Permintaan Pengemudi Angkot Kota Bogor Dikaji Ulang

Permintaan Pengemudi Angkot Kota Bogor Dikaji Ulang

Kebijakan Pemkot Bogor Terhadap Angkot Tua Mengundang Kekhawatiran Sopir

Pemerintah Kota Bogor baru-baru ini mengambil kebijakan yang menimbulkan pro dan kontra di kalangan sopir angkot. Kebijakan tersebut berupa larangan penggunaan angkot tua yang berusia lebih dari 20 tahun, yang akan mulai berlaku pada 1 Januari 2026. Sebanyak 1.940 unit angkot akan terdampak oleh aturan ini. Namun, banyak sopir angkot mengkhawatirkan dampaknya terhadap kesejahteraan mereka.

Salah satu sopir angkot, Apriyanto, menyampaikan bahwa meskipun kebijakan Pemkot Bogor tidak sepenuhnya ditentang, namun ia meminta adanya peninjauan ulang. "Kalau dari sopir sebetulnya kebijakan-kebijakan Pemkot itu sebetulnya tidak ada kendala, cuman ya harus dikaji ulang," kata Apriyanto kepada nurulamin.pro, Jumat (2/1/2026).

Menurutnya, kondisi para sopir angkot saat ini sudah sangat sulit. Mereka menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan diberlakukannya kebijakan ini, para sopir angkot lama khawatir akan semakin menderita. "Kalau ikut aturan, hancur pak, kasihan sopir-sopir kita," ujar Apriyanto.

Ia juga menyebutkan bahwa banyak sopir angkot yang kini menganggur karena pendapatan mereka menurun drastis. "Saya sudah lihat juga yang nganggur yang sekarang setorannya udah gak ketemu (pendapatan anjlok)," katanya.

Apriyanto menjelaskan bahwa kondisi sopir angkot saat ini jauh berbeda dibanding belasan tahun lalu. Dulu, pendapatan seorang sopir angkot bisa mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk untuk menghidupi anak dan istri dengan tenang. Namun, sekarang situasi telah berubah. Bahkan, ada kasus di mana sopir angkot sampai bercerai dengan istrinya karena masalah ekonomi.

"Sebenarnya, penghasilan angkot kita ini sudah tidak sesuai, kenapa tidak sesuai, karena udah jauh berkurang," ungkap Apriyanto.

Dampak Ekonomi yang Mengkhawatirkan

Kebijakan yang diambil oleh Pemkot Bogor, meski bertujuan untuk meningkatkan kualitas transportasi umum, ternyata memiliki potensi dampak negatif yang besar bagi para sopir angkot. Banyak dari mereka merasa tidak siap menghadapi perubahan ini, terlebih jika tidak ada solusi alternatif yang disediakan.

Beberapa sopir menginginkan adanya kompensasi atau bantuan dari pemerintah agar mereka bisa tetap bertahan. Mereka juga berharap ada program pelatihan atau pengembangan keterampilan yang dapat membantu mereka beralih ke pekerjaan lain jika diperlukan.

Selain itu, beberapa sopir juga menginginkan adanya evaluasi terhadap kebijakan ini. Mereka menilai bahwa kebijakan tersebut terlalu tiba-tiba dan tidak mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi para sopir angkot.

Harapan untuk Solusi yang Lebih Baik

Para sopir angkot berharap Pemkot Bogor dapat memberikan solusi yang lebih manusiawi. Mereka ingin diberi waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan perubahan ini. Selain itu, mereka juga berharap ada program bantuan atau insentif yang dapat meringankan beban mereka.

Harapan ini tidak hanya datang dari satu atau dua sopir, melainkan dari seluruh komunitas sopir angkot yang merasa terpuruk akibat perubahan ekonomi dan kebijakan yang tidak ramah terhadap mereka.

Dengan begitu, diharapkan kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemkot Bogor dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, termasuk para sopir angkot yang selama ini menjadi tulang punggung transportasi umum di kota ini.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan