Petani Maros Kesulitan Akses Pupuk Subsidi Harga Mahal

Petani Maros Kesulitan Akses Pupuk Subsidi Harga Mahal

Petani di Kecamatan Lau Kesulitan Mendapatkan Pupuk Subsidi

Petani di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mengeluhkan kesulitan dalam memperoleh pupuk subsidi jenis Urea dan Phonska. Masalah ini tidak hanya terkait kelangkaan, tetapi juga harga yang dinilai sangat tinggi.

Seorang petani asal Lingkungan Balombong, Kelurahan Mattirodeceng, Kecamatan Lau, Asri mengungkapkan bahwa stok pupuk di distributor resmi sudah habis sejak dua minggu lalu. Ia menjelaskan bahwa petani di wilayah Bantimurung dan Lau mengalami kelangkaan pupuk, khususnya Urea dan Phonska. Saat datang ke distributor, ia tidak menemukan pupuk yang tersedia.

Karena itu, petani justru diarahkan untuk membeli pupuk dari pedagang eceran dengan harga yang jauh lebih mahal, mencapai Rp125-Rp130 ribu per zak. Padahal, harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah hanya sebesar Rp90 ribu per zak. Asri mengatakan bahwa ia harus membayar sekitar Rp130 ribu untuk satu zak pupuk.

Asri menyebutkan bahwa pupuk dengan harga sesuai HET hanya tersedia di satu tempat dan stoknya cepat habis. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan pupuk petani cukup besar, terutama bagi petani yang mengelola lahan luas. Untuk lahan satu hektare, biasanya dibutuhkan tiga sak Urea dan tiga sak Phonska. Karena memiliki lahan seluas tiga hektare, ia membutuhkan total 18 zak pupuk.

Kondisi tersebut membuatnya terpaksa membeli pupuk dengan harga tinggi karena tanaman padi sudah memasuki masa pemupukan. Padi yang telah ditanam selama 15 hari membutuhkan pupuk, sehingga ia harus membeli meski dengan harga yang mahal.

Asri mempertanyakan mengapa stok pupuk subsidi bisa habis di distributor, sementara di pedagang eceran justru tersedia dalam jumlah banyak. Ia merasa terbebani dengan situasi ini.

Penjelasan dari Dinas Pertanian Kabupaten Maros

Menanggapi keluhan tersebut, Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Maros, Jamaluddin, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan konfirmasi langsung ke koordinator BPP dan pengecer di wilayah Kecamatan Lau. Ia menyatakan bahwa di sana tidak ada penjual pupuk selain pengecer resmi. Pupuk biasanya langsung didrop ke kelompok tani.

Jamaluddin menegaskan bahwa harga pupuk bersubsidi tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Untuk Urea, HET-nya adalah Rp90 ribu per sak, sedangkan untuk NPK atau Phonska adalah Rp92 ribu per sak.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan harga bisa terjadi jika petani menggunakan jasa pengantaran dari pengecer. Jika diambil langsung di gudang pengecer, harganya sesuai HET. Namun, jika diantarkan, biasanya ada tambahan biaya angkut sekitar Rp95 ribuan.

Jamaluddin juga menepis adanya penjualan pupuk bersubsidi hingga Rp125 ribu per sak di pengecer resmi. Ia menegaskan bahwa pengecer sekarang tidak berani menjual di atas HET, kecuali memang ada kesepakatan khusus dengan petani, misalnya dibayar setelah panen.

Monitoring dan Ketersediaan Pupuk

Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah memantau langsung dua pengecer di Kecamatan Lau, yakni Alpa Jaya dan UD 575. Hasil monitoring menunjukkan bahwa petani membeli Urea sesuai harga HET Rp90 ribu per sak. Saat ini, masih menunggu pasokan Urea dari Makassar.

Sementara itu, untuk pupuk Phonska, Jamaluddin mengakui bahwa saat ini stok di gudang Makassar sedang kosong. Informasi dari Pupuk Indonesia menyebutkan bahwa Phonska akan tiba dalam dua hari ke depan.

Jamaluddin menjelaskan bahwa saat ini penggunaan pupuk memang sedang memasuki puncaknya di hampir semua daerah, sementara kondisi cuaca turut memengaruhi distribusi. Ia menambahkan bahwa informasi terbaru menyebutkan bahwa kapal pembawa Urea dan Phonska sudah masuk malam ini.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan