
Kematian Pria Akibat Infeksi Rabies dari Transplantasi Ginjal
Seorang pria di Amerika Serikat (AS) meninggal dunia setelah menerima transplantasi ginjal dari donor yang terinfeksi virus rabies. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran besar dalam dunia medis, mengingat risiko penularan penyakit mematikan melalui organ donor.
Pria tersebut tidak disebutkan identitasnya dan awalnya tampak sehat setelah menerima transplantasi ginjal. Namun, lima minggu setelah operasi, ia mulai mengalami gejala kesehatan yang mencurigakan seperti tremor, kelemahan, kebingungan, dan inkontinensia urine. Beberapa hari kemudian, kondisinya semakin memburuk dengan gejala demam, kesulitan menelan, serta rasa takut terhadap air. Gejala-gejala ini menjadi tanda khas infeksi rabies.
Setelah dirawat selama seminggu di rumah sakit, pria tersebut dinyatakan meninggal dunia. Penyebab kematian akhirnya diketahui sebagai infeksi rabies yang berasal dari donor.
Penyebab Infeksi Rabies pada Donor
Menurut laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), ginjal yang diterima oleh pria tersebut berasal dari seorang pria asal Idaho. Pada Oktober 2024, pria tersebut terkena cakaran dari seekor sigung. Dua bulan kemudian, ia mulai menunjukkan gejala seperti berhalusinasi, kesulitan berjalan dan menelan, serta leher yang kaku. Setelah dua hari gejala muncul, ia pingsan dan diduga mengalami serangan jantung. Ia tidak sadarkan diri dan segera dibawa ke rumah sakit, di mana akhirnya dinyatakan meninggal.
Saat organ-organnya didonorkan, keluarganya telah memberi tahu dokter tentang cakaran sigung tersebut. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa virus rabies yang menyerang pria tersebut berasal dari kelelawar. Ini menunjukkan bahwa sigung itu terinfeksi rabies dari kelelawar.
Kejadian Langka dalam Dunia Medis
Direktur divisi penyakit menular di Cincinnati Childrens Hospital Medical Centre, Lara Danziger-Isakov, menyebut kejadian ini sangat langka. Biasanya, para donor akan diuji untuk virus seperti HIV dan hepatitis, tetapi tidak termasuk rabies. Menurutnya, risiko penularan rabies melalui transplantasi organ sangat kecil.
Ini adalah kejadian yang sangat langka. Secara keseluruhan, risikonya sangat kecil, kata dia.
Dari catatan CDC, ini merupakan kasus keempat dalam hampir 50 tahun terakhir di mana virus rabies ditularkan melalui transplantasi organ. Hal ini menunjukkan betapa jarangnya kejadian seperti ini terjadi, namun juga menegaskan pentingnya pengujian yang lebih ketat terhadap donor organ.
Tindakan yang Diambil Pasca-Kasus
Setelah kejadian ini, CDC dan organisasi kesehatan lainnya akan melakukan evaluasi ulang terhadap prosedur pengujian donor organ. Mereka akan memastikan bahwa semua donor diuji secara menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Selain itu, pasien-pasien yang menerima organ dari donor yang sama juga sedang dipantau untuk memastikan mereka tidak terinfeksi rabies. Hal ini menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan pasien dan memastikan bahwa transplantasi organ tetap aman.
Kasus ini menjadi peringatan bagi dunia medis tentang pentingnya transparansi dan pengujian yang ketat dalam proses donor organ. Meskipun kejadian seperti ini sangat langka, dampaknya bisa sangat serius dan bahkan berujung pada kematian. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran dan penguatan protokol pengujian menjadi hal yang sangat penting.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar