
KORAN - PIKIRAN RAKYAT - Kekerasan meletus di Iran pada Kamis 1 Januari 2026, setelah aksi protes yang dimulai pada 28 Desember semakin memanas. Laporan media setempat menyebutkan bahwa sedikitnya lima orang tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan di beberapa wilayah barat dan barat daya Iran.
Dilansir Anadolu, Jumat 2 Januari 2026, Kantor Berita Fars melaporkan, lebih dari 150 orang berkumpul di wilayah Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan melempari gedung-gedung publik dengan batu.
Setelah polisi turun tangan, beberapa demonstran melepaskan tembakan yang melukai sejumlah petugas, hingga dua orang tewas dalam bentrokan tersebut.
Sementara itu, di Provinsi Lorestan, tiga orang tewas dan 17 orang lainnya terluka saat sekelompok perusuh menyerang markas kepolisian di Kota Azna. Para penyerang menggunakan senjata tajam dan api dalam upaya melucuti aparat dan menyerbu gudang senjata, yang memicu bentrokan sengit.
Protes awalnya dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial Iran terhadap mata uang asing serta tekanan ekonomi yang semakin meningkat. Aksi yang dimulai di Grand Bazaar Teheran pada 28 Desember tersebut kemudian meluas ke kota-kota lain di seluruh negeri, dengan masyarakat mengungkapkan ketidakpuasan terhadap pemerintah yang dinilai gagal mengatasi masalah ekonomi.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengakui adanya ketidakpuasan publik dan menegaskan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas persoalan ekonomi yang dihadapi negara saat ini. Ia juga mengimbau pejabat untuk tidak menyalahkan pihak eksternal, seperti Amerika Serikat, atas kondisi tersebut.***
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar