PMI Lhokseumawe Terpaksa Berjalan Kaki 78 Km Akibat Jalan Terputus

PMI Lhokseumawe Terpaksa Berjalan Kaki 78 Km Akibat Jalan Terputus

Rombongan PMI Lhokseumawe Berjalan Kaki Selama 24 Jam untuk Melintasi Jalan yang Ambles dan Longsor

Rombongan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Lhokseumawe, M Agam Khalilullah, terpaksa berjalan kaki sejauh 78,4 km dari Kabupaten Bener Meriah ke Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Perjalanan ini dilakukan karena jalan KKA (Bener Meriah-Aceh Utara) mengalami ambles dan penuh longsoran. Medan yang dilalui sangat berat, dengan banyak titik jalan yang putus total dan kondisi jalan yang dipenuhi lumpur serta batu akibat bencana alam.

Perjalanan dimulai pada pukul 17.00 WIB atau pukul 5 sore dari Bener Meriah. Meski harus melalui medan yang sangat berbahaya, rombongan tetap berupaya melintasi jalur tersebut dengan penuh kehati-hatian. Di tengah perjalanan, mereka sempat beristirahat sambil makan seadanya dari bekal yang dibawa. Mereka tiba di lokasi pengungsian warga setempat sekitar pukul 22.00 WIB atau pukul 10 malam.

Pada pagi hari berikutnya, tepatnya pukul 06.00 WIB, rombongan kembali berjalan kaki. Medan yang dilalui masih sangat berat, dengan beberapa titik jalan yang amblas dan banyak longsoran. Menurut Agam, terdapat sekitar delapan titik jalan yang putus total, sementara longsoran menyebar di berbagai bagian jalur.

Setelah melewati Gunung Salak, yang berada dalam wilayah Aceh Utara, medan mulai lebih ringan. Meskipun begitu, ada beberapa lokasi yang masih tertutup longsoran atau jalan amblas. Pada pukul 17.00 WIB, rombongan tiba di Simpang KKA Aceh Utara dengan selamat. Dari sana, mereka mengisi daya handphone dan meminta temannya untuk menjemput mereka.

Setelah dijemput, rombongan kembali menggunakan mobil untuk pulang ke Lhokseumawe. Agam mengimbau kepada warga untuk menghindari perjalanan lintas KKA saat ini, karena kondisi medan yang sangat berbahaya.

Korban Banjir Aceh Utara Terus Bertambah

Sementara itu, jumlah korban meninggal akibat banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara terus bertambah. Hingga Senin (1/12/2025), jumlah korban meninggal mencapai 81 orang. Selain itu, 90 warga lainnya masih hilang.

Banjir yang berlangsung selama lima hari terakhir disebabkan oleh cuaca ekstrem, tingginya curah hujan, dan kedangkalan sungai. Situasi diperparah oleh jebolnya beberapa tanggul dan tebing sungai di Kecamatan Samudera, Nibong, Lhoksukon, dan Langkahan, serta meluapnya aliran Krueng Keureuto, Krueng Ajo, Krueng Nisam, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Sawang.

Bupati Aceh Utara, H Ismail A Jalil, MM (Ayah Wa), turun langsung ke lapangan untuk memastikan distribusi logistik bagi puluhan ribu pengungsi yang tersebar di ratusan titik pengungsian. Namun, upaya penanganan semakin sulit karena pemadaman total jaringan listrik dan komunikasi di sebagian besar wilayah Aceh Utara.

Internet dan layanan telepon tidak berfungsi, sehingga menghambat penyampaian laporan darurat, koordinasi evakuasi, dan distribusi logistik. Banyak permukiman penduduk masih terendam banjir dan lumpur, sehingga akses petugas menuju lokasi pengungsian juga terhambat.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan