Kancil Pintar dan Kebijakan Hijau yang Tidak Sepenuhnya Hijau
Di sebuah negeri yang dulu dikenal sebagai surga hutan tropis, kini hanya tersisa pemandangan yang menyedihkan. Tanah gundul dengan warna coklat menggantikan keindahan hijau yang pernah ada. Jalur-jalur tanah merah seperti bekas luka menghiasi permukaan bumi, sementara barisan sawit berdiri tegak seperti pasukan robot yang tak pernah lelah menghasilkan minyak goreng.
Di tengah puing-puing kehijauan itu, tinggallah seekor kancil yang dikenal cerdas. Bukan sembarang kancil, ia adalah mantan juru bicara burung beo di parlemen hutan. Parlemen itu kini telah dibongkar untuk dijadikan lahan parkir traktor. Suatu hari, ketika matahari menyengat dan angin membawa aroma asap dari pembakaran ilegal, Kancil sedang bersantai di atas batu besar. Tempat itu dulunya menjadi tempat istirahat harimau tua, sekarang jadi spot foto para pengusaha sawit.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara mesin jet pribadi yang mendarat dramatis di ladang kosong yang dulu menjadi rumah orang utan. Turunlah Sang Presiden Negeri Tetangga, berpakaian rapi dengan senyum mempesona. Ia mengulurkan tangan kanannya, siap menyalami siapa saja—bahkan mungkin salaman dengan pohon kelapa yang masih hidup.
"Halo, Kancil! Aku baru saja menandatangani komitmen mulia!" serunya dengan nada seperti narator iklan sabun wajah. "Aku akan menghibahkan Rp16 triliun ke Amazon untuk menanam kembali hutan tropis mereka yang gundul!"
Kancil, yang sedang asyik mengemil buah durian yang masih bisa ditemukan di antara reruntuhan pepohonan, menoleh pelan. Matanya berbinar, tapi bukan karena kagum, lebih ke skeptis.
"Wah, mulia sekali, Yang Mulia," jawab Kancil sambil mengunyah pelan. "Tapi... hutan kita sendiri? Yang tanahnya sekarang lebih mirip kue coklat yang dikupas lapisannya daripada ekosistem?"
Harimau Gagah, yang sekarang lebih sering disebut The Green Ambassador of the East, tertawa kecil lalu menyisir bulunya yang agak kusam dengan gaya diplomatik. "Ah, itu urusan lokal, Kancil. Di sini, kita punya solusi modern: greenwashing. Sawit juga hijau, kan? Bahkan lebih hijau dari daun kelapa karena daunnya lebar-lebar. Dan kalau ditanya 'kenapa gundul?' kita jawab: 'Ini bukan gundul, ini land clearing for sustainable development!'"
Kancil mengangkat alis. "Jadi, kamu mau beli hutan di Brasil biar orang bilang kamu peduli lingkungan, tapi di rumah sendiri kamu jual tanahnya buat bikin pabrik minyak goreng?"
Harimau mengangkat bahu, seolah-olah itu hal biasa. "Bukan jual, Kancil. Ini strategic land reallocation. Biar bisa jadi global green ambassador. Kalau hutan kita ditanami pohon lagi, mana bisa kita foto bareng presiden Brasil sambil tersenyum di depan latar belakang sawit yang rapi-rapi? Itu namanya image building."
Kancil menghela napas panjang, lalu berdiri. "Kalau begitu, aku mau jadi menteri. Aku bakal kasih Rp16 triliun ke Antartika buat tanam pohon kelapa. Biar esnya nggak cair. Soalnya, katanya pohon kelapa juga hijau. Dan kalau ditanya 'kenapa di Antartika?' aku jawab: 'Ini bagian dari global cooling initiative. Dan ya, kelapa juga bisa dipake buat bikin sabun. Jadi, sama-sama menguntungkan alias win-win!'"
Harimau tertawa terpingkal-pingkal, sampai-sampai nyaris tersedak oleh udara yang penuh debu kayu. "Kamu ini lucu, Kancil. Tapi... kamu nggak punya partai. Dan nggak bisa ngomong di depan kamera sambil pegang mikrofon yang disponsori oleh perusahaan sawit."
Kancil menatap Harimau dengan tatapan yang seolah berkata, "Kamu tahu, aku bisa jadi lebih lucu kalau kamu nggak terlalu serius."
Dan sejak hari itu, Kancil jadi legenda. Bukan karena dia menyelamatkan hutan, tapi karena dia satu-satunya yang berani bilang:
"Kalau kamu peduli hutan, kenapa nggak mulai dari halaman rumahmu? Atau minimal, jangan jual tanahnya buat bikin logo 'Go Green' di kantor."
Sementara itu, Harimau masih sibuk menghitung dolar dan memilih pose foto untuk press release berikutnya: "Presiden Negeri Tetangga Komit Tanam Rp16 Triliun ke Dana Hutan Tropis Amazon: Pulihkan Hutan Tropis... dan pulihkan citra politik. Bahkan berjanji memasukan bahasa Tarzan Amazon dalam kurikulum."
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar