Proyek Upland Kementan Gelar Workshop Kurasi Produk dan Bisnis di Yogyakarta

Proyek Upland Kementan Gelar Workshop Kurasi Produk dan Bisnis di Yogyakarta

Proyek Upland Kementan Gelar Workshop Kurasi Produk dan Temu Bisnis di Yogyakarta

Proyek Upland Kementerian Pertanian (Kementan) akan menggelar Workshop Kurasi Produk dan Temu Bisnis pada 1214 Desember 2025, di Yogyakarta. Acara ini bertujuan untuk memperkuat keterhubungan antara petani dengan pasar serta meningkatkan kualitas produk pertanian dari dataran tinggi.

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Dirjen LIP), Hermanto, menjelaskan bahwa Upland Project menggabungkan kegiatan on-farm dan off-farm agar petani mampu meningkatkan produktivitas sekaligus terkoneksi dengan pasar. "Kita ingin petani di dataran tinggi memiliki usaha yang tangguh dan berkelanjutan, mulai dari budidaya hingga pemasaran," ujarnya.

Fokus Pada Perbaikan Infrastruktur dan Pasca Panen

Kegiatan on-farm difokuskan pada perbaikan infrastruktur pertanian, penyediaan sarana produksi, penerapan praktik budidaya baik, pelatihan, serta modernisasi alat dan mesin. Sementara itu, kegiatan off-farm menyasar penguatan hilir melalui diversifikasi usaha, pengolahan pascapanen, pembentukan korporasi petani, dan perluasan akses pembiayaan mikro serta pasar domestik maupun ekspor.

Program Upland Project didukung oleh Islamic Development Bank (IsDB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD). Tujuannya adalah membangun sistem agribisnis terpadu dari hulu hingga hilir, mencakup produksi, pengolahan, hingga pemasaran.

Cakupan Program yang Luas

Hingga saat ini, proyek ini berjalan di 14 kabupaten dengan melibatkan 82 kecamatan dan 384 desa. Sebanyak 251.981 petani menjadi penerima manfaat, termasuk 78.912 petani perempuan dan 76.893 petani muda. Mereka terhimpun dalam 1.586 kelompok tani, 13 gapoktan, 334 Kelompok Wanita Tani (KWT), dan 44 korporasi petani.

Dana yang dialokasikan sebesar Rp 1,9 triliun hingga 2026 telah digunakan untuk membangun irigasi, embung, jalan usaha tani, gudang, packing house, sarana transportasi pertanian, serta penguatan kelembagaan petani. Termasuk di dalamnya pelatihan, pendampingan, serta program pengarusutamaan gender dan nutrisi bagi keluarga petani untuk menekan angka stunting di wilayah proyek.

Workshop Kurasi Produk dan Temu Bisnis di Yogyakarta

Untuk memperkuat sisi hilir, Proyek Upland Kementan akan menggelar Workshop Kurasi Produk dan Temu Bisnis pada 1214 Desember 2025, di Yogyakarta. "Menurut kami, ini penting untuk melakukan standardisasi produk petani dataran tinggi agar dapat memenuhi kriteria pasar. Selain kurasi, sesi business matching mempertemukan korporasi petani dan KWT dengan calon pembeli atau off taker," katanya.

Project Manager Upland Kementan, Muhammad Ikhwan, menjelaskan bahwa Workshop di Yogyakarta merupakan lanjutan dari kegiatan serupa di Surabaya pada 24 Desember 2025. Di Surabaya, pertemuan bisnis menghasilkan 20 nota kesepahaman dengan melibatkan 27 korporasi petani, terutama produsen bawang merah, bawang putih, kentang, manggis, dan mangga.

Sedangkan di Yogyakarta, sebanyak 14 perusahaan potensial buyer dijadwalkan hadir untuk menjajaki kemitraan. Peserta dari sisi petani terdiri dari 15 korporasi petani asal Garut, Tasikmalaya, Banjarnegara, Purbalingga, Magelang, dan Gorontalo, membawa komoditas kopi, lada, kapulaga, beras organik, dan pisang gapi. Sebanyak 10 KWT turut serta membawa beragam produk olahan.

Harapan Masa Depan Agribisnis Dataran Tinggi

Menutup keterangan persnya, Dirjen Hermanto berharap kemitraan antara korporasi petani, KWT, dan pasar dapat membentuk ekosistem agribisnis dataran tinggi yang tangguh dan berkelanjutan. "Upland Project diharapkan menjadi role model pembangunan pertanian dataran tinggi yang inklusif dan menopang swasembada pangan," jelasnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan