Personel Terbatas, Kaltim Andalkan Digitalisasi Jaga Pintu Masuk IKN 2026

Personel Terbatas, Kaltim Andalkan Digitalisasi Jaga Pintu Masuk IKN 2026

Strategi Karantina Kaltim Menghadapi Tantangan Pengawasan Perbatasan

Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Timur (Karantina Kaltim) telah menyiapkan strategi baru yang dikenal sebagai Pre-Border untuk menghadapi tantangan pengawasan perbatasan yang semakin kompleks pada tahun 2026. Strategi ini bertujuan untuk memperketat filter masuknya komoditas sebelum mencapai daratan Kalimantan, sehingga menjaga keamanan ekosistem dan perekonomian masyarakat.

Kepala Karantina Kaltim, Arum Kusnila Dewi, menyatakan bahwa wilayah pengawasan di Kalimantan Timur sangat luas, sementara jumlah personel yang tersedia masih terbatas. Dengan adanya peningkatan mobilitas menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), perlu adanya solusi yang efektif dalam menghadapi tantangan ini.

Digitalisasi Sebagai Solusi Keterbatasan SDM

Saat ini, Karantina Kaltim diperkuat oleh sekitar 150 personel. Jumlah ini dinilai belum cukup untuk mencakup seluruh "pintu masuk" resmi maupun jalur tidak resmi di sepanjang wilayah Kaltim yang luas. Untuk mengatasi keterbatasan sumber daya manusia (SDM), pihak Karantina Kaltim berupaya memperkuat digitalisasi.

Melalui sistem digital, proses analisis risiko terhadap barang yang akan masuk dapat dilakukan lebih cepat dan akurat sesuai dengan perundang-undangan serta aturan teknis pemerintah. Hal ini akan membantu mempercepat proses pengawasan dan meningkatkan akurasi dalam menilai potensi ancaman penyakit hewan atau tumbuhan.

Siap Hadapi Protokol Pre-Border 2026

Memasuki tahun 2026, Karantina Kaltim menargetkan kesiapan penuh dalam skema Pre-Border. Skema ini memungkinkan pengawasan dilakukan sejak di negara atau daerah asal melalui hubungan bilateral dan multilateral yang telah disepakati.

Arum menjelaskan bahwa protokol khusus ini memerlukan ketelitian tinggi dalam mengidentifikasi potensi ancaman penyakit. Petugas di lapangan kini mulai dipersiapkan secara teknis untuk menguasai sistem identifikasi dini tersebut.

“Tahun 2026 kita sudah siap karena pre-border harus dilakukan analisis yang sesuai perundang-undangan. Secara teknis, petugas kami sudah mulai mengidentifikasi potensi-potensi tersebut,” jelasnya.

Kerja Sama Lintas Negara dan Lembaga

Selain digitalisasi, kesuksesan pengawasan di masa depan bergantung pada kuatnya kerja sama antarlembaga di dalam negeri serta hubungan antarnegara. Mengingat Kalimantan berada di posisi strategis tiga negara, protokol khusus sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas hayati nasional.

“Kita sudah siapkan layanan digitalnya, SDM-nya sudah dipersiapkan, termasuk kerja sama antarlembaga serta antarnegara karena ada hubungan bilateral dan multilateral, serta kekhususan dalam protokol karantina,” pungkas Arum.

Langkah Preventif untuk Menjaga Keamanan Ekosistem

Langkah preventif ini diharapkan dapat menutup celah risiko sekecil apa pun, sehingga Kalimantan Timur tetap menjadi wilayah yang aman dari ancaman penyakan hewan dan tumbuhan yang dapat merusak ekosistem serta perekonomian masyarakat.

Dengan kombinasi digitalisasi, penguatan SDM, dan kerja sama lintas negara, Karantina Kaltim berkomitmen untuk menjaga keamanan dan kesehatan ekosistem Kalimantan Timur di tengah tantangan pengawasan perbatasan yang semakin kompleks.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan