
Tantangan Industri Penerbangan Pasca-Pandemi
Industri penerbangan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam upaya pemulihan setelah pandemi Covid-19. Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) menyatakan bahwa sepanjang tahun 2025, industri ini belum mampu bangkit sepenuhnya dan justru mengalami penurunan dari kondisi sebelum pandemi.
Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja menjelaskan bahwa masalah utama yang dihadapi adalah keterbatasan jumlah pesawat yang layak terbang atau serviceable. Hal ini berdampak langsung pada pengurangan jumlah penerbangan dan kapasitas angkut penumpang serta kargo.
Statistik Penerbangan 2025
Berdasarkan data industri transportasi udara nasional, jumlah pesawat yang terdaftar hingga Desember 2025 mencapai 568 unit. Namun, hanya 368 unit yang dapat digunakan secara aktif, sementara 200 unit lainnya sedang dalam perawatan. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang memiliki 500 unit pesawat serviceable.
Selain itu, jumlah pesawat dalam perawatan meningkat drastis, yaitu 244% dibandingkan tahun 2024. Kondisi ini memengaruhi jumlah penerbangan yang dilakukan. Hingga akhir tahun 2025, diperkirakan hanya akan ada 440.000 penerbangan, atau sekitar 88% dari jumlah penerbangan pada tahun 2019.
Penerbangan domestik hingga September 2025 mencapai 359.504 kali atau 72% dari jumlah penerbangan pada tahun 2024. Sementara penerbangan internasional hingga September 2025 mencapai 165.235 kali, atau 80% dari jumlah penerbangan pada tahun 2024. Diperkirakan hingga akhir tahun 2025, jumlah penerbangan internasional hanya akan mencapai 196.000 kali, atau 95% dari jumlah pada tahun 2024.
Jika dibandingkan dengan tahun 2019, tingkat pemulihan penerbangan internasional hanya mencapai sekitar 87%. Hal ini menunjukkan bahwa industri penerbangan masih belum sepenuhnya pulih.
Dampak pada Konektivitas dan Logistik
Kurangnya jumlah pesawat yang tersedia juga berdampak pada konektivitas nasional. Transportasi udara yang menjadi tulang punggung penghubung antarpulau dan logistik tidak berjalan optimal. Ini menghambat kegiatan ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Denon menilai bahwa solusi untuk masalah ini tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang kuat dari pemerintah untuk menyehatkan seluruh industri penerbangan. Tujuannya adalah meningkatkan konektivitas transportasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Prediksi Tingkat Pemulihan Penumpang dan Kargo
Dalam data yang disampaikan oleh Denon, prediksi tingkat pemulihan penumpang hingga akhir tahun 2025 hanya mencapai 77%, atau sekitar 61,2 juta penumpang. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan jumlah penumpang pada tahun 2019 yang mencapai 79,5 juta orang.
Data penerbangan berjadwal periode Januari—September 2025 menunjukkan bahwa jumlah penumpang domestik mencapai 46,7 juta orang, atau 71% dari jumlah pada tahun 2024 yang sebanyak 65,8 juta orang. Sementara itu, jumlah penumpang internasional diprediksi mencapai 34,7 juta orang, atau 93% dari realisasi tahun 2019 yang sebanyak 37,3 juta orang.
Tidak hanya penumpang yang belum pulih. Tingkat pemulihan kargo domestik diperkirakan hanya mencapai 90% pada akhir tahun, atau sebanyak 541.900 ton. Sementara itu, pemulihan kargo internasional diprediksi mencapai 77%, atau sebanyak 398.000 ton.
Pemulihan Masih Belum Maksimal
Pemerintah pun mengakui bahwa industri penerbangan belum sepenuhnya pulih, meskipun pada masa peak season Nataru 2025/2026. PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) melaporkan bahwa tingkat pemulihan jumlah penumpang selama periode 15 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 diprediksi sebesar 95%, atau mencapai 10,52 juta penumpang. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan jumlah penumpang pada tahun 2019 yang tercatat sebanyak 11,07 juta orang.
Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi menyatakan bahwa saat ini maskapai penerbangan masih belum pulih seperti kondisi sebelum pandemi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar