
JAKARTA, nurulamin.pro – Di tengah masifnya pembangunan infrastruktur di Jakarta, hamparan pertanian sayur di samping Jakarta International Stadium (JIS), Tanjung Priok, Jakarta Utara, masih bertahan.
Lahan hijau tersebut menjadi penyangga pangan sekaligus sumber penghidupan belasan petani yang menggantungkan hidup di tengah kepungan beton ibu kota.
Pertanian sayur ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih dua hektare milik salah satu perusahaan swasta yang hingga kini belum dimanfaatkan. Oleh pemiliknya, lahan tersebut diizinkan untuk digarap sebagai area bercocok tanam.
Sebanyak sekitar 15 petani dari berbagai daerah, mulai dari Indramayu hingga Tangerang, telah bertahun-tahun menggantungkan hidup di lahan pertanian tersebut.
Di atas lahan seluas dua hektare itu, para petani menanam beragam jenis sayuran, seperti bayam, seledri, sawi, kangkung, dan sejumlah komoditas sayur daun lainnya.
Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, hasil pertanian tersebut juga dijual untuk menambah penghasilan para petani.
Dijual ke tengkulak
Salah satu petani bernama Cariman (28) mengaku, hasil bercocok tanamnya di samping JIS dapat dipanen dalam waktu 18 hingga 20 hari.
Namun, panen tidak dilakukan sekaligus dalam satu hari, melainkan menyesuaikan dengan permintaan para tengkulak yang membeli hasil tanamannya.
Dalam sehari, Cariman rata-rata dapat menjual sekitar 50 ikat berbagai jenis sayuran kepada tengkulak.
"Kalau kangkung per ikatnya ada yang Rp500-Rp600, kalau sawi gulungan satu gulung lima kilogram itu jualnya Rp25.000, kemangi per ikat karena kalau dijual gabungan ama sayur lain 30 ikat itu Rp8.000," ungkap Cariman saat diwawancarai nurulamin.pro di lokasi, Jumat (9/1/2026).
Petani lainnya, Hendi (30), juga mengandalkan tengkulak langganan yang datang setiap hari untuk membeli hasil panennya.
"Dalam sehari bisa jual 30-40 ikat, tapi campuran ada kemangi, bayam, jualnya ada tengkulaknya," jelas dia.
Menurut Hendi, bertani di tengah kota memiliki tantangan tersendiri. Kondisi tanah yang asin membuat lahan tidak sesubur di kampung halamannya.
Meski begitu, hasil tanamannya masih dapat tumbuh dan selalu terserap pasar. Hal ini berbeda jika ia bertani di kampung halaman, di mana hasil panen sering kali tidak terjual karena minim pembeli.
Dukung program MBG
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan, belasan petani yang bercocok tanam di samping JIS merupakan petani binaan Pemerintah Kota Jakarta Utara.
Ke depan, Dinas KPKP berencana membantu para petani dalam memasarkan hasil panen mereka.
"Rencana ke depan Dinas KPKP akan membuatkan skema program bisnis untuk bisa mengirimkan hasil produksi pertanian yang dihasilkan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) daerah sekitar, sebagai salah satu upaya pemenuhan kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG)," ungkap Hasudungan dalam keterangan tertulisnya, Jumat.
Selain membantu pemasaran, Dinas KPKP juga telah memberikan berbagai dukungan guna mendorong pengembangan pertanian di tengah kota.
Bantuan yang diberikan meliputi sarana produksi pertanian, seperti benih sayuran daun dan buah, pupuk, media tanam, cangkul, serta peralatan pendukung lainnya.
Persoalan lahan
Untuk dapat bercocok tanam di samping JIS, para petani harus menyewa lahan dengan biaya sekitar Rp700.000 hingga Rp 1 juta per bulan, bergantung pada luas lahan yang digunakan.
Namun, Dinas KPKP menyatakan belum memiliki rencana untuk membeli lahan tersebut.
"Dinas KPKP belum berencana untuk membeli lahan dalam pengembangan pertanian di Jakarta," jelas Hasudungan.
Meski demikian, Dinas KPKP terus berupaya mengembangkan pertanian perkotaan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur atau tidak produktif, baik milik Pemprov DKI Jakarta maupun fasilitas umum di lingkungan masyarakat.
Pemanfaatan lahan tidak produktif tersebut diharapkan dapat mendorong kemandirian pangan masyarakat serta mendukung program pembentukan Kampung Mandiri Pangan di DKI Jakarta.
Beberapa hal yang harus dilakukan petani
Selain memanfaatkan lahan tidak produktif, Hasudungan menyebut ada sejumlah hal yang perlu dilakukan petani agar budidaya pertanian di tengah kota dapat berhasil.
Pertama, petani harus mengolah lahan dengan baik sebelum penanaman. Kedua, memilih benih unggul dan berkualitas yang telah tersertifikasi atau berlabel.
Ketiga, memastikan ketersediaan sumber air yang memadai. Keempat, mendapatkan penyinaran matahari yang optimal. Kelima, melakukan perawatan dan pemupukan secara berkala.
"Serta pemanfaatan lahan terbatas dengan penggunaan teknologi pertanian perkotaan seperti hidroponik, vertical farming, tanbulampot, vertiminaponik dan indoor farming," tutur Hasudungan.
Senada, Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Dwi Apri Nugroho menyarankan agar pertanian perkotaan dikembangkan dengan berbagai teknik.
"Perbanyak budidaya pertanian perkotaan baik itu dengan hidroponik, vertical farming, pot dengan berbagai komoditas baik sayuran mupun buah-buahan yang bermanfaat dan minimal bisa dikonsumsi sendiri," ucap Bayu saat dihubungi nurulamin.pro, Jumat.
Menurut Bayu, metode seperti hidroponik dan vertical farming menjadi solusi di tengah kondisi tanah di sekitar JIS yang rentan terendam banjir dan bersifat asin.
Ia juga menekankan pentingnya konsultasi rutin petani dengan Dinas KPKP agar praktik budidaya sesuai dengan prinsip GAP (Good Agricultural Practices).
Kualitas sayur di tanah asin
Bayu menjelaskan, kondisi tanah asin di sekitar JIS berpengaruh terhadap kualitas sayuran yang dihasilkan.
"Kualitas sayuran yang dihasilkan sangat berbeda. Antara lain, pada tanah asin kurang berkualitas karena menghambat penyerapan air dan nutrisi, menyebabkan pertumbuhan kerdil, daun menguning, kualitas rasa kurang baik lebih pahit atau hambar, dan kandungan antioksidan rendah," tutur Bayu.
Sebaliknya, sayuran yang ditanam di tanah normal atau menggunakan media tanam lain seperti pot dan hidroponik cenderung lebih subur, bernutrisi tinggi, berukuran lebih besar, dan memiliki rasa yang lebih baik.
Meski menghadapi keterbatasan lahan dan kualitas tanah, Bayu menilai pertanian di tengah kota tetap harus dipertahankan dan dikembangkan.
"Karena kita tahu bahwa pertanian perkotaan menjadi salah satu pilar dalam ketahanan pangan di masyarakat," jelas Bayu.
Keberadaan pertanian di perkotaan dinilai mampu menjaga ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, RT, RW, hingga kelurahan, tanpa bergantung sepenuhnya pada pasokan luar.
Selain itu, pertanian perkotaan juga berpotensi dikembangkan sebagai peluang bisnis baru. Hasil panen yang berlebih dapat diperjualbelikan dan menjadi tambahan penghasilan bagi petani.
Saran untuk pemerintah
Melihat besarnya manfaat pertanian di tengah kota, Bayu mendorong pemerintah untuk hadir memberikan dukungan yang berkelanjutan.
Pemerintah diharapkan tidak hanya menghadirkan program jangka pendek, tetapi juga pendampingan intensif dan monitoring berkelanjutan.
"Adanya sosialisasi dan pendampingan yang intens termasuk monitoring, sehingga tidak hanya jadi program jangka pendek, tetapi bisa menjadi program yang sustain," ucap dia.
Selain itu, pemerintah juga diharapkan memperkenalkan teknologi budidaya pertanian terbaru serta menyediakan akses pemasaran hasil panen agar pertanian perkotaan dapat berkembang menjadi sumber perekonomian baru.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar