lainnya, juga lebih banyak menyuplai air bersih ke para pedagang di sekitar Muara Angke hingga Muara Karang. Ia mengatakan bahwa banyak pedagang kaki lima di terminal yang ramai berdagang. Namun, karena air di daerah tersebut asin, mereka membutuhkan air bersih.

Di usianya yang sudah tidak muda, Edi mengaku terpaksa masih menjalani profesi sebagai pedagang air bersih. Ia tetap memaksa tubuhnya agar mampu mendorong gerobak air dengan bobot kwintalan itu demi tetap bisa berpenghasilan. Bagi Edi, penghasilan anak-anaknya belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga ia tetap harus berjuang sebagai pedagang air hingga saat ini.

Edi telah menjalani profesi ini selama 41 tahun. Ia mulai berdagang air bersih sejak tahun 1984 di Mangga Dua sebelum akhirnya pindah ke Muara Angke setelah perumahan Mangga Dua dibongkar.

Pendapatan Pas-Pasan dan Risiko Pekerjaan

Mendorong beban kuintalan tidak menjamin pendapatan pedagang air bersih melimpah. Satu jeriken berukuran 20 liter hanya dijual seharga Rp 2.500–Rp 3.000. Harga tergantung lokasi pengantarannya. Jika di sekitar Muara Angke, harga air bersihnya sekitar Rp 5.000 per pikul atau dua jeriken. Sedangkan di kawasan Muara Karang, harganya mencapai Rp 6.000 per pikul karena jarak yang lebih jauh.

Dalam satu hari, Edi hanya bisa mengantar tiga kali air bersih karena tenaganya yang tak lagi sekuat dulu. Pendapatannya dalam sehari hanya sekitar Rp 100.000. Uang itu digunakan untuk makan, membayar kontrakan, dan mengirim keluarganya di kampung halaman.

Namun, pekerjaan ini juga memiliki risiko. Edi pernah mengalami kecelakaan ditabrak oleh orang mabuk dua tahun lalu. Kaki kanan dan kirinya retak, dan kondisinya semakin parah karena pengapuran. Meski demikian, ia tetap berkeliling menjajakan dagangan air bersihnya ke warga dan pedagang.

Tidak Pernah Mendapatkan Bantuan

Meski pendapatannya tidak seberapa, Edi berharap pekerjaannya sebagai pedagang air bersih di Muara Angke bisa bertahan. Selain itu, ia juga berharap bisa mendapatkan bantuan pemerintah. Ia mengatakan bahwa KTP-nya dari Tasik, namun di sana ia tidak pernah mendapatkan bantuan.

Sudirto (56), pedagang air lainnya, juga berharap bisa merasakan bantuan sosial dari pemerintah. Ia mengatakan bahwa bantuan sosial sangat diharapkan oleh para pedagang air bersih di Muara Angke yang memiliki pendapatan pas-pasan.

Perlu Perhatian pada Kualitas Air

Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menilai bahwa keberadaan pedagang air di Muara Angke tetap dibutuhkan meski harganya lebih mahal. Keberadaannya tidak harus dihilangkan meski pemerintah sedang melakukan upaya agar masyarakat bisa mendapatkan akses air bersih secara keseluruhan.

Namun, yang perlu dilakukan pemerintah adalah memastikan kualitas air yang dijual para pedagang benar-benar baik dan tidak merupakan air tanah yang sudah tercemar dan tidak layak dikonsumsi. Jika air yang dikonsumsi warga merupakan air tanah dari Muara Angke, maka berpotensi mendatangkan masalah kesehatan seperti pencernaan, penyakit kulit, stunting, hingga gangguan reproduksi.

Saran untuk Beralih ke PAM

Ketua Subkelompok Pengendalian dan Penyediaan Air Bersih-Bidang Geologi, Konservasi Air Baku dan Penyediaan Air Bersih, Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, Maman Supratman, menyarankan agar warga Muara Angke segera beralih ke air PAM. PAM Jaya sudah mulai masuk ke daerah utara karena sumbernya berasal dari Jatiluhur.

Maman mengimbau agar warga Muara Angke mengurangi penggunaan air tanah agar intrusi air laut tidak semakin parah. Ia juga mengatakan bahwa kualitas air dari PAM Jaya rutin diperiksa oleh Dinas SDA, sehingga kualitasnya sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan pemerintah. Masyarakat bisa mendapatkan harga yang lebih murah dan berkualitas baik daripada air jeriken yang tidak jelas kualitasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan