
Relokasi Warga di TPU Menteng Pulo: Keresahan dan Harapan yang Tak Terpenuhi
Relokasi warga yang tinggal di sekitar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Selatan ke Rumah Susun (Rusun) Jagakarsa menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Meski banyak dari mereka yang pasrah dengan keputusan tersebut, tidak sedikit yang merasa khawatir akan masa depan mereka setelah dipindahkan.
Diketahui bahwa relokasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pengembalian fungsi lahan pemakaman yang kini mengalami krisis. “Makam ini kan untuk orang meninggal, untuk pemakaman. Di mana kita kan memang krisis makam di DKI, butuh makam yang banyak,” ujar Wali Kota Jakarta Selatan, M Anwar, saat meninjau TPU Menteng Pulo.
Dari total 137 keluarga yang tinggal di lahan di sekitar makam, sebanyak 133 KK setuju untuk direlokasi. Dari jumlah tersebut, 105 KK sudah dimobilisasi ke Rusun Jagakarsa menggunakan bus. “Ada 137 KK, 105 KK hari ini kita pindahkan, relokasi ke Rusun Jagakarsa, ya, sedang berjalan,” kata Anwar.
Sementara itu, warga yang tidak setuju diberikan waktu hingga Kamis mendatang sebelum seluruh rumah akan diratakan dengan tanah keesokan harinya, Jumat.
Onah (48), salah satu warga yang awalnya menolak relokasi, menjelaskan bahwa ia dan keluarganya bergantung pada pendapatan dari pemakaman. “Awalnya sih nolak. Semua juga penginnya nolak. Memang kami cari makannya di sini sehari-hari,” katanya.
Setiap hari, Onah membersihkan nisan dan menunggu uluran tangan para pelayat yang datang ke makam. Ia pun sebetulnya tak berharap banyak. Apapun yang diberikan pelayat akan diterimanya. “Kalau di sini kan Ibu nih, enggak punya beras nih, enggak punya buat bekal sekolah. Asal duduk di sini kan nanti ahli waris datang, kami nyapu, dikasih. Bisa buat makan, gitu, bisa buat bekal sekolah,” ujar dia.
Dengan kepindahan yang sudah berada di depan mata, Onah khawatir tak punya pekerjaan lagi. Sebab, jarak TPU Menteng Pulo dan Rusun Jagakarsa yang terlampau jauh. “Harapannya ya paling ya Ibu kerja ya balik lagi ke sini buat nyari makan. Cuma ya ini mikirin ongkosnya ini bolak-baliknya,” tutur dia.
Selain menyandarkan harapannya pada pemakaman, Onah tak punya ide lagi, lantaran usianya dan suami yang sudah melampaui usia produktif kerja. Pelatihan kerja yang disebut-sebut dijanjikan Pemkot Jakarta Selatan pun, menurut Onah, tak bisa menyelesaikan masalahnya. “Ya kalau pelatihan ada, dijanjiin, yang masak, sopir. Tapi kan Bapak enggak punya ijazah, sudah tua, mau kerja apa kalau sudah tua? Bapak kan cuma bisa kerjanya di sini, bersih-bersih makam,” kata dia.
Kisah Mbah Suwardi: Ketenangan di Tengah Makam
Sementara itu, inilah kisah Mbah Suwardi yang selama 19 tahun tinggal di makam dan mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia. Kakek berusia 76 tahun itu tinggal di Pemakaman Tuan Marekan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ia merasa tenang selama tinggal di pemakaman tersebut.
“Tenang, tidak kemrungsung,” ujar Suwardi, Jumat (21/11/2025) sore. Saat ditemui, Suwardi duduk santai sambil menghisap lintingan tembakau di pintu gubuk seng ukuran 1,5 meter persegi. Tatapannya tenang memandang Kali Jajar di tepi makam, seolah menikmati waktu yang terus mengalir.
Sejak selesai membersihkan makam dan memasak, ia duduk di kursi papan yang juga menjadi tempat tidurnya. “Saya setiap hari di sini, tidur juga di sini,” ujarnya. Tempat itu hanya cukup untuk satu orang karena di dalamnya juga terdapat kijing Tuan Marekan, tokoh yang namanya diabadikan untuk pemakaman tersebut.
Warga Desa Cabean itu bercerita, hidupnya dulu normal: punya istri, anak, dan rumah kontrak. Ia bekerja sebagai tukang becak dan kuli bangunan. Namun setelah istrinya meninggal pada 2003, hidupnya berantakan. Puncaknya pada 2006, ia putus asa dan memilih tinggal di makam.
“Tahun 2003 istri saya meninggal, tahun 2006 saya frustasi. Anak jauh di Pacitan, terus tidak bisa ngontrak,” tuturnya. Ia sempat tinggal bersama menantu dan anak perempuannya, tetapi tidak menemukan ketenangan.
Meski begitu, setiap Idul Fitri anaknya tetap datang ke makam untuk bersilaturahmi. “Ya ke sini setahun sekali pas Idul Fitri,” katanya. Suwardi tetap menjaga hubungan dengan keluarga besar. Bila ada hajatan, ia dijemput saudara untuk ikut membantu.
Selama tinggal di makam, kebutuhan makan-minum ia penuhi dari pemberian peziarah setiap Kamis sore—hari yang paling ramai peziarah. Ia tidak pernah meminta, dan tidak memasang kotak amal. “Dari orang ziarah pas Kamis, ada yang 5.000, ada 3.000. Tidak minta,” ungkapnya.
Setiap Kamis ia bisa mengumpulkan sekitar Rp 100.000 untuk membeli beras dan kebutuhan lain yang ia masak sendiri. “Seratus, seratus dua lima… kadang kurang. Kalau buat jajan tidak cukup, makanya saya masak,” ujarnya.
Keseharian Suwardi adalah membersihkan makam atas inisiatif sendiri. Jika ada warga meninggal, ia mendapatkan sebungkus nasi. “Yang gali sudah ada sendiri, saya dikasih nasi sebungkus,” katanya. Suwardi menyerahkan sepenuhnya hari-hari yang tersisa kepada Tuhan. “Saya tidak punya harapan (ke manusia). Mati hidup di sini pasrah. Nanti kalau saya mati di sini juga ada yang mengurus,” ujarnya.
Ia menutup percakapan dengan renungan tentang hubungan manusia. “Ayam di sini, di luar saudara ya bisa musuh. Teman malah bisa jadi saudara,” tutup Suwardi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar