
Kondisi Global yang Tidak Menentu dan Peluang Indonesia
Dunia saat ini sedang menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kompetisi antar negara besar semakin tajam, aliansi global berubah secara dinamis, dan konflik yang sebelumnya bersifat regional kini memiliki potensi untuk meluas. Di tengah situasi ini, ekonomi Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang positif dengan beberapa parameter yang menunjukkan perkembangan yang baik, terutama di sektor perekonomian.
James Riady, Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kombinasi langka yang membedakannya dari negara-negara lain. Kombinasi tersebut mencakup stabilitas politik, kekuatan demografi, sumber daya alam, percepatan digital, serta basis manufaktur yang terus berkembang.
Pada acara 'Kadin Friday Breakfast, Pertemuan Penutup Tahun' yang diselenggarakan di Hotel Aryadutta, Jakarta, James Riady menjelaskan bahwa fokus Presiden Prabowo Subianto pada ketahanan pangan, hilirisasi, kesehatan, pertahanan, serta pembangunan jembatan-seribu-jembatan memberikan arah nasional yang jelas.
Dunia Menjelang Akhir 2025
Menjelang akhir tahun 2025, James Riady menyebutkan bahwa dunia sedang memasuki masa yang sulit dan tidak menentu. Secara geopolitik, era ini merupakan salah satu yang paling tidak terduga dalam beberapa dekade terakhir. Kompetisi antar negara besar semakin tajam, aliansi global bergeser, dan konflik yang dulu bersifat regional kini bisa meluas.
Secara ekonomi, lembaga-lembaga dunia seperti IMF, World Bank, ECB, dan OECD menggambarkan kondisi ekonomi global sebagai melambat, terfragmentasi, dan sedang mengalami transformasi besar. Beberapa masalah utama yang muncul antara lain:
- Perdagangan dunia melemah.
- Rantai pasok direstrukturisasi demi keamanan, bukan lagi sekadar efisiensi.
- Utang publik di banyak negara berada pada puncak tertinggi.
- Perlombaan teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan regulasi mengikutinya. Secara finansial, kerentanan baru muncul.
- Banyak aset berada di posisi rentan karena valuasinya telah naik terlalu cepat dalam beberapa tahun terakhir, sehingga sensitif terhadap kenaikan suku bunga, perlambatan ekonomi, atau koreksi pasar global.
- Sistem perbankan di beberapa negara belum pulih sepenuhnya karena masih membawa tekanan dari kredit bermasalah, kerugian portofolio akibat suku bunga tinggi, dan lemahnya kepercayaan pasar sehingga guncangan kecil pun dapat memperbesar risiko instabilitas keuangan.
- Era suku bunga lebih tinggi untuk lebih lama menjadi tekanan nyata bagi dunia usaha menjelang 2026.
Bagaimana Situasi Global Pada Tahun 2026?
Tahun 2026 akan menjadi tahun pemilu di negara-negara kunci. Mulai dari pemilu sela di Amerika Serikat, pemilu umum di Brasil, pemilu nasional di Bangladesh, hingga pemilu penting di beberapa negara Eropa. Semua ini dapat membawa dampak besar bagi pasar dan stabilitas global.
James Riady menilai 2026 berpotensi menjadi tahun di mana banyak hal dapat berjalan salah. Antara lain, perlambatan ekonomi global yang lebih tajam, proteksionisme dan pembatasan ekspor yang meningkat, ketidakstabilan energi, konflik berkepanjangan dengan dampak ekonomi besar, dan disrupsi teknologi yang melampaui kemampuan adaptasi.
Proyeksi Ekonomi Indonesia Tahun 2026
Di tengah dunia yang tidak menentu, James Riady menilai Indonesia justru tampil berbeda. "Sering kali kita lupa betapa unik dan kuatnya posisi Indonesia dibanding banyak negara lain," katanya.
Pertama, transisi politik Indonesia berjalan stabil. Dari luar, dunia melihat kesinambungan, kejelasan, dan prediktabilitas sesuatu yang semakin langka hari ini.
Kedua, fundamental makro ekonomi Indonesia tetap solid. Inflasi terkendali, disiplin fiskal terjaga, konsumsi domestik kuat, demografi muda dan produktif, serta nilai tukar relatif tangguh dibanding banyak emerging market lain.
Ketiga, Indonesia sedang menjalani dekade infrastruktur terbesar dalam sejarah. Pelabuhan, jalan, kawasan industri, energi, logistik, dan ibu kota baru semuanya meningkatkan daya saing negara secara nyata.
Realistis Namun Tetap Optimis
James Riady mengatakan 2026 tidak akan menjadi tahun yang mudah bagi ekonomi global. "Akan ada badai yang sebagian sudah terlihat, sebagian masih muncul di balik horizon. Namun Indonesia tidak memasuki tahun itu dengan tangan kosong," ujarnya.
Meskipun dunia penuh ketidakpastian, James Riady menilai Indonesia memiliki pengusaha yang tetap membangun, perusahaan yang terus berinvestasi, inovator yang terus mencipta, serta para pemimpin yang tidak mudah patah oleh berita-berita buruk.
"Jika 2025 adalah tahun penyesuaian dan transisi, maka 2026 bisa menjadi tahun antisipasi dan keberanian," katanya.
"Jangan sampai kita menjadi kelompok yang terdiam oleh risiko. Kita harus menjadi komunitas yang bergerak karena peluang," tambahnya.
Kenyataannya, James Riady menyebutkan bahwa dalam setiap masa disrupsi global, Indonesia secara historis selalu muncul lebih kuat asalkan para pemimpinnya tetap tenang, bekerja sama, dan melihat jauh ke depan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar