Warga Kota Padang Tetap Rayakan Tahun Baru Meski Ada Larangan
Sejumlah warga di Kota Padang tetap mengabaikan imbauan pemerintah terkait larangan perayaan Tahun Baru yang berlebihan. Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa kembang api masih meledak di langit Pantai Padang saat pergantian tahun dari 2025 ke 2026, Rabu (31/12/2025) malam.
Meskipun pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 451/490/XII/Kesra-2025 yang melarang perayaan Tahun Baru secara resmi, warga tetap memilih untuk berpesta. Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatera Barat, meminta masyarakat untuk menahan diri sebagai bentuk empati terhadap korban bencana hidrometeorologi yang melanda 16 kabupaten dan kota di Sumbar.
Suasana di kawasan Pantai Padang justru kontras dengan agenda zikir dan doa bersama yang berlangsung di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Sebagian masyarakat tetap menjalankan larangan perayaan Tahun Baru dengan membawa petasan dan terompet ke bibir pantai sejak pukul 23.00 WIB.
Warga Ramai di Pantai Padang
Pantauan di kawasan Pantai Padang, tepatnya dari sekitar Masjid Al-Hakim hingga arah Hotel Mercure, sekitar pukul 23.00 WIB, warga tampak memadati sepanjang kawasan pantai. Pengunjung didominasi oleh pasangan remaja hingga pasangan orang dewasa.
Sejumlah warga terlihat membawa kembang api, terompet, hingga petasan untuk memeriahkan malam pergantian tahun. Memasuki pukul 23.20 WIB, kembang api mulai dinyalakan, mayoritas diarahkan ke tengah laut. Selain dentuman kembang api, suara terompet dan petasan turut mewarnai suasana malam Tahun Baru 2026 di Pantai Padang.
Kondisi tersebut dimanfaatkan para pedagang musiman yang menjajarkan kembang api dan petasan, yang tampak diserbu pengunjung. Puncak perayaan terjadi sekitar pukul 23.56 WIB. Kembang api saling menyala secara bersahutan dan berlanjut hingga sekitar pukul 00.12 WIB, meski sebelumnya Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, telah mengimbau masyarakat agar tidak menyalakan kembang api pada perayaan Tahun Baru 2026.
Dampak dari pesta kembang api tersebut turut menyebabkan kepadatan arus lalu lintas. Sejumlah pengendara memperlambat laju kendaraan untuk merekam momen kembang api, ditambah banyaknya kendaraan yang terparkir memanjang di sepanjang badan jalan.
Salah seorang pengunjung Pantai Padang, Rima, mengaku datang bersama pacarnya untuk menikmati suasana malam tahun baru sekaligus menyaksikan pesta kembang api. “Tadi kami di Jembatan Siti Nurbaya. Karena terdengar suara kembang api dari sana, akhirnya langsung ke Pantai Padang untuk ambil foto,” ujarnya.
Rima mengungkapkan, foto-foto tersebut akan diunggah ke media sosial miliknya. “Buat story Instagram dan TikTok,” katanya sambil tersenyum.

Kawasan Pantai Padang mulai dipadati masyarakat sejak Rabu sore. Warga mulai berdatangan sekitar pukul 18.00 WIB untuk menikmati suasana sore hingga malam di sepanjang bibir pantai. Pengunjung datang bersama keluarga, termasuk anak-anak. Namun, arus lalu lintas menuju Pantai Padang diberlakukan sistem satu arah oleh pihak kepolisian, mulai dari Jalan Masjid Al-Hakim di kawasan Samudera hingga pintu keluar di Simpang Hotel Pangeran.
Selain itu, sejumlah akses menuju pantai ditutup oleh petugas gabungan dari Polda Sumbar, Dinas Perhubungan, Satpol PP, serta unsur Forkopimda Kota Padang. Di sepanjang Jalan Samudera, suasana tampak semarak dengan deretan pedagang yang menjajarkan makanan, minuman, serta mainan anak-anak. Sementara itu, sebagian warga terlihat duduk santai di bibir pantai sambil menikmati suasana malam.
Meski terpantau ramai, salah seorang pedagang Pantai Padang, Indra Syafar, menilai jumlah pengunjung belum seramai perayaan Tahun Baru 2025 lalu. “Kalau dibandingkan tahun lalu, sekarang memang terasa lebih sepi,” ujarnya. Menurut Indra, kondisi tersebut dipengaruhi oleh tidak adanya perayaan resmi dari Pemerintah Kota Padang maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, mengingat Sumbar masih dalam suasana duka pascabencana banjir bandang.
“Karena kita masih berduka akibat banjir bandang kemarin. Kalau tidak, mungkin lebih ramai,” katanya. Meski demikian, Indra tetap berharap pengunjung terus berdatangan hingga pergantian tahun.
Imbauan Gubernur
Sementara itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah sebelumnya mengimbau masyarakat agar menyambut malam Tahun Baru 2026 dengan penuh kesederhanaan dan empati. Imbauan tersebut disampaikan mengingat Sumatera Barat masih berduka akibat bencana banjir bandang yang melanda 16 kabupaten dan kota sekitar satu bulan terakhir.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak hura-hura dan tidak mengadakan pesta kembang api,” kata Mahyeldi. Sebagai gantinya, Pemerintah Provinsi Sumbar menggelar doa dan zikir bersama di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi pada malam pergantian tahun.
“Insyaallah, kita laksanakan doa dan zikir bersama untuk keselamatan Sumatera Barat,” tutupnya.
Bencana Susulan di Malam Tahun Baru
Banjir bandang kembali terjadi di Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat Kamis (1/1/2026) dini hari. Diketahui, sebelum terjadi banjir bandang, beberapa masyarakat bersamaan dengan BPBD mendengar bunyi gemuruh di lokasi, sekira pukul 01:45 WIB.
Melalui keterangan Kabid Kedaruratan dan Logistik (Kabid KL) BPBD Agam, Abdul Ghafur membenarkan terkait banjir bandang yang menerjang Pasar Maninjau itu. "Benar, kejadiannya pada Kamis dini hari, saya kebetulan di lokasi sekira pukul 01:45 WIB," ungkapnya saat dikonfirmasi via telepon whatsapp.
Ia menjelaskan, sebelum banjir bandang menerjang, terdengar bunyi gemuruh yang cukup keras, sehingga ia bersama masyarakat lainnya berlarian ke tempat aman. "Warga nagari Maninjau termasuk saya yang juga berada di lokasi langsung berhamburan keluar bangunan," jelasnya. Kata Abdul, bunyi gemuruh pertama yang terdengar sekira pukul 01:45 WIB dan terdapat susulan-susulan lainnya.
"Pas gemuruh pertama, kami berlarian ke bawah, tapi batu besar yang terbawa banjir bandang masih tertahan," pungkasnya. Sampai saat sekarang ujar Abdul, pihaknya sedang berada di lokasi untuk melakukan peninjauan kembali. Sementara, akibat banjir bandang tersebut, membuat beberapa rumah ikut terdampak.
"Untuk datanya kita belum bisa berikan, masih dalam tahap pendataan," katanya. "Sedangkan untuk korban jiwa tidak ada, warga juga sudah dievakuasi ke tempat aman," tambahnya.
Update Dampak Bencana
Data terbaru rekapitulasi terdampak bencana di wilayah Sumatera Barat (Sumbar) menunjukkan angka dengan total korban jiwa mencapai 262 orang. Dilansir laman BNPB Jumat (26/12/2025), sebanyak 16 kabupaten dan kota merasakan dampak langsung dari rentetan bencana alam yang melanda wilayah ini hingga akhir Desember 2025.
Petugas mencatat rekapitulasi terdampak bencana ini mencakup 72 orang yang masih dalam pencarian atau dinyatakan hilang. Selain korban jiwa, sebanyak 10 ribu warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan kini menempati lokasi pengungsian yang tersebar di berbagai titik. Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan angka rekapitulasi terdampak bencana tertinggi, mencatatkan 192 korban meninggal dunia.
Wilayah lain seperti Kota Padang, Pariaman, dan Padang Panjang juga melaporkan puluhan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur yang masif. Kerusakan bangunan meliputi 2.681 rumah warga yang masuk kategori rusak berat dan 2.919 rumah mengalami rusak sedang. Fasilitas publik tidak luput dari kerusakan, di mana terdapat 659 fasilitas pendidikan serta 7 rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang terdampak.
Akses transportasi juga mengalami kendala besar akibat 43 jembatan putus dan 74 titik jalan yang mengalami kerusakan serius. Pemerintah daerah bersama tim gabungan terus melakukan pemutakhiran data dan penyaluran bantuan kepada warga di pengungsian. Hingga saat ini, tim di lapangan masih terus memvalidasi angka rekapitulasi terdampak bencana guna memastikan seluruh bantuan tersalurkan secara tepat sasaran.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada mengingat cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di wilayah Sumatera Barat.
Rincian Korban Jiwa dan Warga Hilang
Total korban jiwa yang terdata dalam sistem rekapitulasi mencapai ratusan orang dengan rincian sebagai berikut:
- Meninggal Dunia: 262 jiwa.
- Hilang (Dalam Pencarian): 72 jiwa.
- Total Mengungsi: 10.000 jiwa (10 Ribu).
Daftar Wilayah dengan Korban Meninggal Tertinggi
Data menunjukkan sebaran korban jiwa di beberapa titik kabupaten/kota di Sumatera Barat:
- Agam: 192 orang (Wilayah terdampak paling parah).
- Padang Pariaman: 35 orang.
- Padang Panjang: 17 orang.
- Kota Padang: 11 orang.
- Pasaman Barat: 5 orang.
Data Pengungsian per Wilayah
Selain korban jiwa, infografis menunjukkan sebaran warga yang harus mengungsi dari kediaman mereka:
- Agam: 4.300 jiwa (4,3 Ribu).
- Tanah Datar: 1.600 jiwa (1,6 Ribu).
- Padang Pariaman: 848 jiwa.
- Lima Puluh Kota: 792 jiwa.
- Padang Panjang: 784 jiwa.
- Kota Padang: 455 jiwa.
- Pesisir Selatan: 326 jiwa.
Tambahan Data Kerusakan Fisik
Untuk memperkuat narasi berita, berikut rincian kerusakan bangunan yang terekam:
- Rumah Rusak Berat: 2.681 unit.
- Rumah Rusak Sedang: 2.919 unit.
- Fasilitas Pendidikan: 659 unit.
- Fasilitas Kesehatan: 7 unit.
- Tempat Ibadah: 150 unit.
- Jembatan Putus: 43 titik.
- Jalan Rusak: 74 titik.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar