
JAKARTA, nurulamin.pro - Perusahaan tambang asal Australia, Rio Tinto, sedang melakukan pembicaraan tahap awal untuk mengakuisisi Glencore, perusahaan perdagangan dan pertambangan asal Swiss.
Jika kesepakatan berhasil, maka berpotensi melahirkan perusahaan tambang terbesar di dunia dengan nilai kapitalisasi pasar hampir 207 miliar dollar AS atau Rp 3.486,5 triliun (asumsi kurs Rp 16.843 per dollar AS)
Mengutip Reuters, Senin (12/1/2026), kedua perusahaan mengonfirmasi adanya pembicaraan tersebut, meski belum merinci skema penggabungan, termasuk aset apa saja yang akan masuk dalam transaksi.
Rio Tinto dan Glencore memasuki pembicaraan kedua dalam setahun terakhir terkait merger ini. Sebelumnya Glencore telah mendekati Rio Tinto pada akhir 2024, namun saat itu tak tercapai kesepakatan.
Dalam pembicaraan terbaru, skema transaksi yang dibahas berpotensi berupa pembelian seluruh atau sebagian saham Glencore oleh Rio Tinto.
Namun, keduanya tidak mengungkapkan apakah akan ada premi akuisisi atau siapa yang akan memimpin entitas hasil penggabungan jika kesepakatan tersebut terealisasi.
"Struktur kemungkinan penggabungan antara kedua perusahaan ini tidak jelas dan kemungkinan akan kompleks, tetapi kami percaya ada jalan menuju penciptaan nilai yang signifikan bagi keduanya," tulis analis Jefferies.
Jika terealisasi, maka kesepakatan ini akan menjadi merger terbesar dalam sejarah industri pertambangan global.
Langkah Rio Tinto dan Glencore mencerminkan tren konsolidasi di sektor tambang.
Para raksasa pertambangan global berlomba memperbesar skala bisnis komoditas strategis seperti tembaga, yang permintaannya diproyeksi meningkat seiring adanya transisi energi dan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Saat ini, Rio Tinto merupakan produsen bijih besi terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar sekitar 142 miliar dollar AS. Sementara itu, Glencore, yang dikenal sebagai salah satu produsen logam dasar terbesar dunia, memiliki nilai pasar sekitar 65 miliar dollar AS.
Pasar merespons kabar ini secara beragam. Saham Glencore yang tercatat di Amerika Serikat (AS) melonjak sekitar 6 persen setelah pembicaraan dikonfirmasi.
Sebaliknya, saham Rio Tinto di Bursa Australia justru turun 6,3 persen, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi risiko dan valuasi akuisisi.
"Investor tampaknya tidak puas. Ada kekhawatiran Rio Tinto akan membayar terlalu mahal," kata Chief Investment Officer Atlas Funds Management, Hugh Dive.
Rio Tinto dan Glencore sama-sama mengalihkan fokus mereka ke tembaga, komoditas yang permintaannya tinggi seiring dunia mengadopsi energi yang lebih ramah lingkungan dan meningkatnya penggunaan pusat data yang boros listrik untuk AI.
Menurut S&P Global, permintaan tembaga global memang diperkirakan naik 50 persen pada 2040. Namun pasokannya akan kekurangan lebih dari 10 juta metrik ton per tahun jika tidak ada peningkatan daur ulang dan kegiatan penambangan baru.
Seiring dengan saham Glencore dan Rio Tinto juga terdaftar di Bursa London, menurut aturan pengambilalihan di Inggris, Rio Tinto memiliki waktu hingga 5 Februari 2026 untuk mengajukan penawaran resmi atau menyatakan tidak melanjutkan proses tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar