
SURABAYA, berita
Seorang ahli dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR), Suryani Dyah Astuti, telah menciptakan alat deteksi dini kesegaran bahan pangan yang bernama Aenose. Alat ini menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk membantu mengidentifikasi kualitas bahan pangan secara lebih efisien.
Awal Mula Pengembangan Aenose
Suryani menjelaskan bahwa inovasi Aenose terinspirasi dari keberhasilan e-nose buatan UGM dalam mendeteksi dini infeksi virus Covid-19. Ia dan timnya tertarik untuk mengadaptasi teknologi ini dalam bidang pengawasan bahan pangan.
Kami ingin memanfaatkan E-Nose atau Electronic Nose, yang meniru cara kerja hidung manusia, untuk digunakan dalam deteksi dini bahan pangan, ujarnya pada Jumat (12/12/2025).
Setelah melakukan benchmarking dengan penemu E-Nose, Kuwat Triyana di UGM, Suryani bersama mahasiswa pascasarjana UNAIR kemudian mengembangkan sistem tersebut menjadi Aenose. Alat ini dilengkapi dengan sensor TGS maupun sensor MQ yang dirancang khusus untuk mendeteksi pengawetan bahan pangan.
Keunggulan Aenose
Salah satu keunggulan utama dari Aenose adalah kemampuannya mengklasifikasikan tingkat kesegaran daging secara cepat, portable, dan non-destructive (tidak merusak bahan).
Sensor ini mampu mengklasifikasikan daging yang tidak segar maupun daging yang segar dengan akurasi yang sangat tinggi, yaitu 90 persen, jelas Suryani.
Cara kerjanya mirip dengan indra penciuman manusia, yang bersifat subjektif dan dipengaruhi kondisi kesehatan organ tersebut. Aenose menggunakan sistem sensor larik (sensor array) yang mendeteksi berbagai jenis bau hasil metabolisme daging atau kontaminasi bakteri. Bau tersebut kemudian dikonversi menjadi sinyal listrik dan dianalisis menggunakan komputasi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi atau mengklasifikasi status kesegaran daging tersebut.
Tantangan dalam Pengembangan
Dalam proses pengembangannya, Prof. Suryani mengakui adanya tantangan, terutama terkait ketersediaan komponen elektronik dan sensor yang sebagian besar masih harus diimpor.
Tantangan utama adalah ketersediaan bahan sehingga kami harus memutar otak untuk dapat mengganti dengan komponen lain yang sama dengan kualitas yang lebih baik, tuturnya.
Meskipun demikian, upaya hilirisasi terus dilakukan. Saat ini, pengembangan Aenose telah bekerja sama dengan mitra industri, PT Sarandi Karya Nugraha yang bergerak di bidang alat kesehatan.
Inovasi Lain yang Dikembangkan
Selain Aenose, Suryani juga tengah mengembangkan produk lain seperti Skinolaser untuk percepatan penyembuhan luka pasca operasi yang kini dalam tahap uji klinik, serta laser perikanan untuk budidaya ikan.
Pesan untuk Generasi Muda
Ia berpesan kepada dosen muda dan mahasiswa untuk berani berinovasi dan konsisten. Ia menekankan pentingnya membuat roadmap penelitian yang jelas dari masalah nyata di sekitar kita.
Jangan takut mencoba, karena proses pengembangan selalu penuh tantangan dan kegagalan, tetapi dari situlah kita belajar dan memperbaiki konsep, ucapnya.
Selain itu, penting untuk membangun dasar teknis yang kuat dan terus memperbarui pengetahuan, terutama mengikuti perkembangan teknologi terkini. Kolaborasi lintas disiplin ilmu dengan industri juga sangat berharga untuk membuka perspektif baru dan mempercepat proses inovasi.
Generasi muda, utamanya Gen Z memiliki banyak sekali wawasan dan ide kreatif. Teruslah bermimpi, konsisten, tetaplah memiliki rasa ingin tahu dan semangat untuk memberi manfaat. Invensi yang baik bukan hanya inovatif, tetapi juga membawa dampak nyata bagi masyarakat, pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar