
Profil Chanee Kalaweit, Aktivis Lingkungan yang Menggemparkan Media Sosial
Chanee Kalaweit adalah seorang aktivis lingkungan yang baru-baru ini viral di media sosial. Ia dikenal sebagai sosok yang gigih dalam melawan kerusakan alam Indonesia, terutama di wilayah Kalimantan. Selama lebih dari sembilan tahun, ia dan organisasi nirlaba miliknya, Kalaweit, mencoba memberikan kritik terhadap pemerintah, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Namun, respons dari pihak pemerintah tidak selalu positif.
Pengakuan Chanee tentang kondisi alam Indonesia menarik perhatian netizen. Ia mengungkapkan bahwa KLHK RI nyaris tidak menerima masukan dari NGO Kalaweit selama sembilan tahun terakhir. Bahkan, pihaknya merasa ditekan dan dilarang mengunggah temuan-temuan kerusakan alam yang dianggap merugikan KLHK. Meski begitu, ia tetap berjuang untuk menjaga kelestarian hutan dan satwa liar.
Terbuka Ruang Diskusi
Meski komunikasi antara Kalaweit dan KLHK selama bertahun-tahun buruk, kini ada harapan baru. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah Indonesia mulai terbuka dengan NGO Kalaweit. Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, bahkan membuka ruang diskusi untuk menerima saran dan kritik terkait kerusakan hutan di Kalimantan. Ini menjadi pertama kalinya Chanee dapat melibatkan langsung seorang menteri dalam pelestarian alam.
Menurut Chanee, langkah ini membawa optimisme, meskipun masih diperlukan dukungan instansi lain seperti polisi untuk mengatasi pembalakan liar. Ia juga menekankan pentingnya peran Presiden RI Prabowo Subianto dalam mengubah arah pembangunan Indonesia ke arah yang lebih ramah lingkungan.
Siapa Sebenarnya Chanee Kalaweit?
Chanee Kalaweit lahir pada tahun 1979 di Fayence, Distrik Var, Perancis Selatan. Nama aslinya adalah Aurelien Francis Brule. Ia memilih nama panggilan "Chanee Kalaweit" karena "Chanee" berarti owa dalam bahasa Thailand, sedangkan "Kalaweit" berasal dari bahasa Dayak di Kalimantan.
Ia datang ke Indonesia pada tahun 1998 untuk menyelamatkan spesies owa. Saat itu, usianya masih 18 tahun. Sejak saat itu, Chanee telah menghabiskan 23 tahun untuk menjaga kelestarian hutan Indonesia. Ia juga mendirikan yayasan Kalaweit untuk melindungi satwa liar yang hidup di hutan.
Menikah dengan Gadis Dayak
Chanee Kalaweit kini menikah dengan Prada, seorang gadis Dayak asal Kalimantan. Mereka sudah menikah selama 12 tahun dan memiliki dua anak, Andrew Kalaweit dan Enzo Kalaweit. Keluarga Chanee tinggal di tengah hutan Kalimantan, tepatnya di Pararawen.
Meski tinggal di tengah hutan, kebutuhan dasar seperti air, listrik, dan internet cukup terpenuhi. Chanee menggunakan tenaga surya untuk energi listrik, sementara Prada suka berkebun dan menanam sayuran untuk kebutuhan sehari-hari.
Pengalaman Berjuang untuk Satwa Liar
Selama 22 tahun berjuang menyelamatkan satwa liar, Chanee menghadapi berbagai ancaman. Salah satunya adalah saat ia membuat video tentang kabut asap yang menyelimuti Kalimantan. Meski tempat tinggalnya jauh dari titik api kebakaran hutan, ia tetap merasakan dampak kabut asap tersebut.
Chanee juga pernah membuat video pada tahun 2015 yang menyampaikan rasa marahnya karena bencana karhutla yang terjadi demi kepentingan industri minyak kelapa sawit. Video tersebut menunjukkan betapa banyak penderitaan yang dialami oleh masyarakat akibat kebakaran hutan.
Kisah Cinta yang Menarik Perhatian
Kisah cinta Chanee dengan Prada juga menarik perhatian. Awalnya, Chanee harus sembunyi-sembunyi karena takut dengan ayah Prada yang dikenal ganas. Namun, setelah enam bulan menjalin hubungan, ia akhirnya berani bertemu dengan ayah Prada. Proses pendekatan ini bukanlah hal mudah, tetapi akhirnya mereka bisa bersatu.
Tinggal di Tengah Hutan Bersama Keluarga
Chanee pertama kali tiba di Indonesia pada tahun 1998. Setelah 20 tahun, ia mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Kini, ia memilih tinggal di tengah hutan bersama istri dan dua anaknya. Rumahnya terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan energi ramah lingkungan serta fasilitas modern seperti komputer dan parabola.
Rumah Chanee juga memiliki dapur mini yang nyaman. Ia dan istrinya menanam berbagai jenis sayur dan buah di pekarangan rumahnya. Meskipun tinggal di tengah hutan, kehidupan mereka terasa nyaman dan harmonis.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar