Rasa sakit Evia Maria sebelum ditemukan tewas di kos, akui jadi korban pelecehan dosen

Kematian Evia Maria: Curhatan dan Dugaan Pelecehan Seksual oleh Oknum Dosen

Evia Maria (21), seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) Universitas Manado (Unima), ditemukan tewas secara tidak wajar di kosnya di Tomohon setelah sebelumnya mengaku mengalami dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen. Kejadian ini memicu kehebohan di Sulawesi Utara, terutama setelah ditemukannya surat yang ditujukan kepada Dekan FIPP Unima terkait dugaan tersebut.

Sahabat dekat almarhumah, Nadia, mengungkapkan bahwa Evia sempat curhat tentang pengalamannya yang menyedihkan. Menurut Nadia, Evia sering menyampaikan keluhannya melalui percakapan atau pesan singkat. Ia juga pernah menunjukkan pesan tidak pantas yang diterimanya dari oknum dosen tersebut.

Evia dan Nadia bersekolah di SMK Negeri 1 Siau Timur, Jurusan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP). Mereka berteman sejak tahun 2019 dan hubungan mereka sangat dekat, seperti saudara kandung. Meski tinggal di daerah berbeda—Evia tinggal di kos di Tomohon, sementara Nadia di Manado—komunikasi keduanya tetap intens.

Nadia mengungkapkan bahwa Evia sering bercerita tentang dugaan pelecehan yang dialaminya. Salah satu sosok yang disebutkan dalam curhatannya adalah salah satu oknum dosen di Unima. Beberapa waktu sebelum meninggal, Evia mendatangi kos Nadia untuk bercerita. Saat itu, ia juga membawa rencana foto studio seperti foto kelulusan SMA.

“Waktu di kos, dia tiba-tiba curhat sambil menangis. Dia cerita tentang dosen yang diduga melecehkannya,” kata Nadia saat diwawancarai di akun Facebooknya.

Evia juga pernah menyampaikan bahwa dirinya telah menerima perlakuan tidak pantas melalui pesan langsung (DM) dari dosen yang bersangkutan. Bahkan, ia sempat mengirimkan pesan suara (voice note) kepada Nadia, mengaku telah melaporkan dugaan pelecehan itu kepada Wakil Dekan III (WD III).

“Almarhumah bilang sudah lapor ke WD III soal pesan DM dan perlakuan dosen itu,” ujar Nadia.

Pada 15 Desember, bertepatan dengan ulang tahun Nadia, Evia kembali mencurahkan ketakutannya. Ia meminta pendapat Nadia karena merasa tertekan dan takut dengan sikap dosen tersebut.

“Saya bilang ke dia, lebih baik lapor saja. Kalau tidak, takutnya dosen itu bisa bertindak seenaknya lagi ke mahasiswa lain,” ujar Nadia.

Lanjut Nadia, pada keesokan harinya, Evia mengabarkan bahwa ia telah resmi melaporkan dugaan pelecehan seksual tersebut secara lisan kepada WD III. Menurut cerita Evia, pihak WD III kemudian menyarankan agar laporan tersebut dituangkan dalam bentuk surat pernyataan tertulis dan dilanjutkan ke pihak pusat atau pimpinan kampus.

Selain curhat soal dugaan pelecehan, Nadia juga mengenang Evia sebagai sosok yang ceria dan memiliki mimpi besar. Salah satu cita-cita Evia yang sering ia ceritakan adalah keinginannya untuk menjadi pramugari.

“Dia sering bilang sebenarnya dia sangat ingin jadi pramugari,” katanya.

Kabar kematian Evia Maria membuat warga Sulut heboh. Terlebih ditemukannya surat yang ditujukan kepada Dekan FIPP Unima terkait adanya dugaan pelecehan yang dilakukan oleh oknum dosen Unima inisial DM. Kasus ini memicu pertanyaan besar tentang proses penanganan laporan serta tanggung jawab pihak kampus dalam menjaga keamanan dan kenyamanan para mahasiswa.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan