
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk menghadapi rencana pengembangan industri yang akan dimulai pada tahun 2026. Rencana ini mencakup 31 industri berbasis modal asing dan 21 industri dalam negeri yang akan melakukan pembangunan pabrik serta kegiatan usaha baru. Dalam hal ini, kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi fokus utama.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Nining Yuliastiani, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap kompetensi SDM yang dibutuhkan oleh setiap industri sesuai dengan kebutuhan masing-masing sektor. Pemetaan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi lembaga pendidikan dalam menyusun kurikulum atau program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Menurut Nining, upaya ini dilakukan karena adanya ketidaksesuaian antara ketersediaan SDM dan kebutuhan tenaga kerja industri. Berdasarkan analisis terhadap potensi industri yang beroperasi dan sedang dalam proses konstruksi di Jawa Barat, ditemukan bahwa industri tersebut membutuhkan kompetensi umum, termasuk kemampuan bahasa Inggris. Di samping itu, beberapa jabatan tertentu juga memerlukan SDM yang mampu berbahasa Mandarin.
Selain itu, SDM yang akan bekerja di industri tersebut harus memiliki soft skills yang kuat. Soft skills yang diperlukan meliputi etika kerja, kemampuan komunikasi yang efektif, kemampuan bekerja dalam tim, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan bernegosiasi, manajemen waktu, serta adaptif terhadap perubahan.
Sementara itu, hard skills juga menjadi faktor penting. Calon tenaga kerja diharapkan memiliki kemampuan matematika dasar, serta penguasaan Microsoft Office untuk jabatan staf. Hal ini menunjukkan bahwa selain keterampilan teknis, keterampilan dasar seperti matematika dan penggunaan software juga sangat diperlukan.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sebelumnya menyampaikan bahwa banyak lulusan sekolah menengah atas dan kejuruan di Jawa Barat yang tidak terserap oleh industri karena kurangnya keterpaduan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Ia menilai bahwa salah satu kelemahan dasar masyarakat Jawa Barat adalah kemampuan matematika yang lemah, sehingga membuat mereka kalah dalam seleksi tenaga kerja.
Dedi Mulyadi menekankan bahwa gambaran bahwa Jawa Barat masih tertinggal dalam sektor pendidikan maupun ekonomi lebih baik diungkapkan secara terbuka, bukan disembunyikan. Menurutnya, dunia pendidikan jangan sampai menjadi kamuflase hanya untuk terlihat baik di mata publik.
“Harus kita ceritakan adalah fakta yang sebenarnya, bukan pembangunan kamuflatif. Kalau pendidikan dasar kita masih bermasalah, katakanlah bermasalah. Kalau ada anak SD belum bisa baca tulis, katakan itu terjadi. Kalau ada kematian ibu dan anak, katakan itu terjadi,” ujarnya.
Langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat menunjukkan komitmen untuk meningkatkan kualitas SDM agar sesuai dengan kebutuhan industri yang berkembang pesat. Dengan pemetaan kompetensi, peningkatan soft skills dan hard skills, serta peningkatan kualitas pendidikan, Jawa Barat berharap mampu bersaing dalam era industri yang semakin dinamis.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar