
Banjir di Kota Jambi Akibat Hujan Deras, Kritik terhadap Penataan Ruang
Hujan deras yang mengguyur Kota Jambi pada Jumat (12/12/2025) siang hingga malam menyebabkan banjir di sejumlah wilayah. Dalam waktu kurang dari satu jam, air sudah menggenangi permukiman warga hingga setinggi pinggang orang dewasa. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan dan penataan kota.
Banjir tercatat terjadi di RT 09 dan RT 11 Kelurahan Simpang IV Sipin, Kecamatan Telanaipura, sekitar pukul 16.00-17.10 WIB. Ini merupakan banjir ketiga yang dialami warga di kawasan tersebut sepanjang tahun ini. Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, menyebut banjir yang terus berulang menunjukkan bahwa Kota Jambi berada dalam siklus krisis ekologis.
"Di RT 11, warga yang belum pulih dari banjir sebelumnya kembali harus menanggung kerugian. Peralatan elektronik yang baru diperbaiki atau baru dibeli rusak lagi. Yang tenggelam bukan hanya lantai rumah, tapi juga rasa aman dan kemampuan mereka untuk pulih," kata Oscar dalam keterangan rilis pers yang diterima Tribun Jambi, Jumat (12/12/2025).
Menurut WALHI Jambi, banjir tidak hanya terjadi di dua RT tersebut. Genangan air juga muncul di beberapa titik lain seperti kantor Gubernur Jambi, Simpang Mayang, Simpang IV Sipin, Kenali Asam Atas, Simpang IV Pal 7 Kenali Asam Bawah, dan sejumlah wilayah lain.
Oscar menegaskan, persoalan ini tidak bisa lagi dianggap sebagai kejadian yang muncul karena hujan deras semata. "Ini bukan sekadar cuaca ekstrem. Ini adalah konsekuensi langsung dari pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Ini bukan bencana alam, tetapi bencana ekologis," ujarnya dalam rilis.
WALHI Jambi mendesak pemerintah untuk mengevaluasi izin-izin pembangunan yang dinilai abai terhadap keberlanjutan lingkungan. Sistem drainase yang tidak memadai dan tata ruang yang salah arah disebut menjadi pemicu utama banjir cepat terjadi.
Ketika hujan satu jam saja mampu memutus aktivitas sosial dan ekonomi dua RT sekaligus, maka ada yang sangat keliru dengan cara kota ini dibangun, tegas Oscar.
Ia menambahkan, masyarakat tidak seharusnya terus menjadi korban berulang dari kegagalan penataan wilayah. WALHI meminta pemerintah menghadirkan langkah pencegahan yang nyata dan berkelanjutan, bukan hanya bertumpu pada penanganan darurat setiap kali banjir datang.
WALHI tidak menolak pembangunan, tetapi pembangunan harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan rakyat, tuturnya.
Penyebab Banjir yang Terus Berulang
Beberapa faktor utama yang menyebabkan banjir di Kota Jambi antara lain:
-
Sistem drainase yang tidak memadai
Drainase yang tidak dirancang dengan baik menyebabkan air tidak dapat mengalir secara efisien, sehingga genangan air terbentuk dengan cepat. -
Tata ruang yang tidak terencana
Pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang menyebabkan area yang seharusnya menjadi resapan air menjadi tertutup bangunan. -
Pembangunan yang tidak mempertimbangkan lingkungan
Beberapa proyek pembangunan dilakukan tanpa memperhatikan dampak lingkungan, termasuk pengurangan ruang hijau dan daerah resapan air.
Langkah yang Diharapkan
WALHI Jambi menyarankan pemerintah untuk:
-
Melakukan evaluasi terhadap izin pembangunan
Mengevaluasi izin-izin yang dikeluarkan agar lebih memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan. -
Meningkatkan sistem drainase
Melakukan perbaikan dan peningkatan kapasitas saluran air agar mampu menampung curah hujan tinggi. -
Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya lingkungan
Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang perlindungan lingkungan dan partisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Kesimpulan
Banjir yang terjadi di Kota Jambi menunjukkan adanya kegagalan dalam tata ruang dan pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Perlu adanya tindakan nyata dari pemerintah untuk mencegah terulangnya bencana ekologis ini. Masyarakat juga harus aktif dalam menjaga lingkungan dan memastikan bahwa pembangunan berjalan dengan baik dan berkelanjutan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar