Pratu Farkhan Meninggal Diduga Dianiaya Senior, Sempat Hubungi Ibu Curhat Kondisi

Pratu Farkhan Meninggal Diduga Dianiaya Senior, Sempat Hubungi Ibu Curhat Kondisi

Kematian Pratu Farkhan Syauqi Marpaung: Dugaan Penganiayaan oleh Senior di TNI

Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti Aceh, tewas saat bertugas di perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Kematian yang terjadi pada Rabu (31/12/2025) ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan juga mengundang pertanyaan tentang kebijakan disiplin dalam militer.

Sebelum meninggal, Pratu Farkhan sempat menelepon ibunya dan berbicara tentang kondisinya. Ia mengatakan sedang sakit dan curiga mengidap tipes atau malaria. Namun, ia memastikan bahwa dirinya masih baik-baik saja di tempat tugasnya. Perkataan itu dibagikan oleh ibunya, Marsinah Wati Silalahi, kepada media setelah kematian putranya.

"Anakku bilang Tuah sakit mak, kayanya tipes atau malaria. Tapi tuah baik-baik aja disini Mak," ujar Marsinah. Namun, ia menyebut bahwa anaknya tetap dianiaya oleh seorang kopral. "Tak percaya orang itu, anakku sakit," tambahnya dengan air mata yang jatuh.

Pratu Farkhan kemungkinan lulus Sekolah Calon Tamtama (Secaba) antara 2023 hingga 2024. Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS), tempat Pratu Farkhan berdinas, adalah satuan militer TNI AD di bawah Kodam Iskandar Muda (Kodam IM) wilayah Aceh. Markas utamanya berada di Jalan Bireuen-Takengon Km 7, Desa Juli, Kecamatan Bireuen, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Kronologi Kematian Pratu Farkhan

Zakaria Marpaung, ayah Pratu Farkhan, mengungkap bagaimana putranya tewas. Awalnya, kata Zakaria, putranya sedang tidak enak badan. Ia mencoba menghangatkan tubuh di dekat perapian. Lalu, datang seorang seniornya berpangkat Sersan, yang membantu memijat anaknya.

Namun, tak lama kemudian, seorang Kopral datang. Kopral ini memanggil Pratu Farkhan dan menanyainya. Zakaria menjelaskan bahwa anaknya diajak ke samping, lalu diminta untuk tunduk dan dipukul menggunakan ranting.

"Sikap tobat dalam konteks TNI adalah posisi hukuman disiplin, di mana prajurit meletakkan kepala di tanah, mengangkat pantat ke atas tanpa lutut menyentuh ground, serta tangan di pinggang belakang seperti sikap istirahat," jelas Zakaria.

Saat diminta melakukan sikap tobat, Pratu Farkhan sempat melawan. "Aku bangga sama anak ku. Yang ku kecewakan, anak ku mati bukan di ujung senjata GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Anak ku mati di bawah tangan dan kaki seorang TNI," ujar Zakaria dengan suara bergetar.

Trauma Pakaian Dinas TNI

Zakaria mengaku mendapatkan kabar putranya meninggal dari keponakannya yang juga bertugas di satuan TNI. Kabar tersebut membuat jantungnya nyaris terhenti karena mendengar nyawa anaknya meninggal bukan di ujung senjata kelompok sparatis, melainkan di bawah tangan seniornya sendiri.

"Aku bicara hari ini, bukan hanya untuk anakku Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, tapi untuk anak-anak semua yang berada di level terendah di TNI atau tamtama," ujar Zakaria. Ia menyebut bahwa tantama hingga saat ini masih menjadi korban bullying dari para senior sehingga tidak menutup kemungkinan hingga menjerumus ke kekerasan.

"Seragam TNI itu adalah seragam kebangganku, seragam kebanggan anakku. Tapi aku berharap, jangan ada yang pakai baju dinas TNI untuk ke rumah duka kami ini. Aku trauma," katanya.

Ia mengaku trauma dengan pakaian dinas TNI setelah anaknya diduga mengalami penganiayaan oleh seniornya. "Kalau melihat orang berpakaian dinas, aku merasa kalau yang datang itu si kopral kurang ajar itu," ujarnya.

"Kalau tidak, jumpakan aku dengan Kopral kurang ajar itu. Biar beradu nyawa aku juga sanggup dengan dia itu," pungkasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan