
Sikap Tegas Menteri Keuangan dan Respons Anaknya terhadap Isu Lingkungan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan sikap tegas dalam mengkritisi berbagai peristiwa yang dianggap melenceng dari aturan. Ia dan anak keduanya, Yudo Sadewa, memberikan pernyataan yang cukup keras terkait isu-isu yang sedang marak dibicarakan saat ini.
Peringatan Keras kepada Pengusaha FAME
Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan peringatan keras terhadap pengusaha Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Ia menyesalkan sikap pengusaha yang memprotes kebijakan pemerintah namun justru mengabaikan kewajibannya. Hal ini disampaikan setelah adanya temuan ekspor ilegal produk FAME oleh PT MMS pada awal bulan lalu.
"Kami telah memanggil seluruh pengusaha FAME dari berbagai daerah untuk menjelaskan aturan pemerintah secara tegas," ujar Purbaya di DPR RI, Selasa (9/12/2025).
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menoleransi pelanggaran aturan, terutama terkait kepatuhan pajak dan kepatuhan terhadap eskpor dan impor. "Sekarang sudah kita panggil pengusaha FAME di seluruh Indonesia, ke Jakarta. Kita bilang ke mereka, aturan kita begini, begini, begini," tambahnya.
Purbaya juga menyebut bahwa pemerintah kini memantau seluruh pengusaha yang dinilai kerap membuat kegaduhan termasuk isu ballpress. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata ada pelanggaran pajak didalamnya.
"Jadi setiap ada pelanggaran-pelanggaran itu, kami dapat namanya, termasuk yang sibuk-sibuk, yang ribut-ribut di medsos tentang ballpress. Kami dapat namanya. Kami investigasi pajaknya seperti apa," ucap Purbaya.
Ia menegaskan bahwa banyak dari mereka tidak membayar pajak. "SPT-nya 0-0-0-0 selama 5 tahun berturut-turut, berarti nggak bayar pajak. Ada yang selalu nihil, padahal punya gudang banyak sekali," imbuhnya.
Purbaya menegaskan bahwa jika pengusaha ingin terus berbisnis, mereka harus mematuhi aturan. "Kalau Anda mau berbisnis terus, ikut aturan kami. Kalau enggak, saya hajar dia."
Respons Cerdas Anak Purbaya terhadap Inisiatif Patungan Beli Hutan
Sementara itu, Yudo Sadewa menanggapi inisiasi patungan untuk membeli hutan Indonesia dari kelompok pecinta lingkungan Pandawara Group. Berbeda dari influencer lain yang mendukung ide tersebut, Yudo menilai bahwa inisiatif ini justru akan menambah kekacauan.
"Kalau begini akan jauh lebih chaos lagi. Dikelola pemerintah aja parah. Apalagi dikelola masyarakat?" tulis Yudo, dikutip dari Instagramnya, pada Senin (8/12/2025).
Yudo menilai pengelolaan hutan oleh masyarakat dapat melahirkan pungutin liar (pungli) hingga suap. "Pungli, suap, pemburuan, satwa pasti terjadi. Tau sendiri SDM kita?" tulis Yudo.
Sebelumnya, usulan membeli hutan di Indonesia diunggah melalui akun Pandawara Group di tengah bencana banjir bandang dan longsor di Pulau Sumatra. Unggahan tersebut direspons oleh influencer serta para artis yang ikut memberikan komentar bahkan berniat ikut berdonasi untuk membeli hutan agar tidak dialihfungsikan.
Pandawara Group mengunggah tulisan "Lagi Ngelamun, tiba-tiba aja kepikiran gimana kalo masyarakat Indonesia bersatu berdonasi beli hutan-hutan agar tidak dialihfungsikan." Alasan mereka karena alih fungsi dan deforestasi sudah sangat berlebihan.
[GAMBAR-0]
[GAMBAR-1]
"Menurut informasi sih kayak gini aturannya. Aturan skala menanam sawit di Indonesia meliputi batas luas maksimum lahan (100.000 hektar per perusahaan di seluruh Indonesia dan 20.000 hektar per provinsi) dan luas minimum lahan (minimal 6.000 hektar per perusahaan untuk komoditas sawit). Selain itu, untuk usaha perkebunan dengan luas minimal 25 hektar diwajibkan memiliki izin."
"Gimana guys? apakah alihfungsi yang saat ini ada sudah sesuai dengan aturan yang diatas?" tulis Pandawara Group dikutip Minggu (7/12/2025).
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar