Pinjol Meledak! Utang Warga RI Tembus Rp92,9 Triliun

Pertumbuhan Pinjaman Digital yang Mencerminkan Perubahan Budaya Finansial

Pertumbuhan nilai outstanding pinjaman layanan financial technology peer to peer lending (fintech lending) atau pinjol di Indonesia terus meningkat. Pada Oktober 2025, nilai outstanding pinjol mencapai Rp 92,92 triliun. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 23,86% secara tahunan. Tren peningkatan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang hanya sebesar 22,16%.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini terjadi dalam konteks yang masih terjaga kualitasnya. Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) mencapai 2,76%, yang lebih rendah dari 2,82% pada bulan sebelumnya.

Selain itu, pertumbuhan juga tercatat pada layanan beli sekarang bayar nanti (buy now pay later/BNPL). Pembiayaan layanan paylater tumbuh sebesar 69,71% secara tahunan menjadi Rp 10,85 triliun. Meski demikian, angka pertumbuhan BNPL pada periode ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 88,65%.

Peningkatan outstanding paylater sejalan dengan penurunan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross, dari 2,92% pada September menjadi 2,79% pada Oktober. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah pinjaman semakin besar, risiko kredit macet tetap terkendali.

Sebagai informasi, total utang masyarakat melalui pinjol dan layanan paylater mencapai Rp 101,3 triliun per September 2025. Namun, tren peningkatan gagal bayar menunjukkan adanya masalah serius, terutama di kalangan anak muda.

Statistik OJK menunjukkan bahwa jumlah peminjam di bawah 19 tahun dengan pinjaman macet mencapai 21.774 akun pada semester I 2025. Angka ini melonjak 763 persen dari 2.521 akun pada semester I 2024. Sementara itu, pinjaman macet usia 19 hingga 34 tahun naik 54,4 persen secara tahunan menjadi 438.707 akun pada periode yang sama.

Faktor Penyebab Kenaikan Gagal Bayar di Kalangan Anak Muda

Menanggapi tren tersebut, Agusman menjelaskan bahwa peningkatan kredit macet pada borrower di bawah 19 tahun salah satunya disebabkan oleh rendahnya literasi keuangan di kalangan anak muda. Ia menambahkan, peningkatan ini juga terkait dengan rendahnya kesadaran pengelolaan keuangan generasi muda.

Perilaku konsumsi digital yang cepat dan mudahnya akses ke pinjaman tanpa diimbangi kemampuan finansial dan edukasi pengelolaan uang menjadi faktor utama penyebab masalah ini. Di balik angka yang tampak "aman", terjadi ledakan gagal bayar di kelompok usia mudaterutama di bawah 19 tahunyang mencerminkan celah besar dalam literasi keuangan dan perilaku konsumsi digital.

Tantangan di Masa Depan

Pertumbuhan pesat layanan BNPL memperlihatkan pergeseran budaya berutang ke pola instan tapi menjerat. Ini menunjukkan bahwa tantangan ke depan bukan hanya menjaga kualitas kredit, tetapi juga mengatasi akar masalah: kemudahan akses pinjaman yang tidak diimbangi kemampuan finansial dan edukasi pengelolaan uang.

OJK terus memantau perkembangan ini dengan harapan dapat memberikan perlindungan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak terjebak dalam siklus utang yang tidak terkendali. Edukasi keuangan dan regulasi yang tepat menjadi kunci untuk menghadapi dinamika ini.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan