Rais Aam PBNU Gelar Pleno Lanjutan Sebelum Muktamar


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar rapat pleno lanjutan untuk menindaklanjuti hasil pleno yang digelar di Hotel Sultan pada 9 Desember lalu. Hal ini disampaikan oleh Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, sehari setelah ia disebut sepakat islah dengan Ketua Umum Yahya Cholil Staquf.

Salah satu keputusan dari pleno di Hotel Sultan adalah penunjukan Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU. Jabatan ini akan diemban oleh Zulfa hingga pelaksanaan Muktamar ke-35. Pleno lanjutan akan digelar sebelum Muktamar ke-35, namun Miftachul Akhyar belum memastikan kapan agenda tersebut akan dilaksanakan.

Dia membuka kemungkinan bahwa rapat pleno berikutnya bisa kembali mengubah struktur organisasi kepengurusan PBNU. "Hasil pleno (di Hotel Sultan) belum diralat. Nanti menanti pleno (yang akan datang)," ujar dia saat ditemui usai menghadiri doa bersama NU di Masjid Raya K.H Hasyim Asy'ari, Jakarta Barat pada Jumat malam, 26 Desember 2025.

Miftachul Akhyar menyatakan telah berkomunikasi dengan Yahya Cholil Staquf terkait struktur kepengurusan di PBNU. Ia meminta Yahya tidak tersinggung terhadap hasil pleno yang menetapkan Zulfa Mustofa sebagai penggantinya di posisi ketua umum.

Menurut dia, pleno lanjutan akan menghasilkan sejumlah ketetapan untuk organisasi PBNU. Namun, ia tidak menjelaskan secara detail apa saja yang akan menjadi pembahasan dalam rapat pleno tersebut.

"Pleno itu lembaga keputusan tertinggi di antara muktamar dan forum lainnya. Kalau semua (ketetapan) dibawa ke Muktamar, lama, berapa tahun nanti," ucap Miftachul Akhyar.

PBNU sedang bersiap menggelar Muktamar ke-35. Keputusan ini diambil setelah Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf bertemu dengan Rais Aam Miftachul Akhyar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur pada Kamis, 25 Desember 2025.

Pertemuan keduanya difasilitasi oleh dewan penasihat dan para kiai sepuh PBNU. Salah satu dewan penasihat atau mustasyar yang hadir dalam pertemuan internal tersebut adalah mantan wakil presiden, Ma'ruf Amin.

Para sesepuh dan mustasyar berinisiatif mencari cara agar konflik internal di PBNU dapat diselesaikan sebaik mungkin. Mereka mengagendakan sejumlah pertemuan di beberapa pesantren seperti di Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, Pesantren Tebuireng Jombang, hingga pertemuan di Pesantren Lirboyo.

Dalam pertemuan terakhir, para sepuh dan dewan penasihat PBNU menggelar musyawarah kubro, yang menghasilkan rekomendasi islah antara Gus Yahya dan Rais Aam, serta rekomendasi pelaksanaan muktamar bersama. Empat hari setelah rekomendasi dari hasil musyawarah kubro itu diumumkan, Gus Yahya bertemu dengan Rais Aam Miftachul Akhyar.

Dalam pertemuan di Lirboyo pada 25 Desember itu, Yahya mengatakan telah tercapai islah yang ia sepakati bersama Rais Aam Miftachul Akhyar. "Kesepakatan ini akan segera kami tindak lanjuti dengan pembentukan panitia muktamar," kata Yahya.

Di sisi lain, Katib Aam PBNU Muhammad Nuh mengatakan Rais Aam Miftachul Akhyar sudah memaafkan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Hal ini merujuk pada tindakan Yahya yang menghadirkan peneliti pro-Israel, Peter Berkowitz, sebagai narasumber dalam acara Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama di Jakarta, pada 15-16 Agustus 2025.

"Rais Aam dan Wakil Rais Aam juga menyampaikan sikap kebesaran jiwa dengan memberikan maaf atas permohonan maaf Ketua Umum PBNU," kata Nuh dalam keterangan tertulis, pada Kamis, 25 Desember 2025.

Menurut Nuh, pemberian maaf dari jajaran Syuriyah kepada Yahya Cholil Staquf merupakan tradisi NU yang mengedepankan akhlak, tabayun, dan penyelesaian masalah secara bijaksana. Keputusan untuk memaafkan kesalahan Yahya, kata dia, juga datang dari kebutuhan keberlangsungan organisasi.

“Semangat yang dibangun adalah kebersamaan dan menjaga keutuhan organisasi,” ujar Nuh.

Dian Rahma berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan