Prabowo Minta Maaf ke Warga Aceh, Janji Percepat Pemulihan Saat Krisis Listrik

Presiden Prabowo Subianto Tinjau Wilayah Terdampak Banjir Bandang Aceh

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, melakukan kunjungan kerja ke Aceh untuk meninjau langsung kondisi masyarakat yang terdampak banjir bandang. Kunjungan ini menjadi yang ketiga sejak bencana terjadi, dan di dalamnya ia mengunjungi posko pengungsian di kawasan Jembatan Aceh Tamiang serta berdialog langsung dengan para penyintas.

Dalam kesempatannya, Presiden menyampaikan bahwa pemerintah telah bekerja maksimal untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Namun, ia juga mengakui bahwa pemulihan pasokan listrik di beberapa wilayah masih menghadapi tantangan besar. Ia menjelaskan bahwa kendala tersebut disebabkan oleh kondisi lapangan yang sangat sulit.

Mungkin listrik yang belum ya, listrik sudah mulai. Kita berusaha, kita tahu di lapangan sangat sulit, keadaannya sulit, ujar Presiden.

Selain itu, Presiden juga menyampaikan permintaan maaf apabila masih ada kebutuhan warga yang belum terpenuhi. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus memberikan bantuan kepada semua masyarakat yang terdampak.

Kami akan turun membantu semuanya. Saya minta maaf kalau masih ada yang belum terpenuhi, kata Presiden.

Ia menambahkan bahwa pemerintah dan seluruh unsur terkait bekerja sama untuk mempercepat pemulihan kondisi masyarakat. Dengan situasi yang sulit, ia berharap masyarakat dapat segera pulih dan kembali normal.

Keadaannya sulit, jadi kita atasi bersama. Mudah-mudahan kalian cepat pulih, cepat kembali, cepat normal, ucapnya.

Presiden menegaskan bahwa pendampingan pemerintah akan terus dilakukan hingga situasi benar-benar kembali seperti sedia kala.

Insya Allah, bersama-sama kita akan memperbaiki keadaan ini, lanjutnya.

Pemulihan Kelistrikan Baru Mencapai 36 Persen

Sejak banjir bandang melanda akhir November 2025, sejumlah wilayah di Aceh mengalami gangguan listrik yang cukup parah. Hingga 11 Desember 2025, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa tingkat pemulihan baru mencapai 36 persen.

Beberapa kabupaten yang paling terdampak adalah Aceh Tamiang dan Aceh Utara, di mana banyak desa masih gelap total dan warga mengandalkan genset pribadi. Di Banda Aceh dan Aceh Besar, pemadaman bergilir diterapkan untuk menjaga stabilitas sistem.

PLN mengungkapkan bahwa kerusakan paling serius terjadi pada infrastruktur transmisi. Sebanyak lima tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV di jalur LangsaPangkalan Brandan roboh, sementara tujuh tower lainnya mengalami kerusakan berat akibat banjir dan pergeseran tanah. Selain itu, terputusnya akses jalan turut mempersulit mobilisasi tim teknis serta distribusi material perbaikan.

PLN dan ESDM Sampaikan Permohonan Maaf

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, dan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Aceh atas keterlambatan pemulihan. Keduanya memastikan bahwa personel gabungan bekerja 24 jam penuh untuk mempercepat proses penormalan sistem kelistrikan.

Upaya ini dilakukan dengan mengerahkan tim tambahan, memperbaiki jaringan transmisi, serta membuka akses-akses yang terputus akibat bencana. Mereka berkomitmen untuk terus berupaya agar masyarakat dapat segera kembali mendapatkan pasokan listrik yang stabil.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan