
Penanganan Mobilitas Masyarakat Masih Konvensional
Pakar Transportasi dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada, Dr. Ir. Dewanti, M.S., menilai bahwa pola penanganan mobilitas masyarakat selama periode Nataru maupun mudik Lebaran masih mengandalkan pendekatan konvensional dan reaktif. Ia menilai bahwa strategi yang digunakan saat ini tidak lagi cukup efektif dalam menghadapi lonjakan permintaan perjalanan yang tinggi.
Menurutnya, langkah-langkah seperti pembukaan posko terpadu atau pemberian diskon tarif tol tidak lagi memadai untuk menjawab kebutuhan transportasi yang meningkat secara tajam pada momen tertentu. “Penanganan mobilitas masyarakat yang berlibur di momen Nataru tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola reaktif seperti pembukaan posko atau program diskon tarif tol. Pelaku perjalanan pada periode puncak menunjukkan permintaan sesaat yang sangat tinggi sehingga memicu overkapasitas sarana dan prasarana,” ujar Dewanti.
Strategi Transport Demand Management (TDM)
Dewanti mendorong pemerintah untuk mulai mengoptimalkan penerapan strategi Transport Demand Management (TDM) sebagai upaya mengurangi penumpukan volume kendaraan. Menurutnya, pendekatan TDM harus diarahkan pada pengendalian permintaan perjalanan, bukan sekadar penambahan kapasitas fisik jalan yang memiliki keterbatasan.
Strategi TDM dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain: * Penerapan disinsentif bagi pengguna kendaraan pribadi, seperti pemberlakuan tarif tol dan parkir progresif di titik-titik rawan kemacetan. * Pengaturan waktu perjalanan yang lebih sistematis, misalnya melalui skema cuti bersama yang terdistribusi atau penerapan jam kerja yang lebih fleksibel.
Dengan strategi ini, diharapkan dapat mengurangi beban lalu lintas dan meningkatkan efisiensi transportasi nasional.
Dampak Mudik Gratis Belum Signifikan
Dalam konteks mudik Lebaran, Dewanti juga mengkritisi efektivitas program mudik gratis yang selama ini menjadi salah satu andalan pemerintah. Meskipun program ini telah memberikan kuota sekitar 33 ribu penumpang, ia menilai dampaknya belum signifikan terhadap penurunan penggunaan kendaraan pribadi secara nasional.
“Dalam konteks ini, mudik gratis lebih berfungsi sebagai program simbolik dan bantuan sosial, bukan sebagai instrumen strategis travel demand management,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa rendahnya minat masyarakat terhadap program mudik gratis di sejumlah wilayah tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan kuota. Kondisi tersebut justru menunjukkan adanya persoalan mendasar pada desain program yang belum tepat sasaran.
“Rendahnya minat masyarakat terhadap mudik gratis di beberapa wilayah menunjukkan bahwa persoalan utama tidak terletak pada besaran kuota, melainkan pada desain dan metode pengadaannya,” tegas Dewanti.
Menurut dia, daya saing program mudik gratis masih kalah dibandingkan kendaraan pribadi karena sejumlah faktor krusial, seperti ketidaksesuaian rute dengan pola asal-tujuan penumpang, jadwal keberangkatan yang kaku, serta minimnya integrasi dengan moda transportasi lanjutan. Selain itu, persepsi masyarakat terhadap kenyamanan layanan juga turut menjadi faktor yang membuat program ini kurang kompetitif.
Pengelolaan Mobilitas di Destinasi Wisata
Lebih lanjut, Dewanti menyoroti tantangan pengelolaan mobilitas di destinasi wisata padat seperti Yogyakarta yang diprediksi akan menerima kunjungan sekitar 5,15 juta orang. Ia menekankan pentingnya sinkronisasi peran antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengendalikan arus lalu lintas selama periode puncak.
“Pengendalian lalu lintas daerah harus didukung oleh instrumen pusat, seperti pembatasan kendaraan pribadi berbasis waktu serta integrasi informasi perjalanan secara nasional. Sementara itu, pemerintah daerah berfokus pada manajemen pergerakan internal, termasuk pengaturan akses kawasan wisata, manajemen parkir, dan penguatan angkutan pengumpan seperti shuttle dan angkutan wisata,” jelasnya.
Dengan pembagian peran yang jelas dan sinkron, Dewanti menilai lonjakan wisatawan tidak hanya akan ditangani secara reaktif, tetapi dapat dikelola secara lebih terencana. Upaya tersebut diharapkan mampu menyebarkan beban infrastruktur secara ruang dan waktu, sehingga Yogyakarta tetap dapat berfungsi sebagai destinasi wisata tanpa mengalami kelumpuhan mobilitas.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar