Prof Maxs Sanam, Dari Penjual Pisang Goreng Jadi "Sang Dirigen" Undana Unggul

Prof Maxs Sanam, Dari Penjual Pisang Goreng Jadi "Sang Dirigen" Undana Unggul

Perjalanan Kehidupan Prof. Dr. drh. Maxs U. E. Sanam M.Sc

Perjalanan hidup seorang tokoh sering kali menjadi inspirasi bagi banyak orang. Prof. Dr. drh. Maxs U. E. Sanam M.Sc, mantan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), adalah salah satu contohnya. Buku biografinya yang berjudul Sang Dirigen baru saja diluncurkan dan menjadi momen penting untuk menggambarkan perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga menjadi pemimpin universitas.

Buku ini dibuka dengan penggambaran paling jujur tentang masa kecil Prof. Maxs. Dari tangan kecil yang dulu menjinjing baki pisang goreng, hingga tangan yang kini memegang tongkat kepemimpinan universitas, perjalanan Prof. Maxs seolah menegaskan bahwa orkestra kesuksesan hanya dapat dimainkan oleh mereka yang tidak pernah berhenti melangkah.

Masa Kecil yang Penuh Tantangan

Setiap pulang sekolah di GMIT Kuanino 1, ia membantu sang ibu menjual pisang goreng dan nogosari. Kehidupan sederhana itu diperberat dengan fakta bahwa hingga kelas 2 SD ia belum bisa membaca, kondisi yang sempat membuatnya mendapat kekerasan dari guru. Namun dari keterpurukan itulah tekadnya tumbuh. Maxs muda berjalan menembus batas: diterima di SMPN 1 Kupang, SMAN 1 Kupang, hingga meraih beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Solo.

Perjalanan akademiknya memuncak ketika ia menembus Universitas Gadjah Mada (UGM), sebuah lompatan besar bagi anak yang pernah dianggap tidak mampu membaca.

Karier Akademik yang Menginspirasi

Setelah kembali ke Kupang sebagai dosen, ia meniti karier akademiknya hingga menjadi guru besar pertama Ilmu Kesehatan Hewan Undana, sebelum akhirnya dipercaya sebagai Rektor pada 2021. Bab kedua buku tersebut menyoroti sosok penting di balik keberhasilan Prof. Maxs, yaitu istrinya, drh. Hembang Murni Pancasilawati. Bersama dua putri mereka Sherly dan Nana, keluarga menjadi rumah pulang yang menjaga keseimbangan hidup sang rektor.

Mereka digambarkan sebagai penopang diam-diam, yang hadir dalam setiap tekanan akademik dan hiruk-pikuk birokrasi. Bahwa seorang pemimpin dapat berdiri teguh, sebagian besarnya adalah karena keluarga yang menjaga jiwanya tetap utuh.

Sosok yang Sederhana dan Berjiwa Besar

Bagian ketiga buku ini memotret sosok Prof. Maxs di luar ruang rapat dan podium resmi. Ia dikenal sederhana, setia, dan tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun. Kesaksian para kolega memperlihatkan satu hal yang konsisten: ia adalah pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya.

Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng, yang merupakan mantan wakil rektor Undana yang saat ini menjabat sebagai Rektor Undana, mengatakan bahwa Prof. Maxs memberi kepercayaan besar pada kami yang masih muda. Ia tulus, sabar, dan bahkan ketika marah, tegurannya tetap membangun, tidak pernah merendahkan.

Karakter itu pula yang membuatnya tahan menghadapi kritik dan hinaan, tetap tenang, tetap rendah hati.

Pesan yang Menyentuh

Dalam peluncuran buku, Jumat (12/12), Prof. Maxs memberi pesan yang mencerminkan jati dirinya. Berubah bukan karena pujian, tapi karena kritik. Kesederhanaan bukan gaya hidup, tapi prinsip moral.

Metafora dirigen menjadi poros bab keempat dalam buku ini. Seperti pemimpin orkestra, Prof. Maxs tidak memimpin dengan suara keras, tetapi dengan ketepatan arah dan ketenangan batin. Di bawah kepemimpinannya selama empat tahun, Undana mencatat kelahiran 36 guru besarlonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ia dipuji karena kemampuan mengharmonikan berbagai karakter sivitas akademika menuju satu visi: Undana Unggul di tingkat nasional maupun internasional.

Buku Sebagai Dokumentasi Penting

Buku ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan soal dominasi, melainkan tentang menciptakan irama yang membuat semua bergerak serempak. Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng, juga mengatakan peluncuran buku ini sebagai dokumentasi penting untuk generasi Undana.

Buku ini menunjukkan kepada publik bahwa sosok inspiratif bernama Prof. Maxs benar-benar memberikan warna bagi Undana. Sejarah, peran, dan kontribusinya terdokumentasi dengan sangat baik, ungkapnya.

Jefri menambahkan, Prof. Maxs adalah pemimpin yang luar biasa sabar, bahkan saat menerima kritik paling keras sekalipun.

Penutup

Buku Sang Dirigen akhirnya menjadi lebih dari sekadar biografi; ia menjadi cermin bahwa perjalanan besar bisa lahir dari titik kecil yang tampak tidak menjanjikan. Dari seorang anak yang menjajarkan pisang goreng, Prof. Maxs tumbuh menjadi pemimpin yang mengarahkan Undana dengan harmoni, integritas, dan kesederhanaan yang teguh.

Kini, setelah tidak lagi menjabat, publik menantikan kontribusi barunya sebagai guru besar. Seperti orkestra yang berganti tempo, Prof. Maxs melangkah ke bab berikutnyatetap setia pada musik pengabdian yang sejak awal ia pilih.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan