
Rombongan PWKI Berkunjung ke KBRI Roma, Italia
Sebuah van hitam berhentikan di depan bangunan megah di Via Campania 53–55, Roma. Dari dalamnya turun rombongan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) yang disambut hangat oleh seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Italia. Rombongan kemudian diarahkan memasuki gedung yang dikenal memiliki keterkaitan sejarah dengan era Mussolini.
Sesampainya di ruang makan, aroma sop sapi khas Indonesia langsung menyambut. “Silakan langsung saja menyantap hidangan. Sop itu istimewa dan sudah lama menunggu untuk menghangatkan badan,” ujar seorang pria berbadan tegap dan bersuara lantang. Rombongan memilih menyapa terlebih dahulu para tamu yang sudah hadir sebelum mengambil tempat.
Di tengah suhu Roma yang mencapai 4 derajat Celsius, sop buntut Indonesia terasa menjadi penyelamat. Kehangatannya tidak hanya mengusir dingin, tetapi juga mencairkan suasana perjumpaan malam itu. “Makan yang banyak. Ini ada sambal teri ala Medan, cocok sekali untuk sop,” kata tuan rumah, Dubes RI untuk Italia, Prof. Dr. Junimart Girsang, S.H., M.B.A., M.H., M.IP.
Selain hidangan Nusantara, PWKI juga disuguhi Limoncello, minuman tradisional Italia Selatan. “Limoncello harus disimpan di freezer. Disajikan dingin seperti ini sebagai penutup makan dan membantu pencernaan,” jelas Dubes Junimart.
Dubes Junimart, yang resmi menjabat sejak 17 Juni 2025, merupakan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) untuk Italia, merangkap Malta, San Marino, Siprus, serta beberapa organisasi internasional seperti FAO, IFAD, WFP, dan UNIDROIT. Ia diangkat Presiden Prabowo Subianto pada 24 Maret 2025.
Rombongan PWKI dipimpin Ketua Delegasi CF Mayong Suryo Laksono dan Penasihat sekaligus Pendiri PWKI AM Putut Prabantoro. Turut hadir anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar, Nurul Arifin. Dari pihak KBRI hadir antara lain Penasihat Politik Anang Fauzi Firdaus dan Penasihat Protokol/Konsuler Silvia Juliana.
Kasih Itu Menyatukan
Di sela obrolan hangat, Putut Prabantoro menceritakan sosok Dubes Junimart yang selama ini dikenal dekat dengan para biarawan-biarawati dan imam, terutama yang membutuhkan bantuan. “Beliau ini selalu membantu tanpa menolak siapa pun,” ujar Putut.
“Lha kok tahu? Dari mana cerita itu?” tanya Dubes Junimart sambil tersenyum. Putut hanya menjawab singkat, “A-1.”
Ia melanjutkan bahwa perhatian Dubes Junimart kepada para religius dilandasi cinta mendalam kepada sang ibu, Rosdiana T. br Munthe, seorang Katolik tulus yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. “Pak Junimart melakukan semuanya dengan cinta. Kasih yang diwariskan ibunya,” kata Putut.
Junimart Girsang, kelahiran 3 Juni 1963, menegaskan bahwa baginya kasih adalah kekuatan pemersatu. “Seorang pria dan wanita membangun keluarga karena kasih. Termasuk kita malam ini, disatukan di meja makan ini oleh kasih,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa dirinya tidak pernah membeda-bedakan agama. “Kristen Protestan dan Katolik itu satu,” tegasnya. Di KBRI Roma, ia memang memasang banyak simbol cinta dan persatuan: salib, ayat-ayat Al-Qur’an, hingga rencana menghadirkan patung Ir. Soekarno sebagai penghormatan pada sejarah gedung yang dibeli pada masa Presiden Soekarno.
Sebuah Kisah Cinta Seorang Anak
Pertemuan semakin malam ketika rombongan PWKI akhirnya berpamitan menjelang pukul 23.00 waktu setempat. Namun obrolan soal “informasi A-1” masih menyisakan penasaran. Lucius Gora Kunjana, salah satu anggota rombongan, bertanya kepada Putut mengenai sumber kisah tersebut.
Putut kemudian mengungkap bahwa cerita itu disampaikan oleh Hermawi F. Taslim, Sekjen Partai Nasdem, saat mereka berbincang ketika sarapan di Alam Sutera, Tangerang. Kisah mengenai cinta seorang anak kepada ibunya itu menjadi gambaran betapa Dubes Junimart menjalankan pelayanan sosialnya secara tulus tanpa pernah mencari publikasi.
Kisah itu, seperti cinta itu sendiri, menjadi rahasia yang lebih tepat dirayakan daripada diteriakkan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar