Bunga yang Tidak Biasa dan Menarik Perhatian Ilmuwan
Bunga Rafflesia, dengan sifat parasitnya dan aromanya yang tidak sedap, telah membangkitkan rasa ingin tahu ilmuwan sejak pertama kali ditemukan pada akhir abad ke-18. Melihat bunga Rafflesia seperti melihat ke dalam teropong waktu menuju bumi jutaan tahun lalu. Kini, bunga ini dikagumi banyak orang dan menjadi fokus konservasi.
Bersama melati putih dan anggrek bulan, Rafflesia arnoldii menjadi bunga nasional Indonesia. Ia juga ditetapkan sebagai puspa langka, yakni spesies langka yang mewakili flora langka di Indonesia. Di dunia internasional, Rafflesia menjadi lambang kelangkaan berbagai jenis flora. Begitu dicintainya Rafflesia, bagaimana nasibnya di alam liar? Apakah Rafflesia terancam punah di tengah ganasnya penebangan hutan dan konservasi lahan di Indonesia?
Puspa Langka yang Gak Biasa

Rafflesia dikenal karena banyak hal. Utamanya, ia dikenal sebagai tumbuhan berbunga yang bersifat parasit. Alih-alih memiliki daun, batang, dan akar layaknya tumbuhan lain, Rafflesia hanya berupa untaian jaringan seluler mirip benang yang hidup di dalam jaringan tanaman inang. Keberadaannya baru bisa diamati kalau kuncupnya mulai tumbuh.
Kuncup Rafflesia yang mirip kubis ini perlu waktu berbulan-bulan lamanya untuk mekar. Hasilnya adalah bunga raksasa berkelopak lebar yang kita kenal. Diungkapkan laman Britannica, bunga Rafflesia bisa tumbuh selebar satu meter dengan berat 11 kilogram. Warnanya merah mencolok agak kecokelatan/keunguan mirip seperti daging membusuk. Baunya pun mirip daging membusuk atau bangkai yang membuat orang menyebutnya 'bunga bangkai.'
Cuma Segelintir Spesies yang Terdokumentasi

Rafflesia hanya bisa ditemukan di hutan hujan Asia Tenggara. Sebagian besar spesiesnya hidup di Indonesia, tepatnya di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Indonesia bahkan disebut-sebut sebagai pusat keragaman Rafflesia terbesar di Asia Tenggara.
Rafflesia arnoldii merupakan spesies Rafflesia yang paling banyak dikenal. Spesies ini merupakan yang terbesar, bahkan mendapat gelar bunga tunggal terbesar di dunia. Begitu ikonisnya R. arnoldii, ia jadi salah satu bunga nasional Indonesia dan lambang kelangkaan flora dunia.
Namun, R. arnoldii bukan satu-satunya spesies Rafflesia. Ada 42 spesies Rafflesia yang diakui oleh organisasi internasional Royal Botanic Gardens Kew. R. arnoldii, R. patma, R. bengkuluensis, dan R. zollingeriana adalah spesies Rafflesia yang paling terdokumentasi dengan baik di Indonesia. Dikarenakan banyak dikenal, seringkali spesies-spesies inilah yang jadi fokus konservasi.
Apakah Rafflesia Terancam Punah?

Lantas, apakah Rafflesia terancam punah? Ya, sebuah studi yang dilansir jurnal Plants, People, Planet pada 2023 lalu mengungkap kalau sebagian besar spesies Rafflesia terancam kepunahan. Studi ini merupakan penelitian global pertama yang menilai ancaman-ancaman yang dihadapi Rafflesia.
Meski dikenal meluas secara internasional, ternyata cuma satu spesies Rafflesia yang telah dinilai secara resmi dan dilindungi oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Spesies ini adalah Rafflesia magnifica. Dalam Daftar Merah IUCN, bunga Rafflesia dari Filipina ini tercatat sebagai spesies dengan status konservasi tingkat parah, yakni kritis terancam punah (critically endangered).
Di alam liar, tim peneliti mewanti-wanti kalau sebagian besar Rafflesia sebenarnya memiliki nasib serupa. Tim memperkirakan 60 persen spesies Rafflesia terancam kepunahan yang parah, setara dengan status kritis terancam punah menurut IUCN. Setidaknya 67 persen habitat Rafflesia berada di luar kawasan lindung, sebuah faktor yang makin memperburuk kerentanan Rafflesia.
Chris Thorogood, ahli botani sekaligus wakil direktur Kebun Raya Oxford yang menjadi salah satu penulis studi mengungkap hal-hal yang mengancam Rafflesia. Semua spesies Rafflesia menghadapi risiko kepunahan serius akibat penggundulan hutan secara besar-besaran untuk ekstraksi kayu dan konversi menjadi perkebunan kelapa sawit dan tanaman monokultur lainnya. Kelangsungan hidup Rafflesia di masa depan bergantung pada upaya meyakinkan pemilik lahan untuk melindungi tanaman langka ini, terangnya pada laman Forbes.
Upaya Konservasi Menghadapi Banyak Tantangan

Di satu sisi, Indonesia merupakan pusat keragaman Rafflesia. Di sisi lain, Indonesia juga penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Perluasan perkebunan di Sumatra telah merusak sebagian besar hutan hujan dan mengancam spesies-spesies yang hidup di dalamnya. Meski belum terdaftar dalam Daftar Merah IUCN, setidaknya Rafflesia tergolong flora yang dilindungi hukum di Indonesia.
Meski populer dan ramai dukungan konservasi, Rafflesia sebenarnya genus tumbuhan yang sangat misterius. Sebagian besar masa hidupnya yang tersembunyi di dalam tanaman inang membuat tanaman langka ini sulit dipelajari dan dipahami dengan baik. Rafflesia juga terbukti sangat sulit dibudidayakan yang makin menghalangi upaya konservasi.
Setiap tahunnya spesies-spesies baru Rafflesia terus ditemukan dan dideskripsikan. Besar kemungkinan ada spesies Rafflesia di luar sana yang belum diketahui keberadaannya oleh sains, tapi nasibnya sudah di ujung tanduk kepunahan akibat penebangan hutan dan alih fungsi lahan. Segala upaya dan dukungan konservasi tak akan membuahkan hasil bila pihak-pihak yang lebih berkuasa tidak turut andil dalam melindungi tanaman langka ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar