Puncak Inovasi 2025: Membangun Kolaborasi untuk Masa Depan Indonesia

Acara Trend Maker Summit 2025 Menjadi Platform untuk Inovasi dan Kolaborasi


Trend Maker Summit 2025 yang diadakan oleh Katadata Indonesia, OMG Consulting, dan Trendwatching di Jimbaran, Bali, bukan hanya menjadi ajang diskusi mengenai tren masa depan, tetapi juga sebagai wadah untuk memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan Indonesia yang terus berinovasi dan menciptakan nilai tambah. Acara ini bertujuan untuk memperkuat koneksi antara para pemimpin bisnis, kreator, pembuat kebijakan, serta pemikir, sehingga mereka dapat saling bertukar ide, berbagi praktik terbaik, dan menemukan peluang baru.

Chief Operating Officer Katadata Indonesia Ade Wahjudi menyampaikan bahwa acara ini adalah ruang bersama bagi berbagai pihak untuk saling berkolaborasi dan membangun inovasi yang berdampak nyata. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam mendorong kemajuan Indonesia. “Di sini kita merayakan mereka yang sudah memimpin inovasi, sambil mempersiapkan diri untuk kemungkinan baru di depan. Mari kita manfaatkan momen ini untuk memperluas perspektif, memperkuat kreativitas, dan membangun koneksi yang memicu kemajuan yang berarti. Mari kita bekerja sama untuk memastikan bahwa inovasi Indonesia tidak hanya relevan hari ini, tetapi juga mendefinisikan tren di masa depan,” ujarnya saat memberikan kata sambutan.

Pendiri OMG Consulting Yoris Sebastian menjelaskan bahwa melalui acara ini, Indonesia dapat belajar dari tren konsumen global dan memahami tren yang membentuk dunia. Ia menambahkan bahwa Trend Maker Summit akan menjadi jembatan bagi berbagai pihak, termasuk perusahaan swasta, perusahaan negara, merek, dan lembaga pemerintah, untuk bekerja sama. “Contoh yang baik adalah QRIS. Bank Indonesia bekerja sama dengan bank-bank milik negara dan swasta untuk membangun sistem pembayaran QR yang terpadu. Sistem ini menjadi sangat sukses karena membuat pembayaran digital lebih mudah diakses di negara di mana penggunaan kartu kredit relatif rendah. QRIS berkembang pesat bukan karena BI bertindak sendiri, tetapi karena seluruh ekosistem keuangan bergerak bersama,” jelas Yoris.

Riset Katadata Insight Center Disampaikan di Trend Maker Summit 2025


Dalam rangkaian acara Trend Maker Summit 2025, Katadata Insight Center memaparkan hasil riset mengenai perilaku konsumsi kelas menengah di Indonesia, yang merupakan hasil kolaborasi bersama OMG Consulting dan Trend Watching. Temuan riset ini menjadi salah satu sorotan karena mencerminkan perubahan prioritas dan pola pengambilan keputusan konsumen di tengah dinamika ekonomi dan gaya hidup.

Menurut riset Katadata Insight Center, Indonesia Middle Class in Motion: Smarter Choice, Wiser Spending, sebanyak 65,7% responden lebih memilih kualitas produk yang tahan lama dibandingkan harga yang murah. Direktur Eksekutif Katadata Insight Center Fakhridho Susilo menjelaskan bahwa 55,7% responden memilih kegunaan, sedangkan 52,7% memilih manfaat tambahan. “Angka tersebut menunjukkan bahwa kegunaan lebih diutamakan daripada daya tarik harga. Kelompok SES B menonjol di semua kategori yang menunjukkan penekanan yang lebih kuat pada kegunaan, pertimbangan lingkungan, dan nilai uang dibandingkan dengan kelompok lain. Nilai didasarkan pada apa yang tahan lama dan apa yang berfungsi, kegunaan dan ketahanan mendefinisikan nilai yang dirasakan saat ini,” ujar Fakhridho.

Kelas Menengah Indonesia sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Fakhridho menambahkan bahwa riset ini merupakan bagian dari Katadata Indonesia Middle Class Insights (KIMCI) yang akan diluncurkan pada April 2026. Riset ini dilakukan terhadap 463 responden dengan usia 17-59 tahun di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya. Responden yang dipilih adalah perwakilan kelas menengah dengan pengeluaran Rp2-Rp10 juta per kapita per bulan.

Menurut Fakhridho, kelas menengah Indonesia bukan hanya segmen konsumen terbesar (sekitar dua pertiga populasi), tetapi juga denyut nadi perekonomian dan pergeseran gaya hidup negara ini. Masyarakat kelas menengah adalah mesin pertumbuhan Indonesia yang tangguh, adaptif, dan semakin reflektif. “Selama setahun terakhir, mereka menghadapi inflasi, kelebihan digital, dan pergeseran aspirasi, semua hal ini mendorong mereka untuk mempertimbangkan kembali apa yang benar-benar penting: nilai, keseimbangan, dan makna. Saat kelas menengah mendefinisikan ulang cara mereka hidup, berbelanja, dan bercita-cita, mereka juga membentuk kembali seperti apa masa depan Indonesia akan terlihat,” jelas Fakhridho.

Perubahan Prioritas Konsumen dan Kepercayaan terhadap Merek

Dia menjelaskan, pilihan kelas menengah hari ini yaitu apa yang mereka hargai, bagaimana mereka beradaptasi dengan teknologi, dan bagaimana mereka menyeimbangkan keberlanjutan dan kenyamanan adalah sinyal awal dari ekonomi dan budaya negara di masa depan. Fakhridho menambahkan, responden juga lebih menghargai merek yang terbuka dan jujur dibandingkan citra. Hal ini terlihat dari hasil riset di mana 59% responden memilih transparansi dan kejujuran sebagai indikator terkuat. Selain itu, 57% responden memilih produk yang benar-benar memenuhi kebutuhan.

“Tanda-tanda tujuan seperti peduli terhadap isu sosial/lingkungan (37%) dan mendukung komunitas lokal (37%) memperdalam koneksi emosional. Kelompok berpenghasilan tinggi menempatkan makna yang lebih besar pada solusi nyata, tanggung jawab lingkungan, dan narasi yang menginspirasi. Makna tumbuh dari merek yang jujur, berguna, dan benar-benar berkontribusi, bukan yang bergantung pada citra,” jelas Fakhridho.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan