
Ringkasan Berita:
- Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, melakukan kunjungan resmi pertama pemimpin Kanada ke Tiongkok dalam hampir satu dekade untuk bertemu Presiden Xi Jinping guna memperbaiki hubungan diplomatik yang sempat retak.
- Kunjungan ini berupaya menghidupkan kembali kemitraan strategis yang "mati suri" sejak insiden penahanan eksekutif Huawei tahun 2018
- Manuver ini juga dilakukan sebagai langkah strategis Kanada untuk membangun ekonomi mandiri dan mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat
nurulamin.proManuver luar negeri Perdana Menteri Kanada, Mark Carney pada pekan ini menjadi sorotan sejumlah pihak terutama di kawasan Amerika Utara.
Hal ini terjadi Carney akan melakukan kunjungan resmi ke China, pada Rabu ini (14/1/2025), yang juga menandai kunjungan pertama pimpinan tertinggi Kanada di Negeri Tirai Bambu dalam hampir satu dekade.
Carney sendiri tak mau menjelaskan secara gamblang terkait alasannya melakukan kunjungan ke China.
Ia hanya mau mengatakan bahwa kunjungannya ke China ini merupakan langkah guna mengantisipasi "gangguan" perdagangan global yang dialami negaranya.
“Di saat terjadi gangguan perdagangan global, Kanada berfokus untuk membangun ekonomi yang lebih kompetitif, berkelanjutan, dan mandiri,” ujar Carney dalam sebuah pernyataan.
Carney dalam pernyataannya juga menyindir AS secara implisit dengan mengatakan bahwa Kanada tak bisa tergantung lagi pada satu mitra dagang saja.
“Kami menjalin kemitraan baru di seluruh dunia untuk mengubah ekonomi kami dari ekonomi yang bergantung pada mitra dagang tunggal.” ungkap Carney.
Carney sendiri dijadwalkan bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, pada hari Jumat (16/1/2026) beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Dikutip dari Associated Press, dalam pengarahan kepada wartawan tersebut, Pejabat pemerintah Kanada juga menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali kemitraan strategis yang sempat mati suri.
Mereka juga menyoroti intervensi Washington di Venezuela yang berdampak luas.
Meskipun pejabat Kanada memprediksi adanya kemajuan terkait hambatan perdagangan dengan Beijing, mereka menegaskan tidak akan ada penghapusan tarif tertentu secara definitif.
Sementara itu, dua anggota parlemen dari kubu Carney, Helena Jaczek dan Marie-France Lalonde, memutuskan untuk mengakhiri kunjungan mereka ke Taiwan lebih awal.
Langkah ini diambil untuk menghindari "kebingungan" mengenai kebijakan Kanada terhadap China saat Carney mengunjungi Beijing.
Meski kembali pulang ke Kanada atas saran pemerintah, kedua anggota parlemen dari kubu Carney tersebut menegaskan bahwa posisi negaranya terhadap Taiwan tidak berubah.
Namun demikian, Michael Chong, kritikus urusan luar negeri dari oposisi Partai Konservatif, mengecam keputusan kubu Carney.
Ia menilai kunjungan Carney ke China itu tidak lebih dari bentuk ketundukan Kanada terhadap otoritarianisme Beijing.
Dampak Proteksionisme AS
Kunjungan Carney ke China ini dinilai banyak pihak sebagai upaya untuk membangun kembali hubungan Kanada yang sempat retak dengan China dengan peninjauan kembali kebijakan luar negeri secara besar-besaran.
Selain mempererat hubungan Ottawa dan Beijing, banyak pihak yang menilai langkah yang dilakukan Carney ini dilakukan guna mengurangi ketergantungan Kanada terhadap Amerika Serikat (AS).
Manuver ini dimaklumi oleh sejumlah pihak mengingat memburuknya hubungan Kanada dengan AS selaku mitra dagang terbesar Kanada selama ini setelah Donald Trump kembali menjabat sebagai presiden.
Hubungan kedua negara juga belakangan ini terus memanas lantaran pernyataan Donald Trump yang sempat melontarkan gagasan bahwa Kanada bisa menjadi "negara bagian ke-51" bagi Amerika Serikat
Zhu Feng, Dekan Sekolah Studi Internasional di Universitas Nanjing, China, menilai bahwa tarif yang diterapkan Trump juga menjadi faktor pendorong Kanada untuk memperkuat kerja sama internasional dengan Beijing.
“Kunjungan Carney mencerminkan adanya ruang baru bagi pengembangan hubungan China-Kanada di bawah tekanan proteksionisme perdagangan AS saat ini,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan agar tidak menilai kunjungan ini secara berlebihan, mengingat Kanada tetap merupakan sekutu dekat AS yang berbagi kedekatan geografis dan budaya.
Carney, yang menjabat kurang dari setahun menggantikan Justin Trudeau, mengikuti jejak pemimpin negara lain dalam memperbaiki hubungan dengan Beijing.
Sebelumnya, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese telah mengatur ulang hubungan sejak 2022, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga tengah mengupayakan hal serupa sejak partainya berkuasa pada 2024.
Sejarah Ketegangan Kanada dan China
Hubungan Kanada-China sendiri mulai terputus pada akhir 2018 lalu.
Hal ini terjadi setelah Kanada menahan eksekutif Huawei, Meng Wanzhou, atas permintaan AS.
China kala itu membalas dengan menangkap dua warga Kanada, Michael Kovrig dan Michael Spavor, atas tuduhan spionase.
Ketiganya baru dibebaskan pada 2021.
Baru-baru ini, Kanada mengikuti langkah AS dengan memberlakukan tarif 100 persen pada kendaraan listrik (EV) serta 25 persen pada baja dan aluminium dari China.
Beijing kemudian membalas dengan tarif pada ekspor kanola, makanan laut, dan daging babi asal Kanada.
China kemudian mengisyaratkan akan mencabut tarif tersebut jika Kanada menghapuskan biaya tambahan pada kendaraan listrik.
Setelah aksi saling balas tersebut terjadi, pada akhirnya di pekan ini Carney melakukan kunjungannya ke China untuk memperbaiki keretakan hubungan yang ada.
Media pemerintah China, Global Times pun menyambut kunjungan Carney sebagai titik awal baru dan mendesak Kanada untuk mencabut "pembatasan tarif yang tidak masuk akal."
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan harapan agar kunjungan ini menjadi peluang untuk memperkuat momentum perbaikan hubungan kedua negara.
Selain China, Carney juga berupaya memperbaiki hubungan dengan India yang sempat memburuk pada 2024.
Setelah kunjungan ke China hingga Sabtu mendatang, Carney dijadwalkan mengunjungi Qatar sebelum menghadiri Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pekan depan.
(nurulamin.pro/Bobby)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar