
Kegagalan Berulang dalam Pencarian Striker Ideal Persebaya Surabaya
Persebaya Surabaya, yang dikenal dengan julukan Green Force, telah menghabiskan dana besar dalam beberapa musim terakhir untuk mendatangkan penyerang baru. Total pengeluaran mencapai Rp 38,26 miliar, tetapi hingga kini belum ada satu pun striker yang mampu menggantikan peran David da Silva. Performa yang tidak konsisten dan ketajaman yang kurang memadai menjadi masalah utama yang dihadapi tim ini.
Performa yang Tidak Memuaskan
Dua striker asing yang diharapkan menjadi solusi justru mengecewakan. Mihailo Perovic, yang diboyong dengan harga pasaran Rp 4,35 miliar, hanya mencetak dua gol dari 12 pertandingan. Sementara itu, Diego Mauricio, yang memiliki nilai pasar sebesar Rp 4,78 miliar, hanya tampil dua kali dengan total waktu bermain 34 menit. Keduanya kesulitan menemukan bentuk terbaiknya, sehingga opsi pergantian di bursa transfer paruh musim semakin kuat.
Jika kedua pemain tersebut benar-benar digantikan, maka kembali terulangnya kekecewaan di lini depan Persebaya Surabaya akan terjadi. Sejak kepergian David da Silva pada 2018, klub ini belum berhasil menemukan penyerang yang stabil dan produktif.
Riwayat Kekecewaan yang Berulang
David da Silva adalah satu-satunya striker yang mampu bertahan lama sejak Persebaya Surabaya kembali ke Super League. Ia memperkuat tim selama tiga musim sejak 2018 hingga 2021, meskipun sempat dipinjamkan ke Pohang Steelers. Kepergian DDS meninggalkan lubang besar yang belum terisi, meski klub terus menggelontorkan dana besar.
Beberapa striker yang datang selalu diharapkan menjadi solusi, tetapi akhirnya pergi tanpa meninggalkan jejak istimewa. Manu Dzhalilov, yang diboyong pada 2019 dengan harga Rp 6,08 miliar, hanya bertahan satu musim. Arsenio Valpoort, yang sebenarnya bukan penyerang murni, juga gagal memberikan kontribusi signifikan.
Valpoort direkrut per 1 Januari 2022, namun kontraknya diakhiri cepat pada 4 April di tahun yang sama. Setelahnya, Persebaya Surabaya mencoba pendekatan lain dengan mendatangkan penyerang Brasil seperti Jose Wilkson dan Silvio Junior. Namun, keduanya juga tidak mampu menunjukkan performa yang memadai.
Penyerang Baru yang Masih Menjajal
Paulo Victor, yang bergabung pada 11 Januari 2023, juga harus pergi pada 1 November tahun yang sama. Harga pasaran sebesar Rp 3,48 miliar tidak sebanding dengan kontribusinya. Paulo Henrique, eks bomber Persiraja, dianggap memiliki pengalaman di Super League, tetapi ia juga gagal memberikan dampak yang diharapkan.
Flavio Silva, yang datang dari Guinea-Bissau, diharapkan membawa perubahan. Meskipun memiliki harga pasaran Rp 4,78 miliar, ketajamannya belum konsisten.
Kondisi Tim yang Terpengaruh
Kegagalan striker membuat performa tim ikut terpengaruh. Gol yang minim menyulitkan Persebaya Surabaya dalam mengontrol pertandingan dan sering kehilangan poin penting. Bursa transfer paruh musim menjadi momen genting bagi manajemen dan pelatih. Perombakan besar mungkin tak terhindarkan demi menyelamatkan sisa musim.
Persebaya Surabaya harus segera bergerak cepat sebelum performa merosot lebih dalam. Tim butuh penyerang yang bukan hanya mahal tetapi juga efektif, haus gol, dan mampu membawa stabilitas jangka panjang.
Masa Depan yang Tidak Pasti
Selama pencarian sosok ideal belum berakhir, tumpulnya striker Persebaya Surabaya akan terus menjadi bayang-bayang yang menghantui setiap pergantian musim. Green Force harus menemukan cara memutus siklus kegagalan ini agar cerita pahit ini tidak berulang lagi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar