
Pendekatan Semi-Militer dalam Pelatihan Petugas Haji
Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia sedang menyiapkan pola pendidikan dan latihan (Diklat) terpadu bagi calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M. Pola pelatihan ini mengadopsi pendekatan semi-militer, yang bertujuan untuk membentuk karakter, disiplin, kesiapan fisik, dan mental petugas dalam menjalankan tugasnya.
Pendekatan tersebut dijelaskan oleh Tim Kelompok Kerja (Pokja) Diklat PPIH di bawah Direktorat Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj RI. Dalam presentasi yang disampaikan di hadapan Menteri serta Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Tim Pokja menyampaikan konsep pelatihan yang akan diberikan kepada para petugas haji.
Pelibatan Berbagai Sektor dalam Pelatihan
Pelatihan ini dirancang dengan melibatkan berbagai instrumen lintas sektor, seperti TNI, Polri, dan tenaga kesehatan. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari penguatan sistem pembinaan petugas haji agar lebih profesional dan memiliki daya tahan tinggi di lapangan.
Anggota Tim Pokja Diklat PPIH 2026 M, Letkol Arm Tulus Widodo, menjelaskan bahwa agenda hari ini difokuskan pada pemaparan konsep dan skema pelatihan khusus bagi calon petugas PPIH Arab Saudi. Menurutnya, pelatihan ini akan terfokus pada Binjas (pembinaan jasmani) sebagai faktor penunjang utama dalam pelaksanaan tugas petugas haji.
“Faktor utama dalam mendukung pelaksanaan tugas PPIH adalah kesehatan. Karena itu, kegiatan Binjas kami susun secara terprogram dan terarah sesuai arahan Bapak Menteri,” ujarnya.
Bentuk Pelatihan yang Semi-Militer
Tulus menegaskan bahwa pelatihan ini bisa dikatakan seperti semi-militer. Namun, ia menekankan bahwa hal ini bukan berarti menjadikan petugas sebagai militer. Tujuannya adalah pendekatan semi-militer untuk membentuk karakter, disiplin, dan rasa bangga dalam melaksanakan tugas sebagai petugas haji.
Tahapan pelatihan meliputi jalan sehat, senam kebugaran, hingga latihan baris-berbaris. Semua ini difokuskan untuk membentuk karakter dan disiplin petugas.
Ia berharap, penyelenggaraan haji di bawah Kementerian Haji dan Umrah RI pada tahun 1447 H/2026 M dapat berjalan lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Harapan utama adalah pelaksanaan haji ke depan harus lebih baik. Dengan pelatihan ini, Kemenhaj bersinergi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan pelayanan maksimal yang dibekali attitude, skill, dan knowledge, sehingga petugas mampu menghadirkan pelayanan dengan senyum, salam, dan sapa atau 3S.
Fokus pada Kesiapan Fisik dan Pengetahuan
Direktur Bina Petugas Haji Reguler, Chandra Sulistio Reksoprodjo, menegaskan bahwa kesiapan fisik menjadi perhatian khusus dalam Diklat PPIH tahun ini. Selain mampu menjalankan tugas pokok dan fungsi masing-masing bidang, petugas haji harus memiliki kesiapan fisik yang memadai. Tanpa fisik yang kuat, petugas akan kesulitan menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
Chandra menambahkan, pada tahun ini Diklat PPIH tidak hanya menekankan aspek fisik, tetapi juga memperkuat pengetahuan, kesiapsiagaan, dan mitigasi risiko yang mungkin dihadapi petugas selama operasional haji.
“Kami lengkapi petugas dengan pengetahuan tambahan untuk mengantisipasi berbagai kondisi dan situasi di lapangan. Namun yang paling kami tekankan adalah bahwa tugas utama petugas haji adalah melayani jemaah,” tegasnya.
Disiplin yang Berorientasi Pelayanan
Menurut Chandra, disiplin yang dibangun melalui Diklat PPIH adalah disiplin yang berorientasi penuh pada pelayanan. Petugas harus benar-benar memahami dan mengingat tujuan utama mereka bertugas pada musim haji 1447 H/2026 M, yaitu memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah.
Dengan konsep Diklat “barak” dan pendekatan semi-militer ini, Kementerian Haji dan Umrah RI menegaskan komitmennya untuk menyiapkan petugas haji yang tangguh secara fisik, matang secara mental, disiplin, dan berfokus penuh pada pembinaan pelayanan, dan perlindungan jemaah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar