
Mencari Pekerjaan di Era yang Semakin Sulit
Mencari pekerjaan hari ini bukan lagi sekadar soal kemampuan—tapi juga soal ketahanan menghadapi penolakan demi penolakan yang perlahan mengikis rasa percaya diri. Dua anak dari generasi X dan Z, yang dulu penuh semangat membicarakan cita-cita setelah lulus kuliah, kini tampak muram. Mereka memiliki impian yang setinggi langit dan sedalam lautan, berharap bisa segera lulus, wisuda, dan mendapatkan jabatan sebagai manajemen trainee. Dua tahun kemudian, mereka yakin akan dipromosi. Bayangan masa depan cerah sudah terlihat jelas di depan mata.
Sayangnya, antara harapan dan kenyataan tidak selalu indah. Ketika bertemu lagi dengan mereka, wajahnya sudah muram, kata-kata yang keluar penuh kekecewaan. “Ratusan surat lamaran kerja sudah saya kirim, tapi tak satu pun yang dijawab,” ujar mereka. Ini sudah hampir setahun usaha mereka, dan kini mulai gelisah, kecewa, bahkan nyaris putus asa.
“Jika terus begini, bagaimana nasib kami? Apa yang salah dengan surat lamaran kerja kami? Kami sudah pelajari strategi membuat lamaran sesuai kebutuhan perusahaan dan menitikberatkan bahwa kami adalah orang yang bisa diandalkan dalam berkontribusi untuk kesuksesan perusahaan.” Namun, di titik paling nadir itu, mereka ingin berteriak: hingga kapan kami harus berjuang?
Pengalaman Pekerja Informal
Saya naik taxi online, dan pengemudinya seorang dari generasi Alpha. Begitu duduk, dia menyapa dan bertanya sulitkah mendapatkan taxi tadi? Saya pikir dia sedang melakukan survey tentang customer satisfaction. Lalu, saya jawab tidak, cukup cepat. Tanpa disangka, dia bercerita panjang lebar bahwa dulu bekerja di sebuah perusahaan traveling, namun perusahaan itu ditutup sehingga dia harus banting setir menjadi driver online. Dia sudah berjuang hampir setahun lebih untuk melamar pekerjaan formal, tetapi kesempatan belum ada saat ini.
Kegelisahannya bertambah berat karena pendapatan sebagai driver online di bulan November berkurang dibandingkan bulan Oktober. Hal ini disebabkan oleh kebijakan perusahaan yang memperketat insentif. Dulu, jika dapat penumpang dua puluh kali rit (istilah ambil penumpang), maka ada insentif tambahan. Namun, sekarang target insentif makin sulit dengan menaikkan jumlah rit, padahal mendapatkan penumpang tidak mudah. Macet juga membuat tidak mungkin mengejar target. Akhirnya, driver itu menyerah dan pasrah bahwa hidupnya tidak bisa mendapatkan pekerjaan formal, sementara untuk informal pun tak segampang yang dipikirkan.
Anak Muda di Negara Lain Juga Mengalami Kesulitan
Kenyataan bahwa sulitnya mencari pekerjaan bagi anak muda bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Di beberapa negara seperti Korea Selatan dan China juga mengalami hal yang sama.
Cerita tragis dari seorang dari Korea Selatan yang tak mau disebutkan namanya, dia terpaksa masih tinggal bersama orang tua karena status pekerjaannya masih temporary atau sementara dan tidak stabil, serta belum mendapatkan upah yang memadai. Di Korea Selatan, generasi yang belum bisa melepaskan diri secara finansial dari orang tua disebut dengan generasi kangguru. Semakin banyak generasi kangguru yang belum mendapatkan pekerjaan, semakin memberatkan orang tua mereka.
Di China, ada julukan yang cukup menakjubkan “anak purnawaktu (full time)”. Anak dewasa ini yang belum dapat pekerjaan, terpaksa dipekerjakan orang tua. Mereka bekerja melakukan pekerjaan rumah tangga, merawat keluarga, menemani orang tua, pokoknya semua yang dilakukan di rumah orang tuanya. Lalu, orang tua akan menggaji mereka bulanan sekitar 3.000-4.000 yuan atau Rp.6,3 juta hingga Rp.8,4 juta.
Faktor Sulitnya Mendapatkan Pekerjaan
- Persaingan Ketat
Di era global yang makin sulit ini, pasar kerja makin sempit. Persaingan makin ketat sekali. Satu pekerjaan diperbutkan oleh ribuan orang. Total jumlah yang memperbutkan itu tiap tahun makin bertambah banyak. Jika tahun 2025 ada ... pengangguran, nanti di tahun 2026, ada lulusan baru yang juga mencari pekerjaan baru.
Solusinya siapkan dirimu sebelum melamar, pelajari background perusahaan, kultur budaya, pekerjaan dan kualifikasi perusahaan yang dibutuhkan sehingga kamu dapat melakukan yang terbaik waktu sesi wawancara.
- Keterampilan dan Minimnya Pengalaman Kerja
Faktor berikutnya kurangnya keterampilan atau mismatch antara kualifikasi dengan kebutuhan. Keterampilan calon pekerja tak sesuai dengan kebutuhan pasar. Di saat sekarang ini ketika kebutuhan keterampilan Artificial Intelligence (AI) jadi persyaratan.
Solusinya hambatan di atas harus dijembatani dengan menambah keterampilan dan pengetahuan dengan melanjutkan studi. Memilih lembaga khusus dan mendapatkan sertifikasi melalui pelatihan intensif.
Jika kamu ingin menjadi orang yang paling kompeten yang dibutuhkan dalam suatu industri, maka kamu harus dapat menunjukkan komitmen dalam portofolio yang kamu kuasai.
- Memilih-Milih Pekerjaan
Idealisme dalam memilih bidang pekerjaan sesuai dengan profesimu memang penting. Namun, dengan langkanya pekerjaan yang ada, kita harus makin terbuka untuk mendapatkan posisi yang bukan kita inginkan. Tak perlu takut untuk mencoba, tetapi harus berjuang terus untuk belajar dan menekuni bidang baru itu dan harus segera mudah beradaptasi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar