
Menteri Pemuda dan Olahraga Wanti-wanti Indonesia Bisa Terperosok ke Peringkat Lima
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, memberikan peringatan penting mengenai persaingan di ajang Southeast Asian Games (SEA Games) yang semakin ketat dari tahun ke tahun. Menurutnya, persaingan ini bisa membuat Kontingen Indonesia terjebak di luar peringkat tiga besar, bahkan terperosok ke peringkat lima pada SEA Games 2027 mendatang di Malaysia.
Erick menyampaikan peringatan tersebut seusai menerima jajaran pengurus dan atlet nasional Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI), di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Selasa (2/12/2025). Ia menegaskan bahwa persiapan untuk ajang SEA Games 2025 di Thailand harus dilakukan secara serius agar tidak terjadi skenario terburuk.
Dalam percakapan via aplikasi perpesanan, Patrick Gregorio, Chairman Philippine Sports Commission (PSC) alias Menpora Filipina, memberitahu Erick bahwa negara mereka akan mengirimkan banyak atlet ke SEA Games 2025 Thailand. "Filipina, menteri olahraganya sahabat saya, Patrick itu WA (ke saya pesan Whatsapp), mereka kirim atlet yang jumlahnya cukup signifikan, cukup banyak," ujar Erick.
Menpora juga menjelaskan bahwa negara-negara rival Indonesia telah melakukan persiapan jangka panjang, bahkan untuk beberapa tahun ke depan. Ia memperingatkan bahwa jika Indonesia tidak bersiap sejak sekarang, maka di SEA Games 2027 di Malaysia, Indonesia bisa berada di peringkat lima.
Persaingan di SEA Games 2025
Untuk persaingan di SEA Games 2025, Menpora menyatakan bahwa saingan utama Indonesia adalah tuan rumah Thailand. Ia menekankan bahwa Thailand menjadi penyumbang terbanyak atlet di ajang tersebut. "Ini kan rumahnya Thailand. Artinya saingan kita, sudah pasti. Bukan kita meremehkan negara mana pun. Ada Vietnam, ada Malaysia. Filipina tetap diperhitungkan, tapi ini (Thailand tetap rival utama). Dan saya dengar jumlah atletnya banyak," kata Erick.
Sebagai informasi, tuan rumah Thailand menurunkan kontingen terbanyak dengan 1.807 atlet. Jumlah ini disusul Malaysia dengan 1.580 atlet, Indonesia dengan 1.548 atlet, Kamboja 1.515 atlet, Filipina 1.499 atlet, dan Singapura 1.481 atlet. Negara dengan jumlah atlet menengah adalah Myanmar dengan 1.077 atlet serta Vietnam dengan 1.019 atlet. Sementara Laos membawa 598 atlet, Brunei Darussalam 250 atlet, dan Timor Leste 132 atlet.
Langkah Menghadapi Persaingan
Erick menegaskan bahwa langkah yang dilakukan adalah dengan mengevaluasi SEA Games 2025 dan Asian Games 2026, serta Olimpiade 2026. "Evaluasi kita buat setransparan mungkin," katanya.
Selain itu, ia juga memastikan bahwa Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) akan mengalami revisi menyusul penetapan 21 cabang olahraga (cabor) unggulan yang saat ini masih menunggu surat resmi. Sebelumnya DBON terdapat 14 cabor prioritas atau unggulan yang berkaitan dengan prestasi.
Erick menegaskan perubahan ini sangat penting guna menunjang arah pembinaan prestasi nasional lebih terukur dan sesuai kebutuhan kompetisi internasional. "Kita sudah mendapat arahan, tetapi tentu menunggu suratnya secara resmi mengenai 21 cabor unggulan itu. Saya tidak bisa buka satu per satu sebelum suratnya keluar," ujar Erick.
Evaluasi dan Pendanaan Cabang Olahraga
Setelah surat resmi diterima, Kemenpora akan melakukan dua langkah utama. Pertama, berkoordinasi dengan BPKP dan Kejaksaan untuk memastikan skema pendanaan setiap cabor sesuai aturan keuangan negara. "Penilaian untuk setiap cabor berbeda, baik dari pendanaan maupun targetnya. Jangan sampai niat baik malah dianggap menyalahi aturan. Saya harus menjaga teman-teman di organisasi olahraga, dan BPKP serta Kejaksaan sangat mendukung keterbukaan ini," ucap Erick.
Kemudian terkait dinamika cabor unggulan yang berubah, DBON harus diperbarui, termasuk menerapkan sistem promosi dan degradasi bagi cabang olahraga. "Jadi bukan berarti 21 cabor ini sudah aman. Nanti evaluasi berikutnya di tahun 2028 Olimpiade, ya di mana sasaran antaranya itu SEA Games, Asian Games, dan tujuan utamanya Olimpiade, di situ nanti kita ada evaluasi lagi. Ya seperti apa promosi-degradasinya. Dan karena itu saya juga habis ini rapat sama tim evaluasi," ujar Erick.
Anggaran dan Komitmen Bersama
Lebih lanjut, Erick juga mengungkapkan bahwa Kemenpora telah melakukan penyisiran anggaran secara besar-besaran. Salah satunya terkait alokasi awal Rp 3 miliar untuk Youth Asian Games dan ajang para games, anggaran tersebut berhasil ditingkatkan hingga Rp 59 miliar. Karenanya, ia menekankan pentingnya komitmen bersama seluruh ekosistem olahraga nasional mulai dari federasi, KOI, hingga KONI. "Kita harus menjadi satu keluarga besar kalau ingin hasilnya baik. Tidak ada hasil yang baik kalau kita terpecah-belah," pungkasnya.
Revisi DBON dan penetapan 21 cabor unggulan diharapkan menjadi fondasi baru pembinaan olahraga Indonesia dalam menghadapi kejuaran internasional.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar