Presiden Venezuela ditangkap pasukan elite AS, akan diadili di Amerika

CARACAS, nurulamin.pro - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (3/1/2026) menyatakan, operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS.

Trump akan menyampaikan informasi lebih lanjut dalam konferensi pers pada pukul 11.00 pagi waktu setempat (23.00 WIB) di resor pribadinya, Mar-a-Lago, Florida.

Pejabat AS mengatakan kepada Reuters, Maduro ditangkap oleh satuan pasukan khusus elite.

Senator Partai Republik Mike Lee mengungkapkan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberitahunya bahwa Maduro akan diadili atas tuduhan kriminal di Amerika Serikat.

“Rubio memperkirakan tak ada tindakan lebih lanjut di Venezuela sekarang setelah Maduro dalam tahanan AS,” tulis Lee dalam unggahannya di platform X, dikutip dari Reuters.

Mengapa AS tangkap Maduro?

Berdasarkan klaim Trump, operasi militer di Venezuela berlangsung singkat, tetapi intens, dengan target utama penangkapan Maduro.

Sebelum serangan di Venezuela berlangsung, Washington menuduh Maduro memimpin "negara narkoba” dan memanipulasi hasil pemilihan presiden 2024.

Oposisi Venezuela menilai pemilihan tersebut dimenangi secara telak oleh pihak oposisi, tetapi dibatalkan oleh pemerintahan Maduro.

Maduro, mantan sopir bus berusia 63 tahun yang ditunjuk langsung oleh Hugo Chavez sebelum wafat pada 2013, membantah tuduhan itu.

Ia menyebut tudingan AS sebagai dalih untuk menguasai cadangan minyak Venezuela, salah satu yang terbesar di dunia.

Trump juga menuding Venezuela menjadi jalur transit utama kokain serta berkontribusi terhadap krisis fentanil yang melanda AS.

Dalam konteks itu, Washington menetapkan dua kelompok kriminal asal Venezuela, yakni Tren de Aragua dan Cartel de los Soles, sebagai Organisasi Teroris Asing.

Trump bahkan menuduh Cartel de los Soles dipimpin langsung oleh Maduro. Pemerintah Venezuela menilai, tudingan tersebut sebagai upaya mempolitisasi perang melawan narkoba demi menggulingkan pemerintahan Caracas.

Intervensi pertama AS di Amerika Latin sejak 1989

Serangan ke Venezuela menjadi intervensi langsung pertama AS di kawasan Amerika Latin sejak invasi ke Panama pada 1989.

Kala itu, invasi Amerika bertujuan menggulingkan pemimpin militer Manuel Noriega yang juga dituduh terlibat perdagangan narkoba.

Pemerintah Venezuela menyatakan, serangan pada Sabtu dini hari menimbulkan korban jiwa dari kalangan sipil maupun militer, tetapi tidak menyebutkan jumlah pastinya.

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino mengecam keras operasi militer tersebut.

“Venezuela yang bebas, merdeka, dan berdaulat menolak dengan segenap kekuatan sejarah kebebasannya kehadiran pasukan asing ini, yang hanya menyisakan kematian, penderitaan, dan kehancuran,” ujar Padrino dalam pernyataan video yang disiarkan melalui stasiun tv pemerintah.

“Hari ini kita mengepalkan tinju untuk membela apa yang menjadi milik kita. Mari kita bersatu karena dalam persatuan rakyat kita akan menemukan kekuatan untuk melawan dan menang,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello tampil di siaran televisi nasional dengan mengenakan helm dan rompi antipeluru.

Ia turun langsung ke jalanan dan mengimbau masyarakat agar tidak bekerja sama dengan musuh.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan