
Puisi-Puisi Yurgo Purab
Merindukan Hujan
(Air mata langit adalah surat cinta yang menggenangi wajah bumi)
Angin hanya menyampaikan rindu dari bumi kepada langit.
Tentang bibir tanah yang keriput,
Biji jagung yang tak berkecambah,
Sedang panas lagi melumat retak sawah-sawah para petani.
Dan pohon mahoni meluruhkan daun-daunnya,
Merindukanmu.
Seperti merindukan kekasih yang pergi setahun lalu,
Dan tak pernah kembali!
Tak Akan Pernah
(Buat yang pernah ada)
Barangkali kepulangan adalah rasa sakit yang lebih tabah,
Selain air mata dan kehilangan yang sederhana.
Dia telah memilih pergi untuk suatu rasa yang lelah,
Tapi yang melukaimu tak akan pernah memilikimu untuk kedua kalinya!
Doa Pagi
Kepada Kau yang memetik gerimis,
Beri kami secangkir embun,
Sampai nikmat kami renggut
Di dasar hidup yang paling dalam.
Kepada Kau pelabuhan matahari,
Tempat bersandar hati yang remuk,
Beri kami segenggam cahaya
Dan kami nyalakan pada lorong gelap.
Kepada Kau yang hening dalam kabut,
Biarkan kami menyuluh dalam doa,
Agar berjumpa Engkau pada seluruh hari.
Kepada Kau Tuhan, Penjaga pagi,
Kami merunduk rendah, menunduk takzim.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar