
Pengelolaan Sampah Mandiri di Gunungkidul
Gunungkidul kini mengambil langkah strategis dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks. Salah satu inisiatif utama adalah penerapan pengelolaan sampah mandiri berbasis rumah tangga, yang melibatkan peran aktif masyarakat, terutama penggerak PKK di tingkat kalurahan. Dengan pendekatan ini, diharapkan masyarakat lebih sadar dan terlibat langsung dalam mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Peran Penting Penggerak PKK
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan bahwa penggerak PKK akan menjadi ujung tombak dalam edukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah mandiri. Mereka diberdayakan untuk memberikan pemahaman kepada warga agar mulai memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
“Melalui tim penggerak PKK di tingkat kalurahan, kami ingin mengedukasi masyarakat untuk mengelola sampah mandiri Masgunmaos dengan cara yang paling sederhana, yaitu memilah sampah organik dan anorganik,” ujar Bupati di Bangsal Sewokoprojo, pada Selasa (16/12/2025).
Menurut Bupati, para penggerak PKK diharapkan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Ke depan, gerakan ini akan diintegrasikan dengan program Gerbang Pagi yang dikelola Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul.
Potensi Sampah Organik
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gunungkidul, Harry Sukmono, menjelaskan bahwa tantangan pengelolaan sampah di Gunungkidul cukup besar. Di mana, timbulan sampah yang dihasilkan satu orang dalam sehari mencapai sebesar 0,049 kilogram, dengan jumlah penduduk sekitar 775 ribu jiwa.
“Jadi, total produksi sampah di Gunungkidul mencapai sekitar 38 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 47 persen merupakan sampah organik yang berasal dari sisa olahan dapur dan makanan,” kata Harry.
Menurutnya, potensi sampah organik yang besar tersebut menjadi peluang untuk diolah menjadi kompos apabila dikelola dengan baik dari sumbernya, yakni rumah tangga. Sampah organik dari rumah tangga dapat diolah menjadi kompos yang kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman di pekarangan rumah.
Bank Sampah Sebagai Solusi
Sebagai bagian dari upaya pengurangan sampah, DLH Gunungkidul juga telah membentuk 312 bank sampah yang tersebar di berbagai wilayah. Bank sampah kini menjadi salah satu instrumen penting dalam menumbuhkan semangat dan budaya mengelola sampah di masyarakat.
“Bank sampah kini menjadi salah satu instrumen penting dalam menumbuhkan semangat dan budaya mengelola sampah di masyarakat,” paparnya.
Harry menegaskan, gerakan pengelolaan sampah ini melibatkan seluruh unsur masyarakat, mulai dari pemerintah, penggerak PKK, komunitas, hingga warga di tingkat rumah tangga. Upaya tersebut diharapkan mampu membantu program pemerintah dalam menekan jumlah sampah yang harus dibuang ke TPA.
Kolaborasi Lintas Sektor
Dengan kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, Pemkab Gunungkidul optimistis pengelolaan sampah mandiri dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga.
“Dengan kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, Pemkab Gunungkidul optimistis pengelolaan sampah mandiri dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga,” ucapnya.
Harry menambahkan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat dalam keseharian. Ia berharap gerakan pengelolaan sampah mandiri dapat menjadi budaya baru yang dimulai dari rumah.
“Kami berharap masyarakat semakin sadar bahwa sampah bisa dikelola dan dimanfaatkan. Jika pemilahan dan pengolahan dilakukan sejak dari rumah, maka beban sampah yang dibuang ke TPA akan berkurang signifikan dan lingkungan menjadi lebih lestari,” urainya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar