Ratusan Warga Aceh Timur Serbu SPBU Diduga Timbun BBM

Ratusan Warga Aceh Timur Serbu SPBU Diduga Timbun BBM

Warga Aceh Timur Protes Keras SPBU Akibat Kekurangan BBM

Ratusan warga korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Timur mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) setelah petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menolak menjual BBM dengan alasan stok kosong. Kejadian ini memicu protes keras dari masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil, terutama karena kondisi darurat akibat bencana alam.

Banyak desakan dan tekanan dari warga membuat petugas SPBU akhirnya membuka tangki penampungan. Hasilnya, stok BBM ternyata masih tersedia dalam jumlah yang cukup besar. Hal ini menimbulkan kemarahan warga yang merasa ditipu oleh pihak SPBU. "Segini stok minyak kalian bilang tidak ada, bohong semua kalian kepada masyarakat," ujar salah satu warga dalam aksi protes tersebut. Mereka juga mengancam akan mengamuk jika penyaluran BBM tidak segera dibuka.

Pelayanan BBM kembali dibuka dengan pembatasan kuota. Bagi pengguna sepeda motor, diberikan batas Rp 30 ribu, sementara warga yang menggunakan botol aqua diberikan kuota Rp 15 ribu. Meskipun situasi sudah lebih tenang, warga tetap berharap agar para pengusaha tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil keuntungan dari masyarakat yang sedang dalam kondisi sulit.

Antrean Panjang di SPBU Harapan

Di wilayah Langsa, keadaan semakin memprihatinkan. Hanya SPBU Harapan yang masih memiliki stok BBM jenis pertalite dan pertamax. Sementara itu, sejumlah SPBU lainnya seperti di Jalan Medan-Banda Aceh Gampong Matang Seulimeng, SPBU Sungai Lueng, SPBU Dua Dara, dan SPBU Alue Dua telah habis stoknya sejak Ahad (30/11/2025).

Untuk mendapatkan BBM, masyarakat khususnya pemilik mobil dan sebagian sepeda motor, rela menginap di sekitar SPBU Harapan yang berada di Jalan A Yani, kawasan Pusat Kota Langsa. Antrean panjang bahkan mencapai jarak lebih dari 1 km. Beberapa warga luar daerah yang melintas juga harus menunggu hingga pagi hari karena stok BBM di kendaraan mereka nyaris habis.

Warga lokal serta beberapa dari Aceh Tamiang dan Aceh Timur datang sebelum waktu shalat subuh dan usai shalat subuh untuk mengantre. Mereka ingin memperoleh BBM yang langka setelah banjir melanda Kota Langsa dan daerah sekitarnya. Sepeda motor dijatah pertalite antara Rp 20 ribu hingga 30 ribu, sementara warga yang membeli dengan botol mineral diberikan kuota Rp 15 ribu. Namun, kuota untuk mobil belum diketahui secara pasti.

Kondisi BBM di Aceh Timur Masih Terbatas

Hingga saat ini, stok BBM di Aceh Timur masih terbatas. Banyak SPBU tidak memiliki bahan bakar, sementara beberapa SPBU lainnya dipadati masyarakat hingga antrean mencapai ratusan meter. Situasi ini menunjukkan bahwa kebutuhan BBM sangat mendesak, terutama bagi warga yang membutuhkan transportasi untuk keperluan evakuasi atau aktivitas sehari-hari.

Warga berharap agar para pengusaha dan penjual minyak tidak mengambil keuntungan dari situasi darurat ini. Mereka meminta agar ketersediaan bahan pokok, termasuk BBM, tidak ditimbun saat kondisi seperti ini. Dengan demikian, masyarakat bisa mendapatkan akses yang lebih adil dan merata terhadap kebutuhan vital mereka.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan