Profil Ferry Irwandi, YouTuber yang Kumpulkan Donasi Rp10,3 M dalam Sehari untuk Banjir Sumatera

Profil Ferry Irwandi, YouTuber dan Aktivis yang Menggalang Donasi untuk Korban Bencana

Ferry Irwandi, seorang YouTuber dan aktivis asal Jambi, telah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat melalui berbagai inisiatif sosial. Salah satu aksi terbarunya adalah menggalang donasi lebih dari Rp10 miliar untuk korban banjir bandang dan longsor di Sumatera. Aksi ini dilakukan melalui laman Kitabisa dalam waktu singkat, yaitu hanya dalam satu hari.

Ferry Irwandi dikenal sebagai pembuat konten yang aktif membahas isu-isu politik, pendidikan, filsafat, serta fenomena sosial. Ia juga memiliki peran penting dalam memperkenalkan konsep filsafat stoikisme kepada generasi muda Indonesia. Melalui konten-kontennya, ia memberikan wawasan mendalam tentang cara menghadapi tantangan hidup dengan fokus pada kendali diri, pengelolaan ekspektasi, dan menciptakan kebahagiaan internal.

Latar Belakang dan Pendidikan

Ferry Irwandi lahir di Jambi pada 16 Desember 1991. Ia merupakan putra dari pasangan perantau Minangkabau asal Payakumbuh. Ayahnya adalah seorang dosen, sedangkan ibunya bekerja sebagai karyawan. Kehidupan pribadinya juga cukup menarik, karena ia menikahi Muthia Nadhira pada tahun 2015. Pasangan ini memiliki dua anak dan Muthia Nadhira kini sibuk sebagai ibu rumah tangga, pembuat konten, sekaligus penyanyi.

Dalam pendidikannya, Ferry Irwandi menunjukkan ketertarikan pada dunia seni seperti teater dan film sejak SMP. Namun, ia tetap menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Selama kuliah, ia aktif dalam klub teater dan grup film SCENE. Setelah lulus, ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di bagian hubungan masyarakat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebagai videografer.

Namun, setelah bekerja selama 10 tahun, Ferry Irwandi memutuskan untuk mengundurkan diri pada November 2022. Keputusan ini diambil karena ia ingin lebih bebas dari rutinitas kerja sebagai aparatur sipil negara (ASN). Ia beralih profesi menjadi kreator konten dan mulai aktif di YouTube sejak 2010. Konten-kontennya mencakup berbagai topik edukasi, termasuk politik, keuangan, filsafat, dan isu sosial.

Aktivisme dan Kritik terhadap Praktik Digital

Ferry Irwandi dikenal sebagai sosok yang vokal dalam banyak hal. Salah satu isu yang sering ia soroti adalah transparansi dan etika dalam dunia digital. Ia pernah melaporkan influencer yang mempromosikan judi online dan menyoroti praktik-praktik tidak etis seperti fake giveaway dan klaim penghasilan palsu dari konten kreator lain. Sikap kritisnya ini menjadikannya sebagai seorang aktivis.

Ia juga kritis terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto karena melihat berbagai kebijakan dan situasi justru berlawanan dengan janji saat kampanye. Ferry Irwandi menyoroti meningkatnya keterlibatan militer dalam urusan sipil, dari pengelolaan pangan hingga orkestrasi informasi digital, yang menurutnya mengancam demokrasi dan tatanan sipil yang sehat.

Malaka Project: Inisiatif Edukasi untuk Generasi Muda

Bersama kreator konten dan aktivis lainnya, Ferry Irwandi menginisiasi Malaka Project. Malaka Project adalah sebuah platform edukasi digital yang bertujuan untuk memberdayakan generasi muda Indonesia dengan merombak kerangka berpikir mereka agar lebih mengutamakan logika, empati, dan pandangan ilmiah.

Misi utama Malaka Project adalah mendorong masyarakat agar lebih menghargai pendekatan logis dan ilmiah, mendukung keberagaman dan inklusi, serta mendorong kreativitas dan inovasi. Melalui inisiatif edukatifnya, platform ini mempersiapkan generasi muda Indonesia untuk berpikir kritis dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.

Malaka Project memiliki berbagai program dan kegiatan, termasuk diskusi panel, podcast, dan acara langsung, yang melibatkan tokoh-tokoh muda dari berbagai latar belakang seperti akademisi, musisi, dan profesional di bidang lainnya. Saat ini, Malaka Project sedang dalam proses membangun perguruan tinggi atau Institut Malaka, bukan mendirikan kampus secara harfiah, melainkan sebuah "kampus rakyat" yang murah, terbuka, dan berbasis rakyat.

Perguruan tinggi ini akan menjadi pusat pendidikan alternatif dengan kurikulum yang menggabungkan teori kritis, praktik pertanian, seni, dan studi gender, serta akan menampung pengajar dari berbagai latar belakang, termasuk seniman, petani, dan aktivis sosial.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan