Prajurit TNI Asahan Tewas Diduga Dianiaya Saat Tugas di Papua

Prajurit TNI Asahan Tewas Diduga Dianiaya Saat Tugas di Papua

Kematian Prajurit TNI di Papua Diduga Akibat Penganiayaan Senior

Seorang prajurit TNI asal Asahan, Pratu Farkhan, diduga tewas akibat penganiayaan oleh senior di tempat tugasnya di Papua. Peristiwa ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat luas.

Pratu Farkhan saat itu sedang menjalankan tugas sebagai anggota Satgas Pamtas RI–PNG Yonif 113/Jaya Sakti. Ia berasal dari Dusun Empat Hessa Air Genting, Asahan. Menurut keterangan keluarga, peristiwa berawal ketika ia berada di dekat perapian untuk menghangatkan tubuh.

Tak lama kemudian, seorang senior dengan pangkat Sersan mendekati dan menanyakan kondisi kesehatannya. Pratu Farkhan mengaku sedang tidak enak badan dan sempat dipijat oleh senior tersebut. Namun, situasi berubah drastis ketika seorang prajurit lain dengan pangkat Kopral datang dan memanggil Pratu Farkhan untuk menjauh dari perapian.

Di lokasi terpisah inilah dugaan tindakan kekerasan terjadi. Zakaria, ayah dari Pratu Farkhan, menyampaikan bahwa anaknya ditanya lalu disuruh tunduk. Setelah itu, ia dipukul menggunakan ranting ke bagian punggung.

“Informasinya anak saya ditanya lalu disuruh tunduk. Setelah itu dipukul menggunakan ranting ke bagian punggung,” ujar Zakaria.

Zakaria juga menyebut bahwa anaknya ditendang hingga terjatuh dan tersungkur ke tanah. Dalam kondisi tertekan, Pratu Farkhan disebut sempat melawan sebelum akhirnya kembali ditendang hingga tersungkur.

Peristiwa ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran tentang adanya praktik kekerasan di lingkungan militer. Keluarga korban meminta agar kasus ini segera ditangani secara transparan dan adil. Mereka juga berharap bisa mendapatkan keadilan atas kematian anak mereka.

Beberapa pihak mulai menyoroti pentingnya menjaga etika dan disiplin dalam lingkungan militer. Penganiayaan terhadap rekan sesama prajurit tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga merusak citra institusi yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan dan kesetaraan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus serupa pernah muncul, namun jarang mendapat perhatian yang cukup. Kali ini, kasus Pratu Farkhan menjadi peringatan bahwa tindakan kekerasan harus dihindari dan dihentikan secepat mungkin.

Keluarga korban juga memohon dukungan dari masyarakat dan lembaga terkait agar dapat membantu proses penyelidikan dan penuntutan. Mereka berharap kasus ini tidak menjadi satu-satunya dan akan menjadi awal perubahan dalam sistem militer Indonesia.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan